close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

TAJUK RASIL “KETIKA NABI ADAM LUPA”

Tajuk Rasil
Rabu, 18 September 2019

Ketika Nabi Adam Lupa

Nabi Adam Alaihis Salam pernah memohon pada Allah SWT agar umurnya dikurangi. Sebagai gantinya, Nabi Adam Alaihis Salam memohon agar umur Nabi Daud Alaihis Salam diperpanjang. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda ;

“Ketika Allah menciptakan Adam, Allah mengusap punggungnya, lalu dari punggung itu berjatuhan seluruh jiwa yang Allah akan menciptakannya dari anak cucunya sampai hari Kiamat. Dan Allah menjadikan di antara kedua mata masing- masing orang ada kilauan cahaya. Kemudian mereka diperlihatkan kepada Adam. Adam berkata, “Ya Rabbi, siapa mereka?” Allah menjawab, “Mereka adalah anak cucumu.”

Seperti ditulis Jihad Muhammad Hajjaj dalam Umur dan Silsilah Para Nabi, menuliskan dalam hadits ini juga Rasululllah bertutur; Diantara manusia itu, Adam melihat ada seseorang yang sinar matanya membuatnya takjub. Nabi Adam pun kembali bertanya tentang sosok itu. Allah pun menjelaskan bahwa sosok itu adalah Daud. Nabi adam kemudian bertanya tentang umur Daud As. Allah pun menjawab umur nabi Daud hanya 40 tahun. Mendengar hal itu, Nabi Adam pun memohon kepada Allah agar mengurangi 40 tahun umurnya untuk menambah umur Nabi Daud.

Allah SWT pun mengabulkan permohonan Nabi Adam. Ketika umur nabi Adam habis, malaikat Maut pun datang menjemput. Nabi Adam pun berkata ‘bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun? malaikat maut balik bertanya, bukankah engkau telah memberikan sisa umurmu itu kepada cucumu Daud? Karena Adam mempunyai tabiat mengelak dan lupa maka keturunannya pun mempunyai tabiat serupa.

Rasulullah SAW bersabda, “Adam mengingkari, maka anak cucunya pun mengingkari. Adam dijadikan lupa, maka anak cucunya dijadikan lupa; dan Adam berbuat salah, maka anak cucunya berbuat salah.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan, hadits hasan shahih). Tentang lupanya nabi Adam, Allah juga berfirman dalam Surat Thaha ayat 115, “Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.”

Begitulah, manusia memiliki tabiat pelupa. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa manusia disebut insan, karena sifat ‘nisyan’ (pelupa) yang melekat padanya. Tidak semua jenis lupa itu buruk dan cela. Di antara jenis lupa bahkan merupakan karunia dan kasih sayang Allah kepada manusia. Andai saja manusia tidak bisa lupa, betapa lestari kesedihannya.

Apa jadinya jika nikmat lupa ini dicabut dari manusia. Siapa di antara kita yang belum pernah mengalami musibah? Siapa yang tak pernah disakiti orang lain, atau pernah mengharap sesuatu tetapi kandas?. Jika semua itu terus lekat pada diri manusia. maka betapa hidup itu menderita dan sulit baginya untuk sekedar tidur.

Namun ada lupa yang merupakan keteledoran dan musibah sehingga bisa dianggap sebagai cela. Di antaranya adalah lupa terhadap ilmu syar’i yang telah dihapal atau diketahuinya. Ada kalimat yang masyhur, “afatul ilmi nisyaanun”, bencana ilmu adalah lupa. Seperti orang yang telah menghafal dan mengkaji sesuatu dari Alquran misalnya.

Tidak disangsikan bahwa lupa dalam hal ini adalah musibah. Meskipun dari sisi dosa atau tidaknya para ulama memerinci menjadi dua hal, jika lupanya sebatas karena tabiat manusia atau karena memang faktor kemampuan, maka ia tidak berdosa. Namun jika lupanya karena ada unsur melupakan, tidak lagi punya perhatian terhadap Alquran maka ia berdosa.

Termasuk pula ketika seseorang yang lupa terhadap amanah yang menjadi tanggungannya. Jika adanya unsur keteledoran maka dia berdosa dan telah melakukan kezhaliman yang merugikan orang lain. Kalau memang seseorang dibebankan suatu amanah, janganlah dikhianati. Tunaikanlah amanah tersebut dengan baik.

Apalagi bagi para pemimpin dan pejabat jangan lupa jika masa tugas belum selesai, padahal sudah berjanji dengan bersumpah akan merampungkannya. Maka sudah barang tentu janji tersebut kudu dipenuhi. Karena di sistem pemerintahan ada bagian yang akan selalu mengingatkan. Tentu saja rakyat pun menjadi bagian pengingat para pejabat yang selalu lupa.

Jadi jangan baper dan sakit hati ketika rakyat menolak lupa dan menuntut pejabat untuk selalu ingat akan janjinya. Nabi Adam saja beriman dan tunduk patuh kepada Allah SWT ketika harus diingatkan Malaikat maut. Apakah pejabat negeri ini harus disambangi oleh Malaikat maut agar tidak lupa ?

Wallahu alam bishawab

Tags: ,

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page