close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

PEMIMPIN BERMARTABAT MENURUT ALQURAN

Tajuk Rasil
Rabu, 13 Februari 2019

Diskursus kepemimpinan dalam Islam adalah bagian dari urusan dunia dan sekaligus akhirat, yang sangat diperhatikan karena posisinya yang sangat penting dan strategis. Posisi pemimpin dalam suatu komunitas masyarakat sangat ditentukan oleh gaya kepemimpinan. Bila, ia memimpin dengan kecakapan ilmu dan akal sehat, maka masyarakat akan maju, berkembang dan berdaulat. Tetapi, bila yang memimpin, itu orang yang bodoh dan dungu, maka sudah pasti kekacauan dan malapetaka yang akan terjadi.

Oleh karena itu, memilih pemimpin harus benar-benar menyimak dan memperhatikan akidah, ilmu, dan akhlak, di samping rekam jejak, visi dan misinya. Islam tidak mengenal istilah dikotomi atau sekularisasi yang memisahkan antara dunia dan akhirat, sains dan agama, ilmu dan amal, termasuk dalam hal kepemimpinan.

Secara spesifik Alquran mengungkap sebuah fenomena pengangkatan seorang pemimpin untuk sebuah posisi atau jabatan formal yang dilakukan raja Mesir terhadap nabi Yusuf AS seperti yang diabadikan Allah SWT dalam Alquran Surat Yusuf ayat 55. Raja amat sangat tertarik terhadap nabi Yusuf AS atas sifat yang dimiliknya, seperti; amanah, jujur, tanggung jawab, dan integritas, sehingga raja berkeinginan untuk mengangkatnya sebagai pemimpin dengan memberikannya sebuah jabatan tinggi dan terhormat, yaitu posisi “Perdana Menteri”.

Hal ini, raja lakukan setelah ia memperhatikan dengan seksama melalui berbagai fit and proper test berupa; uji fisik, dibuang ke sumur tua. Uji mental, sebagai objek perdagangan anak, dan perbudakan. Uji moral, digoda istri raja yang sangat cantik untuk berbuat nista. Uji kecerdasan, berupaya solusi mengatasi datangnya musim paceklik yang akan menimpa bangsa Mesir. Uji profesi, yang dapat membawa rakyat Mesir penuh damai, makmur, dan berkeadilan.

Dalam perspektif Prof. Dr. Didin Hafiduddin, MA., salah seorang pakar ekonomi terkenal di Indonesia, ia memberikan analisis tajam terhadap makna surat Yusuf ayat 54-55. Ia menjelaskan bahwa secara eksplisit ayat ini minimalnya mengandung empat kriteria seorang layak menjadi pemimpin dan berlaku dalam berbagai level kepemimpinan apa pun. Keempat kriteria tersebut adalah:

Pertama, beriman kepada Allah SWT (mukmin). Yaitu seorang muslim yang memiliki dua sifat Hifzun dan Alim, Kata Hifzun secara bahasa adalah orang yang pandai menjaga. Artinya, orang yang memiliki integritas, kepribadian yang kuat, amanah, jujur, dan akhlaknya mulia, sehingga patut menjadi teladan bagi orang lain atau rakyat yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang amanah, akan berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan lapangan kerja, mendorong dan memotivasi rakyatnya berkreativitas dan berinovasi sehingga mampu mewujudkan kesejahteraan secara masif, merata dan berkeadilan walaupun sumber daya yang dimiliki sangat terbatas.

Kedua, rajin menegakkan shalat. Sebab, shalat adalah barometer akhlak manusia. Pemimpin yang baik dan layak menjadi pemimpin adalah orang yang menegakkan shalat. Shalat melahirkan tanggung jawab. Karena substansi kesadaran keimanan/ tauhid/ transendental itu dapat dibangun hanya melalui shalat. Miniatur kehidupan seseorang tercermin pada shalatnya. Shalat menjadi tolak ukur diterima dan tertolaknya amalan seseorang. Shalat bagaikan kawah candradimuka yang mengikis habis anasir-anasir dosa, maksiat dan mungkarat selain syirik. Karena itu, seorang pemimpin wajib atasnya untuk selalu memperhatikan dan menegakkan shalat dalam situasi dan kondisi apapun.

Ketiga, gemar menunaikan zakat dan sedekah. Zakat itu bukan membersihkan harta yang kotor melainkan membersihkan harta kita (harta yang bersih) dari hak orang lain. Seorang pemimpin yang rajin berzakat dan berinfak, tidak akan melakukan manipulasi, eksploitasi dan korupsi. Sebab dia yakin Allah SWT sudah menjamin rezeki yang halal lebih banyak daripada rezeki yang haram.

Keempat, suka berjamaah. Artinya suka bergaul dengan masyarakat, berusaha mengetahui keadaan umat, makmum atau rakyatnya dengan sebaik-baiknya dan mencarikan jalan keluar atas persoalan-persoalan yang dihadapi mereka. Sifat suka berjamaah atau memperhatikan masyarakat ini, dapat ditunjukkan dalam shalat fardhu berjamaah. Rasulullah SAW setiap selesai shalat fardhu berjamaah lalu duduk menghadap kepada jamaah. Hal itu, bertujuan untuk mengetahui kondisi jamaah, termasuk memperhatikan apakah jumlah jamaah tersebut lengkap atau tidak. Kalau ada yang tidak hadir shalat berjamaah, ditanya apa penyebabnya. Kalau ternyata orang itu sakit, Rasulullah bersama para sahabatnya lalu menjenguk orang yang sakit tersebut.

Itulah inti kehidupan berjamaah atau memperhatikan rakyat dan tiga kriteria lainnya, yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dan atau calon-calon pemimpin masa kini dan masa depan, sebagai kriteria dan dasar utama dalam memahami dan menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan berbasis Alquran.

Wallahu ‘alam Bissawab.

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page