close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

JANGAN LUPA MASALAH UTANG INDONESIA

Tajuk Rasil
Rabu, 15 Mei 2019

Jangan lupa Masalah Utang Indonesia

Berbicara tentang utang, mungkin bukan sesuatu yang aneh untuk dibicarakan di masyarakat kita. Kita pun sudah terbiasa dengan kata UTANG. Sejarah mencatat, Indonesia sudah memiliki utang sejak pemerintahannya berdiri yaitu utang turunan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang sudah memulai kebiasaan berutang bagi pemerintahan di Indonesia. Seluruh utang yang belum dilunasi oleh pemerintah kolonial Belanda kemudian diwariskan, sesuai dengan salah satu hasil Konferensi Meja Bundar (KMB).

Di setiap masa pergantian pemerintahan di Indonesia pun tak luput dari utang. Di pemerintahan sekarang utang indonesia meningkat tajam dari Rp. 2.608,8 triliun di tahun 2014 hingga sekarang mencapai Rp. 4.567 triliun per Maret 2019.

Pemerintah menilai bahwa utang negara saat ini masih berada di tahap aman karena menurut Undang-Undang no 17 tahun 2003 tentang keuangan negara pasal 12 ayat (3) disebutkan bahwa defisit anggaran dimaksud dibatasi maksimal 3% dari Produk Domestik Bruto. Jumlah pinjaman dibatasi maksimal 60% dari Produk Domestik Bruto, sehingga tidak ada masalah dengan utang luar negeri yang masih dibawah 34%.

Benarkah demikian aman?. Jika kita telusuri pemberi pinjaman Indonesia secara multilateral adalah Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Bank Pembangunan Islam (IDB). Sedangkan secara bilateral yaitu Jerman, Prancis dan Jepang sebagai kreditur Indonesia terbesar. Indonesia pun memiliki utang ke beberapa negara lain yaitu Korea Selatan, China, Amerika Serikat, Australia, Spanyol, Rusia dan Inggris.

Besarnya utang yang dimiliki Indonesia dibeberapa lembaga dunia dan negara lainnya dengan dalih “pembangunan” menandakan ketidak mandirian bangsa. Betapa tidak, Indonesia yang harusnya dapat memberikan kehormatan, kejayaan sebagai bangsa yang bermartabat kini pupus akibat terbelit utang.

Padahal wujud kemandirian negara adalah mengelola semua sektor negara baik itu ekonomi, politik, keamanan dengan tangan sendiri tanpa campur tangan negara lain. Dengan ini masyarakat pun bisa merasakan kesejahteraan di semua sektor kehidupan tanpa harus menanggung beban utang negara.

Selain itu, dalam pandangan ustaz Ikhwan Basridari DSN, dengan semakin meningkatnya utang negara maka akan semakin mudah penjajahan masuk kedalam negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum jika utang negara adalah pintu masuk intervensi asing terhadap bangsa ini. Banyaknya eksloitasi kekayaan alam oleh asing dengan perjanjian-perjanjian yang tidak seimbang membuktikan bahwa intervensi itu kian bercokol dinegeri ini.

Ditambah lagi dengan fakta bahwa bangsa Indonesia kini menjadi budak dinegeri sendiri, SDM tidak diberdayakan dan UMR yang tidak memenuhi standar kebutuhan hidup menjadikan masyarakat semakin tergelincir kejurang kemiskinan. Semua ini buah dari ketidak mandirian negara yang bergantung pada asing yang dipandang penyelamat padahal hakikatnya adalah penjajah bermuka dua.

Lalu bagaimana solusinya? Haruskah dengan berhutang baru bisa membangun negeri?. Islam menuntut negara agar mandiri tidak bergantung pada negara lain, hal itu direalisasikan dengan pengoptimalan sumber daya alam yang dimiliki negara. Banyaknya kekayaan alam yang dimiliki suatu bangsa adalah potensi pendapatan yang luar biasa besar yang dapat membiayai pembangunan infrastruktur negara. Kita lihat, tidak ada tanah-tanah kaum muslimin yang tidak dianugrahi kekayaan alam oleh sang pencipta.

Di Indonesia sendiri, dari berbagai sektor baik itu dari laut, pertanian, hutan, dan hal-hal yang ada dibawah perut bumi semuanya memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan negara jika dikelola dengan baik, bahkan menjadi sumber pendapatan utama negara.

Berbeda halnya dengan sekarang dimana pajaklah yang menjadi sumber pendapatan negara, rakyat diperas untuk memenuhi pajak yang beraneka macam jenisnya. Jikalau pun ada keadaan dimana negara membutuhkan pinjaman dan harus berhutang, maka hal itu disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan syara ( syariat islam) yang mana keadaan tersebut merupakan option terakhir yang dilakukan oleh kepala negara dikarenakan negara dalam posisi yang membahayakan.

Utang itu pun tidak akan membuat negara terikat dengan perjanjian-perjanjian yang dapat membuat negara tidak berdaulat, terlebih lagi sampai ikut masuk mengatur perekonomian negara. Hal itu tentu tidak diperbolehkan. Negaralah yang akan menentukan cara pembayaran utang dan tidak akan ada lembaga asing yang dibiarkan menentukan perjanjian.

Cukuplah generasi terdahulu dan generasi sekarang merasakan pahitnya penjajahan halus ala kapitalis. Jangan sampai utang luar negeri menjadi salah satu hal yang kita wariskan ke anak cucu kita kelak.

Wallahu’alam bishshawab.

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page