• Print
close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

AL BAGHYU (KEZALIMAN)

Tajuk Rasil
Selasa, 12 Maret 2019

Salah satu tindakan yang haram di dalam Islam adalah melakukan tindakan zalim dan melampaui batas. Dalam bahasa Nabi Muhammad SAW, tindakan demikian dinamakan dengan al-baghyu. Al-Baghyu (bentuk masdar) berasal dari kata: bagha–yabghi, yang berarti “menghendaki”. Dalam perkembangannya, kata ini sering digunakan untuk makna yang negatif; kadang-kadang diartikan durhaka, melanggar hak, permusuhan, penganiayaan atau pelacuran.

Dalam Alquran kata al-baghyu diulang sebanyak 11 kali, dengan arti yang berbeda-beda, sesuai dengan konteksnya. Kata al-baghyu dapat diartikan negatif, misalnya, pada surat Al-Baqarah ayat 90, An-Nisaa ayat 19, dapat diartikan: penganiayaan atau perzinaan. Pada surat Hud ayat 23, dapat diartikan “durhaka”, pada surat Al-An’am dapat diartikan “dosa”.

Dalam arti negatif, al-baghyu sering dimaknai sebagai tindakan zalim atau melampui batas. Sebagaimana penjelasan Ustaz Husein Alatas dalam siaran renungan Alquran nya kemarin, Al-Baghyu dikaitkan dengan sikap atau tindakan lalim terhadap orang lain. Salah satu sikap yang dimiliki oleh kaum jahiliyah.

Al-Baghyu (kezaliman) bisa saja menyangkut badan, jiwa atau nyawa seseorang, yakni berupa tindakan menyakiti orang lain baik secara psikis (misal: melalui kata-kata yang penuh cacian dan penghinaan) maupun fisik (seperti: pemukulan, penyiksaan, pemerkosaan ataupun pembunuhan tanpa alasan yang dibenarkan). Seorang suami yang mencaci-maki dan menghinakan istrinya, apalagi sampai memukulnya tanpa alasan yang dibenarkan, misalnya, jelas telah melakukan tindakan al-baghyu (zalim). Demikian pula seorang anak yang durhaka terhadap kedua orangtuanya, baik dengan ucapan maupun tindakan.

Al-Baghyu (kezaliman) juga bisa menyangkut harta seseorang, yakni berupa tindakan mencuri, merampas, atau merampok harta orang lain. Al-Baghyu (kezaliman) juga bisa terjadi saat seseorang tidak memenuhi kewajibannya terhadap orang lain.

Al-Baghyu (kezaliman) juga bisa dilakukan oleh penguasa terhadap rakyat. Penguasa yang menelantarkan rakyatnya, tidak mengurus rakyatnya dengan sungguh-sungguh, tidak memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya, atau membiarkan rakyatnya banyak yang miskin, jelas adalah penguasa yang lalim. Apalagi jika ia merampas hak-hak rakyatnya, seperti menjual sumberdaya alam milik rakyat kepada pihak swasta atau asing. Semua ini merupakan kezaliman yang nyata.

Di luar itu, al-baghyu juga identik dengan sikap memberontak terhadap penguasa (imam/khalifah) yang sah, yang juga terlarang di dalam Islam, yang sering dikenal dengan istilah bughat. Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Wahai kaum Muslim, berhati-hatilah kalian terhadap tindakan zalim (al-baghyu) karena sesungguhnya tidak ada hukuman yang lebih cepat datangnya kecuali hukuman atas tindakan zalim.”

Al-Baghyu (kezaliman) ini termasuk dosa yang tidak bisa dianggap ringan. Sebabnya, banyak nash yang menegaskan tentang balasan yang keras bagi para pelaku tindakan zalim tersebut. Bahkan balasan keras yang berupa hukuman dari Allah SWT tidak hanya akan dirasakan oleh pelakunya di akhirat saja, tetapi juga akan dia rasakan akibatnya di dunia.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, Abu Bakrah r.a menuturkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Tidak ada dosa yang lebih utama untuk disegerakan azabnya oleh Allah SWT atas pelakunya di dunia—sementara di akhirat ia akan tetap diazab—daripada memutuskan silaturahmi dan bertindak zalim (al-baghyu).” Dalam hadits ini, tindakan zalim disetarakan dosanya dengan dosa memutuskan silaturahmi, yang juga merupakan dosa yang tidak bisa dianggap ringan.

Al-Baghyu (kezaliman) juga merupakan salah satu dosa di antara banyak dosa yang mesti diwaspadai berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Baginda Rasulullah SAW. Dalam hal ini, Abu Hurairah ra berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya umatku bakal ditimpa penyakit sosial.’ Para sahabat bertanya, ‘Apa itu penyakit sosial?” Beliau bersabda, ‘Keburukan, kesombongan, saling membanggakan diri, saling bersaing meraih dunia, saling membenci, saling iri-dengki hingga saling menzalimi (al-baghyu) serta membuat kerusuhan dan pembunuhan.’” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).

Semoga kita bisa menghindari segala bentuk kezaliman terhadap orang lain supaya kita terhindar dari hukuman Allah SWT yang amat cepat kedatangannya.

Wallahu’alam

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page