• Print
close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

MUSUH PEMERINTAH

Tajuk Rasil
Kamis, 28 Februari 2019 

Akhir – akhir ini pemerintah tampaknya mulai melupakan salah satu kewajiban dari amanat yang diberikan rakyat padanya. Alih-alih memastikan rasa aman, pemerintah kelihatannya lebih memilih untuk menciptakan kecemasan dan ketakutan. Pemerintah melakukannya dengan menciptakan sosok dan pihak yang digambarkan sebagai musuh-musuh yang harus dihadapi orang banyak.

Kegentingan demi kegentingan diterbitkan pemerintah dalam bentuk aturan. Pemerintah terjesan getol meruncingkan perbedaan-perbedaan, padahal tadinya bukan merupakan masalah besar di tengah-tengah masyarakat. Bukannya merangkul semua pihak yang ada, pemerintah terlihat malah membangun jurang pemisah antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.

Seharusnya pemerintah seperti yang sudah diusulkan oleh banyak pihak fokus pada inti masalah di Indonesia, yaitu masalah keadilan sosial dan ketimpangan ekonomi. Dalam bidang sosial seperti kasus hukum, berkali-kali pemerintah menunjukan standar ganda dalam meng-approach peristiwa ataupun kasus yang muncul di masyarakat. Ketika berhadapan dengan lawan politik ataupun rakyat jelata semuanya serba tegas. Sebaliknya ketika berhadapan dengan kanca politik dan para pemilik kekuasaan maka yang terjadi adalah keberpihakan dengan mengemukakan alasan yang seolah-olah logis dan rasional.

Dalam bidang ekonomi, ketimpangan yang ada juga makin menganga. Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat ketimpangan pendapatan yang paling tinggi. Hampir separuh dari kekayaan yang ada dikuasai oleh 1 persen orang yang termakmur di negeri ini. Indonesia hanya kalah dari Rusia (74,4 persen), India (58,4 persen), dan Thailand (58 persen) berdasarkan data dari statista.

Ketimpangan lain juga melanda sektor keuangan, pertumbuhan jasa keuangan pada kuartal kedua tahun lalu saja berada di atas 12 persen, hampir tiga kali lipat pertumbuhan industri pengolahan. Kondisi tersebut mengindikasikan, pertumbuhan jasa keuangan dan sektor riil tidak berkorelasi positif. Lebarnya jurang ketimpangan terjadi karena profil resiko sektor riil cenderung lebih besar dan perputaran uangnya butuh waktu yang lama. Sebaliknya pada sektor keuangan, instrumen seperti deposito dan surat utang menawarkan imbal hasil yang tinggi dengan resiko rendah. Investor akhirnya lebih memilih investasi di sektor keuangan.

Padahal anjloknya sektor riil memunculkan bahaya lain; konsumsi dan daya beli masyarakat merosot yang pada akhirnya menambah ancaman pada pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Inilah yang seharusnya menjadi musuh pemerintah yang harus menjadi prioritas untuk dikalahkan bahkan dilenyapkan. Bukan melenyapkan organisasi masyarakat atau ulama yang dikesankan akan membahayakan negara. Keberagaman Indonesia bukanlah kelemahan bangsa Indonesia, oleh karena itu tidak layak dijadikan musuh.

Ada lagi masalah lain yaitu persoalan guncangan, misalnya PHK dan bencana alam. Apabila hal itu terjadi, orang kaya tidak akan kesulitan mengatasi masalah. Sebaliknya, rumah tangga yang tergolong miskin dan rentan miskin, akan rentan ambruk pula jika terjadi guncangan ekonomi, kesehatan, sosial, politik, dan bencana alam. Masyarakat miskin juga tak punya asuransi, sehingga jaring pengaman sosialnya adalah teman dan keluarga besar.

Kue pertumbuhan ekonomi seharusnya dapat dicicipi oleh semua kalangan, membantu mengurangi kemiskinan, dan memunculkan kelompok kelas menengah. Namun, World Bank melaporkan pertumbuhan ekonomi dalam satu dekade terakhir hanya menguntungkan 20 persen orang paling kaya di Indonesia. Artinya, kebanyakan rakyat Indonesia tak menikmati pertumbuhan ekonomi yang kerap dijadikan indikator keberhasilan pemerintah.

Akhirnya berulang kali kita melihat pemerintah abai memberikan perhatian dalam masalah-masalah tersebut dan malah fokus terlampau besar kepada hal-hal lainnya seperti mempertahankan kekuasaan dengan melakukan segala cara.

Mengutip Paulo Coelho dalam novelnya yang berjudul ‘Ziarah’, “Musuh kita merupakan perwujudan dari kelemahan kita. Kelemahan ini mungkin tidak hanya berwujud ketakutan akan sakit secara fisik, tapi juga berwujud rasa kemenangan yang terlalu dini ataupun hasrat kuat untuk menghindari pertempuran karena kita merasa itu tak layak untuk diperjuangkan.”

Maka dari itu, sulit sekali buat kita untuk tidak berfikir bahwa pemerintah juga tengah mengubah fokus kita kepada utang negara yang menggunung, pada harga-harga yang naik karena subsidi yang terus dicabut, kepada hal-hal yang seharusnya tidak menjadi fokus pemerintah. 

Wallahu’alam

Tags: ,

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page