• Print
close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

CACATNYA DEMOKRASI

Tajuk Rasil
Jumat, 1 Maret 2019

Ini adalah tahun politik, demikian media mengistilahkannya. Beberapa pekan lagi  adalah waktu yang penting dalam menentukan pemimpin tertinggi kekuasaan pemerintahan. Kita sebagai rakyat akan berperan aktif melaksanakan hak dan kewajiban politik dalam menentukan presiden RI lima tahun ke depan dengan sistem demokrasi.

Timbul pertanyaan. seberapa kokoh demokrasi Indonesia? Ini pertanyaan kritis, sekaligus menggambarkan kegalauan menyaksikan arus perkembangan politik Indonesia yang tidak mencerminkan peningkatan kualitas. Sekalipun penyelenggaraan demokrasi secara formal prosedural dapat digolongkan lancar, damai, dan kian “mapan”. Akan tetapi, proses dan capaian perubahan tidak sesuai yang diharapkan bahkan mengecewakan.

Mekanisme demokrasi memang metode yang negara ini sepakati dalam proses suksesi kepemimpinan negara. Metode yang dipilih oleh hampir semua negara di dunia. Penentuan  pemimpin oleh rakyat sebagai bentuk kedaulatannya. Harapannya cara-cara yang dilakukan dalam proses demokrasi dilakukan dengan mekanisme yang bermartabat.

Demokrasi memang bukan produk alamiah (genuine) yang lahir dari budaya dan perikehidupan berbangsa dan bernegara kita. Konsep tentang demokrasi itu ditanamkan begitu saja laksana tiang, sehingga ia terlihat tegak, namun tidak hidup layaknya pohon yang memiliki akar. Demokrasi transplantasi namanya. Dalam demokrasi macam ini, bila ia diibaratkan sebagai poin, maka  pohon jeruk dapat saja berbuah apel, karena demokrasi di negara ini adalah hasil  pencangkokan.

Seorang pengamat politik negeri ini pernah mengatakan bahwa, sejak kemerdekaan diproklamasikan Indonesia telah menganut sistem demokrasi. Namun, sistem ini ternyata sudah cacat sejak lahir. Cacatnya sistem demokrasi di Indonesia karena tidak ada jaminan orang-orang yang dipilih dapat mewakili ratusan juta rakyat. Padahal, sistem ini mengharuskan adanya keterwakilan rakyat untuk menjalankan roda pemerintahan.

Meski cacat sejak lahir, sebagai sebuah sistem yang dipercaya dapat membawa kesejahteraan, seluruh elemen bangsa harus memiliki iman yang teguh sebagai landasan untuk menganut dan menjalankan sistem demokrasi. Sistem demokrasi yang dijalankan saat ini harus selalu diperbaiki.

Dalam perjalanannya di negeri ini, demokrasi sering kali dikatakan sedang meluncur menuju sistem oligarki, yaitu bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya dipegang oleh segelintir kelompok elit kecil. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa demokrasi sedang bermetamorfosis menjadi otokrasi (suatu bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya dipegang oleh satu orang).

Simon Jenkins, mantan editor surat kabar ternama dari Inggris Raya ‘The Times’, pernah mengungkapkan dalam tulisannya bahwa demokrasi tengah berada dalam kondisi yang tidak baik alias sakit. Hal ini karena uang dan kekuatannya sering menjadikan proses pemilihan umum menjadi tidak fair. Afiliasi kekuatan militer dan industri menjadi sangat digdaya, lobi dan korupsi mencemari berbagai proses pemerintahan.

Analisa Simon Jenkins di atas memberikan gambaran jelas tentang cacat demokrasi. Selain prosesnya sering tidak fair, mekanisme dan hasilnya pun tak jarang menimbulkan petaka. Namun sayangnya kehebatan media dan ‘marketing’ demokrasi yang dimiliki tangan-tangan tersembunyi, membuat demokrasi seolah batu karang gagah yang tak tergoyahkan.

Di sisi lain, pelaku-pelaku politik yang sudah jauh tenggelam dalam dahaga duniawi dan kekuasaan semakin banyak bermunculan dari berbagai kalangan. Bukan hanya kalangan akademisi dan aktivis yang ikut terjerembab bersama politikus, ulama pun sudah masuk jeratnya. Individu hasil didikan tangan-tangan inilah yang akan dijadikan boneka dan atau wayang.

Inilah cacat bawaan dan sisi gelap demokrasi yang sudah banyak memakan korban. Pelan tapi pasti, Indonesia saat ini sedang berjalan ke arah ‘lost control’. Kekuatan rakyat untuk menentukan kemajuan bangsanya perlahan hilang dan tergerus oleh ‘kekuatan bayangan’ dibalik parpol yang berkolaborasi dengan korporasi.

Mari kita benahi sistem yang sudah terlanjur rusak ini. Tidak ada kata terlambat. Sesunguhnya pertolongan Allah SWT amat dekat. Lakukan apa yang bisa kita lakukan. Perkuat sistem ini dengan dasar-dasar keislaman dan kuatkan kerja sama gerakan ummat, sambil bersinergi membesarkan Islam dalam kerangka Ukhuwah Islamiyah dalam koridor La ilaha illallah.

Wallahu’alam

Tags: ,

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page