• Print
close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

PERS MASIH SEBAGAI ALAT PERJUANGAN

Tajuk Rasil,
Senin, 10 Februari 2020/ 16 Jumadil Akhir 1441 H

Pers Masih Sebagai Alat Perjuangan

Hari Pers Nasional yang diperingati 9 Februari 2020, bisa dijadikan pengingat bahwa kebebasan pers di Indonesia masih menunjukkan hal yang kurang menggembirakan. Apabila memakai standar Reporters Without Borders, LSM yang berfokus pada isu kebebasan pers, kondisi kebebasan pers di Indonesia masuk kategori terpuruk. Tahun lalu saja, peringkat Indonesia berada pada urutan 124 dari total 180 negara. Bahkan, posisi Indonesia masih kalah dengan Timor Leste.

Menurut beberapa pengamat media, acara Hari Pers Nasional ‘versi’ Persatuan Wartawan Indonesia itu terkesan lebih banyak seremonial saja. Sangat tidak memadai untuk memperlihatkan bentuk keberpihakan kepada seluruh insan pers. Walaupun presiden Jokowi sering hadir dalam perayaan Hari Pers Nasional. Namun, hal itu tak serta merta mewakili upaya untuk menguatkan kebebasan pers di Indonesia.

Satu hal saja yang seharusnya menjadi perhatian presiden terkait kebijakan pemimpin terkait pers. Menurut riset doktoral Ros Tapsell dari Australian National University yang kemudian dibukukan dengan judul Media Power in Indonesia, sampai sekarang ada delapan konglomerasi media yang menguasai frekuensi publik. Masalah lain yang tak kalah penting adalah intimidasi. Berdasarkan catatan tim advokasi AJI, pada era Jokowi terdapat pola tindak kekerasan baru terhadap jurnalis berupa perundungan maupun penyebaran informasi pribadi melalui media sosial.

Tapi disamping sekelumit masalah yang masih dihadapi insan pers sekarang. Kita juga harus mengingat jika melihat perjalanannya, pers menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang negeri ini. Mulai era perjuangan revolusi, pers menjelma menjadi sarana propaganda kemerdekaan Indonesia. Setelah kemerdekaan, pers muncul sebagai pembela kepentingan rakyat. Di dalamnya, termasuk pers Islam yang mengadvokasi isu-isu keummatan.

Redaktur Senior Harian Republika Ikhwanul Kiram berpendapat, ada dua hal yang membuat media bisa dikatakan media Islami. Pertama, baik media umum atau media Islam selama praktiknya berpegang teguh pada kode etik jurnalistik maka media itu dikatakan Islami. Setiap pewarta hakikatnya melakukan check and balances pada setiap berita yang akan disiarkan kepada khalayak. Yang kedua, pers Islam itu bertujuan memperhatikan kepentingan umat Islam melalui informasi yang disampaikannya, baik melalui media cetak, radio, televisi, dan online.

Dalam perjalanannya pers Islam mengalami pasang surut. Menurutnya, surutnya pengelolaan pers Islam karena tidak dikelola secara profesional. Menghadapi tantangan zaman, hanya media yang dikelola secara profesional yang akan tetap bertahan. Ia mencontohkan, dulu media Islam yang cukup besar adalah Panjimas, Pelita dan ada majalah Amanah, Sabili. Namun, kini media tersebut sudah tidak ada lagi karena pengelolaanya kurang profesional.

Saat Orde Baru, masyarakat begitu merasakan ada tekanan terhadap Islam, termasuk persnya. Namun, sejak kelahiran Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) angin segar terhadap pers Islam mulai muncul. Dalam sejarah perkembangan pers Islam ini, tidak ada pers Islam yang mengajarkan tindakan yang mengajak pada kekerasan. Makanya kita menyayangkan beberapa tahun lalu pemerintah yang cepat menutup situs-situs Islam dengan alasan mengajarkan radikalisme.

Sementara dosen Jurnalistik dan Pemikiran Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor Adian Husaini berpendapat, yang disebut pers Islam adalah media yang menyuarakan kebenaran, baik itu media umum atau media Islam sama saja. Pers Islam juga mesti dikelola secara profesional dalam menghasilkan produk jurnalistiknya, terikat dengan norma-norma Islam dalam produknya. Misalnya, tidak boleh memberitakan aib saudaranya yang tidak diperlukan, tidak boleh mengadu domba dan harus betul-betul menunjukan kemaslahatan. Jadi, pers Islam sangat jelas dan teliti dalam mencari dan menyampaikan informasi.

Dalam sejarah juga pers Islam memiliki peran yang besar baik bagi umat maupun bangsa dan negara. Banyak tokoh-tokoh besar Islam, seperti Buya Hamka, juga meniti karier lewat media. Kemudian, HOS Cokro Aminoto dalam pergerakan revolusinya juga menerbitkan pers tersendiri. Pers Islam bagi umat Islam merupakan perjuangan dan bagian dari dakwah yang menjadi kewajiban setiap umat Islam.

Jadi peran pers Islam dari era kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi saat ini masih tetap sama. Masih sebagai alat perjuangan, perjuangan dakwah amar makruf nahi munkar. Tentu saja meski berbeda bentuk, situasi, dan regulasi yang harus selalu dipatuhi.

Wallahu ‘Alam Bish Showwab

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page