close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

KEMENAG: BUTA AKSARA KEAGAMAAN, TANTANGAN BESAR MODERASI ISLAM

JAKARTA, RASILNEWS – Kepala Lajnah Pentashihan Al-Quran (LPMQ) Balitbang-Diklat Kemenag Muchlis M Hanafi menilai tantangan terbesar moderasi beragama saat ini datang dari sebagian masyarakat yang masih buta aksara keagamaan.

“Sikap beragama yang hanya bermodalkan semangat saja hanya menimbulkan sikap fanatisme yang berlebihan, dan dapat menyasar kepada bentuk takfirisme atau menyalahkan semua sikap orang lain,” kata Muchlis yang juga sebagai pakar Ulumul Qur’an lulusan Azhar Kairo, dikutip laman Kemenag (28/02).

Fenomena buta aksara keagamaan ini, menurutnya pernah disebutkan seorang penulis Timur Tengah Rajab Albana dengan istilah al-ummiyah al-dinniyah. “Karenanya, ghirah yang kuat untuk terus menggali ilmu keislaman itu sangat dibutuhkan, mengingat ilmu yang diwariskan para ulama dan salafushalih itu sangat luas dan beragama variannya,” katanya.

Dalam pemaparannya, dia menekankan pentingnya memahami konsep tadarruj (proses bertahap) yang sangat kental mewarnai ratusan produk hukum Islam yang dikeluarkan para ahli agama sebelum menentukan sebuah instinbatul hukmi (kesimpulan hukum).

“Dalam masa-masa periode kesarjanaan saya di bidang tafsir dan ilmu-ilmu al-quran, konsep tadarruj menjadi sangat vital dan senantiasa menjadi bingkai dalam upaya memahami hukum-hukum yang disandarkan, baik kepada pencarian konteks dan makna nash-nash Alquran, Al-Hadis, maupun masalah fiqhiyyah,” katanya.

Hal ini disampaikan Muchlis saat menyampaikan materi pada kegiatan Temu Konsultasi Kepustakaan Islam yang digelar di Jakarta oleh Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Dit Urais-Binsyar) Ditjen Bimas Islam Kemenag. Ia mengingatkan, saat ini semangat beragama seharusnya diiringi pula dengan sikap kerendah-hatian untuk terus menggali ilmu keislaman, dari sudut pandang yang luas.

Kegiatan Temu Konsultasi Kepustakaan Islam ini merupakan kegiatan kali kedua. Acara berlangsung tiga hari, 27 Februari – 1 Maret 2019. Kegiatan ini diikuti 86 peserta, terdiri dari 34 Pustakawan Masjid Raya, 34 PIC Kepustakaan Islam Kanwil Kemenag, Pustakawan Ormas Islam dan beberapa staf di lingkungan Ditjen Bimas Islam.

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page