• Print
close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

MEMPERTANYAKAN PERAN DAN FUNGSI OJK

Tajuk Rasil,
Kamis, 6 Februari 2020/ 12 Jumadil Akhir 1441 H

Mempertanyakan Peran dan Fungsi OJK

Skandal korupsi Jiwasraya makin serius untuk di cermati publik dan dilihat secara konfrehensif kemana aliran dana goreng menggoreng saham – saham jiwasraya yang banyak melibatkan nama-nama pengusaha papan atas dan beberapa nama yang saat ini duduk sebagai pejabat di lingkar kekuasaan. Serta menelusuri siapa saja yang menjadi penikmat uang haram skandal kongkalingkong permainan saham milik asuransi tersebut.

Jika dari “kacamata Intelijen”, kemana arah isu ini bergulir. Sejumlah pejabat di lingkaran kekuasaan disebut terlibat dalam skandal megakorupsi JiwaSraya yang menurut audit Badan Pemeriksa Keuangan Republik IndonesiaI menelan kerugian keuangan negara sebesar 13,7 trilyun. Mungkin apabila “diaudit secara forensik”, bisa saja nilai kerugian negaranya melebihi angka tersebut. Hanya sayangnya Jaksa Agung hingga saat ini belum meminta kepada BPK RI untuk melakukan audit forensik terhadap Asuransi JiwaSraya Persero.

Dalam pengamatan ustaz Ikhwan Basri ketika siaran Ekonomi Islam Selasa kemarin, yang mengangkat topik “Fungsi Regulator dalam industri keuangan, periskop ekonomi Islam”. Memang semakin menarik saja untuk diikuti perkembangan kasusnya. Namun hal ini merupakan fenomena yang menyedihkan dalam politik ekonomi negeri kita tercinta. Karena bukan saja kasus jiwasraya, sempat mencuat kasus Asabri, ada juga kasus fintech abal-abal, bahkan kasus lembaga keuangan “kaleng-kaleng” hidup subur di dalam negeri ini. Mereka menipu nasabah, mengancamnya dan bahkan bertindak kasar.

Wajar kemudian ada yang bertanya-tanya, dimanakah regulator dan apa fungsinya mereka, pekerjanya digaji besar tapi kinerja memble, bukankah ini pemborosan, kezaliman, ketidak adilan. Dan pertanyaan selanjutnya adalah, sebagai regulator industi keuangan Indonesia masih layakah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dipertahankan?

Pertanyaan itu muncul bukan saja setelah OJK menjadi sorotan publik perihal kasus PT Asuransi Jiwasraya yang mengalahkan kasus Bank Century dalam hal merugikan keuangan negara. Kasus Jiwasraya juga menjadi bukti nyata, OJK gagal mengawasi lembaga keuangan non-bank, dalam hal ini asuransi, Itu dilihat dari nilai kerugian yang mengalahkan semua kasus korupsi di Indonesia. Kelemahan itu juga diindikasikan dari pilihan produk investasi dengan risiko tinggi yang seolah-olah dibiarkan begitu saja oleh OJK.

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng. Yang menilai bahwa OJK pasti tahu mengenai aliran dana investasi Jiwasraya. Bahkan Daeng menyindir, kejahatan di kelembagaan keuangan yang ada sekarang terjadi karena kesalahan OJK, dan seringkali kasus-kasus itu menguap hilang begitu saja. Daeng curiga, terdapat unsur pembiaran dari OJK terkait Jiwasraya yang melakukan investasi di saham berisiko ataupun terkait produk investasinya. Bukti itu terlihat jelas dari OJK yang sebenarnya tahu potensi gagal bayar Jiwasraya pada Januari 2018 lalu.

Dengan ekstrim, mengacu pada kasus Jiwasraya, Daeng menilai bahwa OJK telah gagal dalam menjalankan perannya. Para komisioner OJK harus bertanggung jawab mengapa sampai kasus Jiwasraya terjadi. Bahkan kalau perlu diproses dan diperiksa.

Dan kita pun dapat melihat carut-marut mega skandal kasus Jiwasraya semakin hari semakin spektakuler saja. Apalagi dengan akan ditetapkannya nama-nama baru dalam deretan tersangka oleh Kejaksaan Agung dalam hitungan beberapa waktu ke depan. Ketika sebelumnya para bandit kerah putih dengan seenaknya menilap akumulasi premi para nasabah asuransi JiwaSraya melalui skema transaksional di pasar modal, kini tiba saatnya bagi mereka untuk menuai hasil yakni menjadi barisan para pesakitan kasus jiwasraya.

Tersangka Jiwasraya juga berpotensi bertambah. Kejagung sudah menetapkan 13 nama untuk dicekal ke luar negeri dan 5 di antaranya sudah ditetapkan menjadi tersangka. Tidak menutup kemungkinan, dari 8 nama yang dicekal dan belum ditetapkan menjadi tersangka akan mengalami nasib yang sama dengan 5 tersangka yang sudah ditetapkan.

Sejauh ini, Kejagung baru menetapkan lima tersangka. Mereka adalah Benny Tjokrosaputro, Heru Hidayat, Hary Prasetyo, Hendrisman Rahim, dan Syahmirwan. Kita tinggal menunggu penetapan tersangka tambahan selanjutnya, dan muaranya ke arah penegakan hukum yang tidak tebang pilih dan bisa memaksimalkan pengembalian uang para nasabah asuransi jiwasraya tersebut.

Wallahu ‘Alam Bish Showwab

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page