close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

BELAJAR DARI SAHABAT ABDULLAH IBNU UMAR

Tajuk Rasil
Jumat, 28 Juni 2019

Belajar dari Sahabat Abdullah Ibnu Umar

Kita apresiasi saja keputusan Mahkamah Konstitusi atas hasil persidangan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) kemarin. Sungguh tidak mudah dan berat rasa tanggung jawab 9 hakim MK dalam mengambil keputusan yang mereka lalui dengan harus menjalani Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH) setelah sidang PHPU sebelumnya yang cukup melelahkan. Apa yang diputuskan oleh hakim bukanlah murni kebenaran, tapi apa yang dia lihat sebagai kebenaran.

Sesuai Undang-undang Mahkamah Konstitusi (MK), keputusan MK bersifat final dan mengikat. Sehingga tidak ada proses hukum lain setelah putusan MK. Pasti ada pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil pemilihan umum dan keputusan MK. Hal tersebut wajar saja karena dalam demokrasi yang terbuka, sangat sulit mengambil keputusan yang memuaskan semua pihak. Bagi pihak-pihak yang tidak puas bisa menempuh jalan oposisi yang konstitusional khususnya melalui DPR untuk menuntut pelaksanaan pemerintahan yang konsisten.

Semoga para hakim dimanapun yang sedang bertugas, khususnya 9 hakim MK yang telah menangani sidang PHPU kali ini pernah menyimak dan menghayati sebuah kisah sahabat Nabi SAW yang menolak jabatan qadhi (hakim) karena menurutnya cukup berat pertanggungjawabannya baik di dunia terlebih di akhirat kelak.

Dikisahkan, sosok sahabat Rasulullah SAW ini suatu saat pernah menolak ketika beliau ditawari jabatan strategis oleh Khalifah Utsman bin Affan ra menjadi qadhi. Sampai Khalifah agak bernada marah karena merasa tidak dihargai sambil mengatakan: “Adakah kamu bermaksud membantah perintahku? Lalu dijawab, tidak ya Khalifah! Saya tidak siap memegang jabatan tersebut semata-mata karena saya pernah mendengar dari Nabi SAW.

Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa pada diri seorang qadhi atau hakim itu hanya ada ‘tiga’ kemungkinan. Pertama, hakim yang mengadili tanpa ilmu, ia akan masuk neraka. Kedua, hakim yang mengadili berdasarkan nafsu, ia juga akan masuk neraka. Ketiga, hakim yang berijtihad dengan ijtihad yang benar, ia tidak berdosa dan tidak pula berpahala. Atas nama Allah, saya menolak jabatan itu ya Khalifah”.

Siapakah sosok sahabat Nabi SAW yang satu ini? Beliau adalah Abdullah ibnu Umar. Seorang sahabat yang mendapat bimbingan langsung dari insan yang paling mulia, Rasulullah SAW. Seshaleh Abdullah ibnu Umar saja yang keimanan dan akhlaqnya tidak perlu diragukan lagi menolak jabatan qadhi karena merasa sangat berat tanggung jawabnya di hadapan Allah SWT, lalu bagaimana dengan kita wahai para hakim?.

Dalam sirah sahabat juga diceritakan bahwa Abdullah bin Umar sangat bergairah ketika panggilan jihad berkumandang. Namun sungguh ia juga anti kekerasan, terlebih ketika yang bertikai adalah sesama golongan Islam. Selain tawaran menjadi Qadhi di masa Khalifah Utsman, Abdullah ibnu Umar sebenarnya pernah ditawari menjadi Khalifah Amirul Mukminin.

Hasan radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, tatkala Khalifah Utsman bin Affan terbunuh, sekelompok umat Islam memaksanya menjadi khalifah. Mereka berteriak di depan rumah Ibnu Umar, “Anda adalah seorang pemimpin, keluarlah agar kami minta orang-orang berbaiat kepada anda!” Namun Ibnu Umar menyahut, “Demi Allah, seandainya bisa, janganlah ada darah walau setetes pun tertumpah disebabkan aku.”

Sampai suatu ketika, datang lagi ke sekian kali tawaran menjadi khalifah. Ibnu Umar mengajukan syarat, yakni asal ia dipilih oleh seluruh kaum Muslimin tanpa paksaan. Jika baiat dipaksakan sebagian orang atas sebagian yang lainnya di bawah ancaman pedang, ia akan menolak.

Saat itu, sudah pasti syarat ini takkan terpenuhi. Mereka sudah terpecah menjadi beberapa firqah (kelompok), bahkan saling mengangkat senjata. Ada yang kesal lantas menghardik Ibnu Umar. “Tak seorang pun lebih buruk perlakuannya terhadap manusia kecuali kamu,” kata mereka. “Kenapa? Demi Allah, aku tidak pernah menumpahkan darah mereka tidak pula berpisah dengan jamaah mereka, apalagi memecah-mecah persatuan mereka?” jawab Ibnu Umar heran.

Sesungguhnya mengenai menolak jabatan ini bukan karena Ibnu Umar lemah, tapi karena ia sangat berhati-hati, dan amat sedih jika umat Islam terpecah dalam beberapa golongan karena sikap dan keputusannya. Ia tak suka berpihak pada salah satunya. Dan karena ketakwaannya, dia lebih takut kepada Allah SWT dan tunduk patuh pada ajaran Rasulullah SAW.

Wallahu A’lam Bish Showaab

Tags:

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page