close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

REALITAS PERTUMBUHAN INDONESIA HANYA MAMPU MENYENTUH ANGKA 5 PERSEN

Jakarta, rasilnews- Dosen Institut Ilmu Quran (IIQ) Ikhwan Basri dalam siaran Ekonomi Islam menyebutkan bahwa realitas pertumbuhan Indonesia hingga saat ini hanya mampu menyentuh angka 5 persen. Jauh lebih rendah dari janji Presiden Joko Widodo ketika kampanye, yang kala itu menyebutkan akan membuat pertumbuhan ekonomi nasional berada diangka 7 persen.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2019 sebesar 5,05 persen (year on year/yoy). Realisasi ini lebih rendah dari realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2019 yang sebesar 5,07 persen yoy.

Juga lebih rendah bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2018 yang sebesar 5,27 persen yoy. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi sepanjang semester I-2019 tercatat sebesar 5,06 persen yoy.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2019 memang melambat bila dibandingkan kuartal I 2019 dan jauh lebih melambat jika dibandingkan kuartal II 2018. Sehingga kita perlu membenah apa yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 5,05 persen di kuartal II-2019,” ujar Kepala BPS Suharyanto dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta.

Menurut Ikhwan, hal yang membuat target pertumbuhan ekonomi tak tercapai yaitu, pembuatan infrastruktur, penegakan hukum atau regulasi, dan juga tingginya angka import dibanding eksport.

“Ada banyak hal yang membuat target kita tidak tercapai karena beberapa hal, misalnya karena infrastruktur, karena perijinan, karena penegakkan hukum, karena korupsi, dan juga karena keramahan kita terhadap investor itu kurang baik jika dibandingkan dengan negara lainnya,” ujar dosen IIQ tersebut.

Kemudian hal lain yang juga memengaruhi yaitu, memasuki perang dagang antara Amerika Serikat dan China seharusnya Indonesia kebanjiran investor dan relokasi pabrik dari China maupun Amerika. Tapi nyatanya, Indonesia tidak dipilih oleh negara China untuk merelokasikan perusahaan mereka.

Indonesia disebut sebagai satu-satunya negara di Asean yang kalah dibandingkan dengan negara lainnya dalam memanfaatkan dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Banyak perusahaan dari China yang yang memilih negara lain seperti Vietnam, Thailand, Filiphina dan juga Malaysia ketimbang Indonesia untuk merelokasi bisnisnya.

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page