close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

BELAJAR DARI PUASANYA MARYAM

Tajuk Rasil
Senin, 13 Mei 2019

Belajar Dari Puasanya Maryam

Adalah Abu Hamid al-Ghazali, sang ulama Sunni terkenal yang menjelaskan level-level seseorang dalam berpuasa. Menurut Imam al-Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulumiddin, tingkatan puasa diklasifikasi menjadi tiga, yaitu puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus yang lebih khusus lagi.

Puasa umum adalah tingkatan yang paling rendah yaitu menahan dari makan, minum dan jima’. Puasa khusus, di samping menahan yang tiga hal tadi juga memelihara seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat atau tercela. Sedangkan puasa khusus yang lebih khusus adalah puasa hati dari segala kehendak hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya memikirkan apa-apa yang selain Allah SWT.

Puasa level ketiga tadi adalah puasanya para nabi-nabi, shiddiqin, dan muqarrabin. Sedangkan puasa level kedua adalah puasanya orang-orang salih – puasa tingkat ini yang seharusnya kita tuju untuk mencapainya. Dan dari puasa tingkatan ini, bisa mencapai derajat taqwa yang juga menimbulkan jiwa peduli terhadap lingkungan keluarga dan bangsa.

Ikhwan Akhwat ,,
Di antara begitu banyak tokoh Muslim atau ulama di tanah air, nasihat-nasihatnya Emha Ainun Najib tentang kondisi umat dan bangsa begitu menginspirasi. Sebut saja satu pesan tokoh yang biasa dipanggil dengan sapaan akrabnya ‘Cak Nun’, adalah dalam konteks Ramadhan.

Beliau berkata mengenai Sang Khaliq, “Bukankah Ia sangat menahan diri? Tetap memperkenankan kita berbadan sehat, bernapas dan bergerak? Bukankah Ia sangat menahan diri, dengan tetap menerbitkan matahari, mengalirkan air dan menghembuskan angin, seolah-olah tidak peduli betapa malingnya kita, betapa munafik dan kufurnya kehidupan kita?”

Ada satu dasar tersirat dari kata-kata di atas. Dalam mengamati suatu fenomena sosial, seseorang mestinya tidak melupakan Allah SWT. Zikir hendaknya selalu menjadi pusat gravitasi akal-budi, sesuatu yang amat penting bagi ilmuwan. Dengan berzikir, seorang insan yang beriman dapat merenungi sifat-sifat Allah sehingga meniru akhlak-Nya dalam setiap langkah kehidupan.

Allah SWT dengan sifat-Nya an-Naafi’ (Yang Maha Memberi Manfaat ) masih memberikan kesehatan jasmani, kelancaran sirkulasi nafas, dan metabolisme fisik yang bagus kepada diri kita. Alhamdulillah. Namun demikian, bisa saja suatu ketika Dia menunjukkan sifat adh-Dhaar (Yang Maha Memberi Kemudaratan ) kepada kita. Maka dari itu, seseorang dan utamanya kaum Muslimin seyogianya betul-betul mawas diri.

Misalnya, dalam hal menunaikan amanah. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya.” Levelnya memang berbeda-beda. Namun, sifat amanah tetap harus dimiliki agar bisa mawas diri.

Seorang suami, harus amanah. Seorang ayah, harus amanah. Seorang kepala perusahaan, harus amanah. Seorang kepala komisi publik, harus amanah. Apalagi, bila levelnya sampai seorang kepala negara, juga mesti amanah. Keroposnya akhlak seorang pemimpin bisa berimbas pada mereka yang dipimpin. Ibaratnya, busuknya ikan itu dimulai dari kepala, bukan sirip atau ekornya.

Sekarang menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya kita umat Islam wajib berpuasa. Inti ibadah itu adalah “menahan diri.” Secara fikih, berpuasa itu menahan diri tidak hanya dari hal-hal yang diharamkan, tetapi juga beberapa yang dimubahkan, yakni sejak fajar hingga terbenamnya matahari selama Ramadhan.

Puasa itu shaum. Alquran surah Maryam ayat 26 memakai istilah ini ketika mengisahkan tentang Maryam binti Imran. Sesudah melahirkan Nabi Isa AS, perempuan mulia itu diimbau malaikat Jibril: “Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (shauman) untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.’”

Maryam melakukan shaum, yakni menahan diri dari berbicara kepada siapapun ketika membawa sang bayi ke tengah kaumnya. Maka Allah SWT pun menolongnya. Bayi itu, Isa AS, dikehendaki-Nya dapat berbicara fasih kepada mereka tentang keadaan diri dan kenabiannya.

Maryam tidak hanya mengetahui bahwa shaum itu perintah Allah, tetapi juga melaksanakannya sepenuh hati. Dengan begitu, Allah menyelamatkannya dari tudingan keji orang-orang fasik. Dia terhindar dari kemudaratan. Apakah kita dapat belajar dari puasanya Maryam ( puasa level ketiga )?

Mengutip kalimat nasihat Cak Nun, Apakah kita mampu dan mau setidaknya selama bulan Ramadhan ini menjauhi sifat maling, sifat curang, sifat munafik, dan sifat kufur? Semoga.

Wallahu’alam bishshawwab.

Tags:

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page