close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

“MASA IYA SAYA HARUS MENCABUT FATWA”

Tajuk Rasil
Selasa, 25 Desember 2018

“Masa Iya Saya Harus Mencabut Fatwa”

Sore hari tahun 1981, ditemani putra sulung Buya Hamka yaitu Bang Rusydi Hamka, ketika itu Buya hendak terbang ke Iraq memenuhi undangan di sebuah pertemuan. Buya mengajak mampir ke kantor Departemen Agama, disana Buya menyerahkan satu kop surat berisi beberapa kalimat saja. Dalam surat itu bertuliskan “Masa iya saya harus mencabut fatwa”, sambil tersenyum simpul Buya Hamka memberikan surat berisi pengunduran diri sebagai Ketua MUI.

Setelah fatwa MUI yang ditekan Buya Hamka itu disebarluaskan pers dan aktivis muslim, Departemen Agama bagai dilanda bencana. Menteri Agama waktu itu, Ratu Alamsyah Ratuprawiranegara, buru-buru meminta agar fatwa segera di tarik dan dicabut. Tapi Buya memilih mundur ketimbang menjilat air liur sendiri.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka lebih memilih mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ketimbang mencabut Fatwa haramnya mengucapkan selamat Natal dan ikut merayakannya. “Sayalah yang bertanggungjawab atas beredarnya fatwa tersebut. Jadi sayalah yang mesti berhenti,” kata Hamka pada Harian Pelita.

Pada rublik “Hati ke Hati” di Majalah Panji Masyarakat edisi 324/1981, Buya Hamka menulis artikel berjudul “Bisakah Suatu Fatwa di Cabut” dia mencurahkan suara hati terdalam tentang makna kerukunan umat beragama yang cenderung menyimpang. Jauh sebelumnya masyarakat sudah mengenal Buya Hamka, di akhir tahun 1950-an sudah terang-terangan menentang apa yang dinamakan Sekulerisme, Liberalisme, Kristenisasi bahkan Komunisme-Atheist. Buya Hamka sangat peduli sekali terhadap aqidah dan keyakinan Umat Islam.

Dalam curahan berjudul “Toleransi, Sekulerisme atau Sinkretisme,” Buya Hamka menyebut tradisi perayaan Hari Besar Agama Bersama bukan menyuburkan Kerukunan Umat beragama atau tasamuh (toleransi), tetapi akan menyuburkan kemunafikan. Intinya adalah Hamka menulis secara gamlang :

“Si orang Islam diharuskan dengan khusyu, bahwa Tuhan Allah beranak, dan Yesus Kristus ialah Allah sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad SAW dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh Pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukanlah Nabi, melainkan penjahat.”

Ikhwan Akhwat

Kita juga harus ingat ketika suatu hari menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun 1969, dua orang perwira Angkatan Darat datang menemui Buya Hamka. Keduanya membawa pesan dari Presiden Soeharto kala itu, agar Hamka bersedia memberikan khutbah Ied di Masjid Baiturrahim, komplek Istana Negara, Jakarta.

Hamka terkejut, karena disamping permintaan tersebut mendadak, ia heran mengapa istana memilihnya menjadi khatib, padahal pada waktu itu ia dikenal sebagai ulama yang dalam setiap ceramahnya selalu tegas mengkritik upaya-upaya Kristenisasi. Maklum, pada masa awal Orde Baru, gurita Kristenisasi mulai membangun jejaringnya. Baik di tingkat elit kekuasaan, maupun aksi-aksi di lapangan.

Atas saran dan dukungan umat Islam, Buya Hamka akhirnya bersedia memenuhi permintaan istana. Umat ketika itu berharap, ulama asli Minangkabau ini bisa menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada para pejabat, terutama dalam menyikapi maraknya Kristenisasi. Inilah kali pertama Hamka, seorang mantan anggota Partai Masyumi, berkhutbah di Istana.

Dari atas mimbar, ulama yang juga sastrawan ini menguraikan tentang bagaimana toleransi dalam pandangan Islam. Islam sangat menghargai agama lain, dan tak akan pernah mengganggu akidah agama lain. Dan mengenai Natal, Hamka dengan lantang mengatakan “Natal adalah kepercayaan orang Kristen yang memperingati hari lahir anak Tuhan. Itu adalah akidah mereka. Kalau ada orang Islam yang turut menghadirinya, berarti dia melakukan perbuatan yang tergolong musyrik,” terang Hamka. “Ingat dan katakan pada kawan yang tak hadir di sini, itulah akidah kita!” tegasnya di hadapan massa kaum Muslimin.

Saat ini fatwa Ulama Besar Buya Hamka mulai dilupakan dan sering diperdebatkan. Termasuk pejabat, dan sebagian tokoh aktivis Islam. Sebagian dari mereka malah menghalalkan ucapan Natal atas nama toleransi beragama. Bahkan menuduh umat Islam yang tidak mengucapkan selamat Natal sebagai kelompok yang intoleran.

Mantan pendeta asal Manado, Ustadz Insan LS Mokoginta memberikan tips kepada umat Islam yang bersentuhan dengan Umat Kristiani apabila harus mengucapkan sesuatu ketika momentum itu hadir. Ungkap beliau, kita jangan mau mengucapkan “Selamat Hari Natal”, tapi ucapkanlah “Semoga Allah Memberimu Hidayah pada hari ini”.

Wallahu’Alam bishshowwab

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page