close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

KEMENRISTEKDIKTI PERLU DISKUSIKAN DULU SOAL E-SPORT

JAKARTA, RASILNEWS – Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Ismunandar menanggapi usulan e-sport masuk ke kurikulum pendidikan tinggi vokasi. Ia mengatakan, e-sport adalah hal yang baik karena mengandung nilai-nilai yang bisa mengembangkan individu.

“Intinya e-sport itu baik, karena di dalamnya ada creativity, communication, collaboration and critical thinking (the 4Cs) atau keratifitas, komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis. Bahkan ada C kelima yaitu community karena komunitas pemirsa dan penggemar e-sport besar,” kata Ismunandar pada Republika, Kamis (14/3).

Meskipun demikian, untuk memasukannya ke dalam kurikulum pendidikan tinggi vokasi, pihaknya perlu mendiskusikannya terlebih dahulu. Bagaiaman e-sport akan diterapkan di pendidikan tinggi vokasi tentunya harus dipersiapkan dengan matang.

“Diskusi tentang masuknya dalam kurikulum dan di level mana kita semua harus diskusikan,” kata dia.

Sebelumnya, Pendiri Gerakan Sekolah (GSM), Muhammad Nur Rizal mengatakan, e-sport tidak cocok diterapkan di dalam pendidikan dasar. Ia menilai lebih baik diterapkan di pendidikan tinggi vokasi.

Alasannya adalah, di perguruan tinggi kesiapan infrastruktur dan kapasitas mahasiswa maupun tenaga pendidik sudah siap. “Di pendidikan vokasi, mahasiswa itu jauh lebih dewasa memiliki kemampuan refleksi yang lebih independen untuk menalar dan tahu batasan menggunakan e-sport,” ujar Rizal.

Sumber : REPUBLIKA

Tags:

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page