close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

BELAJAR DARI SALAHUDDIN AL AYYUBI

Tajuk Rasil
Selasa, 5 Maret 2019 

Ada banyak nama yang tercatat sebagai pahlawan dalam sejarah Islam dan dunia. Salah satunya adalah panglima Islam, pemimpin perang salib. Dialah Salahudin Al Ayubi, dalam salah satu sumber dikatakan bahwa Salahuddin wafat pada 4 Maret 1193 di Damaskus, tepat 826 tahun yang lalu. Sejarah mencatat nama Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi atau Sultan Salahuddin Ayyubi sebagai sosok yang menyatukan dunia Muslim selama Abad ke-12 dan berhasil merebut kembali Yerusalem pada 1187 lewat Pertempuran Hattin.

Namanya bukan saja terkenal di kalangan muslim, tapi juga non muslim kaum Yahudi dan Nasrani. Namun, meski punya kelemahan sebagai manusia biasa, ia dikenal sebagai sosok yang dihormati bukan hanya pada masa dia hidup tetapi di masa sesudahnya bahkan hingga masa sekarang. Dia bukan hanya dikagumi oleh orang Arab atau Persia, tapi juga dikagumi oleh orang barat baik di Eropa maupun Amerika.

Philip K Hitti, seorang penulis barat dalam bukunya ‘History of The Arabs’ mengungkapkan ”Di Eropa, Salahudin Al Ayubi atau Saladin telah menyentuh alam khayalan para penyanyi maupun para penulis novel zaman sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri teladan kaum kesatria,”

Sementara Karen Amstrong dalam bukunya yang berjudul Perang Suci, menuturkan “Sifat penyayang dan belas kasih Salahuddin ketika peperangan sangat jauh berbeda dibanding dengan kekejaman tentara Perang Salib. Ahli sejarah Kristian pun mengakui mengenai hal itu. Ketika merebut kota Yerussalem, Salahudin menepati janjinya, dan menaklukkan kota tersebut menurut ajaran Islam yang murni dan paling tinggi.

Salahudin juga dinilainya sebagai seorang pemimpin yang anti permusuhan dan tak pendendam. Dia tidak melakukan pembantaian, seperti ketika tentara Salib menduduki kota itu pada 1099. Tak ada balas dendam atau pembantaian. Karen Amstrong mencatat, “Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan akibat keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Dan ia pun membebaskan banyak dari mereka musuh-musuh Islam, sesuai imbauan Alquran.”

Sejumlah penduduk Yerusalem pun tak kuasa menahan syahadat setelah melihat kebaikan Shalahuddin. Inilah yang disadari Shalahuddin. Penaklukan tidak sekadar penguasaan suatu wilayah. Setiap ekspedisi atau perang yang dilakukan kaum Muslim pada hakikatnya pembebasan suatu kaum dari tindak jahiliyah menuju ketauhidan. Manifestasi cinta untuk menyelamatkan kemanusiaan dari tangan orang-orang yang salah.

Jadi pada 1099, Yerussalem bermandikan darah dan air mata kaum Muslim. Akan tetapi, kisah pembebasan Yerussalem oleh pasukan Shalahuddin tidak diiringi pembantaian, sebagaimana kelakukan tentara Salib. Kaum Kristen yang memilih berlindung Yerusalem mendapat jaminan dari Sultan Shalahuddin. Tidak ada pengislaman paksa, tak ada balas dendam, tak ada pembantaian.

Kekhawatiran tentu sempat menyelubungi kaum Kristen di Yerusalem. Terbayang cerita pembantaian yang mungkin akan kembali menimpa mereka. Akan tetapi, sebagaimana digambarkan sutradara Ridley Scott dalam film Kingdom of Heaven, Shalahuddin bertindak layaknya pembebas sejati. Ia membawakan perdamaian bagi kaum Kristen yang berkumpul ketakutan di Yerusalem.

Hanya tentara Salib yang diharuskan meninggalkan kota dengan membayar sejumlah denda. Itu pun nyatanya Shalahuddin sering tak tega melihat penderitaan para janda dan anak-anak dari tawanan perang. Ia mengizinkan para tawanan meninggalkan negeri bersama anak istrinya.

Kemuliaan, akhlak Shalahuddin tidak hanya ditunjukkan kepada penduduk Yerusalem yang dia taklukkan. Ia juga menampakkan kemuliaan saat berhadapan dengan lawan. Kebaikan Shalahuddin terhadap Raja Richard dari Inggris telah menjadi legenda. Alih-alih memanfaatkan keadaan untuk membunuh lawannya yang tengah sakit, Shalahuddin memilih bersikap ksatria. Ia mengirimkan buah segar dan obat kepada Raja Richard.

Kisah ini dicatat dengan baik oleh para sejarawan Barat. Mereka memuji kepahlawanan, keberanian, sekaligus kasih sayang dan persaudaraan Shalahuddin. Kita patut belajar dan meneladani sikap kasih sayang dan sikap kesatria yang ditunjukkan kepada siapapun atas nama Islam. Semoga Allah SWT meridhai, merahmati, dan  membalas jasa-jasa Shalahuddin sang pembebas Yerusalem dan Al Quds.

Wallahu’alam 

Tags: ,

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page