• Print
close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

KEPEMIMPINAN YANG DIRINDUKAN

Tajuk Rasil
Jumat, 24 Mei 2019

Kepemimpinan Yang Dirindukan

Pemilu dan aksi 22 Mei menelan banyak korban tapi pemimpin negeri ini tidak peduli karena ambisinya untuk berkuasa telah menutup hati dan perasaannya. Pergerakan massa ini dilatarbelakangi oleh ketidak mampuan pemerintah dalam mengungapkan berbagai kecurangan dan ketidakadilan di Pemilu 2019 yang hanya menguntungkan salah satu paslon saja.

Mungkin kita bisa menilai pemimpin dalam sistem demokrasi sudah mati rasa atas penderitaan dan jeritan rakyat yang ingin sebuah keadilan dan perubahan yang lebih baik. Aspirasi rakyat tidak lagi penting saat kemenangan sudah berada di genggaman tangan. Mereka tidak akan mau melepaskannya meskipun harus mengorbankan rakyatnya.

Sebagian besar rakyat merasa ditipu. Ternyata yang menentukan bukan suara rakyat, tetapi tangan-tangan yang menginput data dan merekap suara mereka. Entah karena kelelahan sehingga salah masukkan angka atau memang disengaja, hanya Allah SWT yang tahu. Yang jelas, rakyat sudah mencium bau kecurangan mulai dari pra-pemilu, proses pemilihan di TPS, penghitungan suara, menginput data, sampai rekapitulasi hasil suara pemilu.

Sungguh memilukan, baru kali ini pemilu menelan banyak korban hanya karena memenuhi ambisi penguasa yang ingin mempertahankan kursi kekuasaannya. Tentu saja hal ini juga karena kematian petugas KPPS yang sangat misterius dan menelan korban mencapai 600 jiwa. Bahkan para pengamat politik mengungkapkan bahwa tahun 2019 adalah pemilu paling buruk dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Ikhwan Akhwat….

Pemimpin dalam sistem demokrasi ini lupa mengurusi rakyatnya karena disibukkan dengan ambisinya untuk bisa berkuasa lagi. Kekuasaan menjadi perhatian utamanya, bukan lagi mengurusi rakyat. Bila perlu, rakyat dikorbankan untuk memenuhi ambisi politiknya agar bisa terus berkuasa. Dia tidak peduli jika harus dibenci dan bermusuhan dengan rakyatnya. Rakyat disuruh bungkam atau masuk penjara bagi yang mengancam kekuasaannya.

Itulah gambaran kepemimpinan dalam sistem demokrasi yang diterapkan semena-mena, menjadikan rakyat sebagai tumbal untuk kepentingan politiknya. Ambisi untuk berkuasa lebih kuat dari keinginan untuk mengurusi rakyat. Jadi, pemimpin dalam sistem demokrasi tidak pernah dekat dengan rakyat. Mereka mendekat dengan rakyat hanya menjelang pemilu demi mengambil simpati rakyat agar mau memilihnya kembali. Tapi, semuanya yang dilakukan hanyalah pencitraan yang penuh dengan kepura-puraan.

Rakyat harus semakin cerdas, jangan mau tertipu dengan wajah lugu yang suka menipu. Rakyat telah mengalami sejumlah ujian dan kesakitan. Kesakitan yang paling sakit, kepedihan yang paling perih. Jangan lagi rakyat diam ketika meringis menahan sakit karena injakan kezaliman penguasa, penindasan dan tipu daya.

Rakyat mendambakan kepemimpinan yang berdasarkan ajaran Islam. Karena sangat berbeda sistem kepemimpinan dalam Islam yang tujuan berpolitiknya adalah mengurusi urusan rakyat. Rakyat menjadi skala prioritas. Pemimpin sangat takut jika ada rakyat yang terzolimi dan diberlakukan tidak adil. Pemimpin sangat mendengar aspirasi rakyat dan bertindak cepat untuk memenuhi tuntutan rakyatnya.

Rakyat merasa aman karena bebas menyampaikan kritik pada penguasa tanpa ada tekanan dan ancaman akan dapat hukuman. Terpenuhinya seluruh kebutuhan rakyat adalah tujuan utama selama dia memimpin karena setiap langkah kepemimpinannya pasti dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Sungguh, kita merindukan kepemimpinan dalam Islam yang mencintai dan selalu mendoakan kebaikan untuk rakyatnya. Mereka saling mencintai sehingga kedamaian bisa terwujud. Pemimpin melindungi dan membela rakyatnya. Negara akan benar-benar terbebas dari intervensi asing karena rakyat mendukung sepenuhnya untuk bisa bebas dan merdeka mengelola negeri yang kaya raya ini.

Pasti hidup rakyat sejahtera, rasa aman terjamin, dan keadilan bisa terjaga. Tentunya, hanya dengan menerapkan Islam secara kaffah impian itu bisa terwujud.

Wallahu ‘alam bi shawab

Tags:

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page