close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

SANDIAGA UNO: “SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN!”

Jakarta, RASILNEWS – Pemilu Serentak 2019 adalah gelaran pesta demokrasi yang paling mematikan dalam sejarah panjang bangsa Indonesia berdiri. Begitu dikatakan Sandiaga Salahuddin Uno dalam orasi politiknya di acara yang bertema “Mengungkapkan Fakta-fakta Kecurangan Pilpres 2019” yang digelar di Ballroom Grand Sahid, Jakarta, Selasa (14/5).

Pernyataan ini mengacu pada ratusan petugas pemilu, mulai dari Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), Bawaslu, dan aparat keamanan yang meninggal saat Pemilu Serentak 2019. Masalah lain yang juga digarisbawahi olehnya adalah tentang adanya politik uang yang sangat tajam, apalagi dengan terungkapnya seorang petinggi dari tim 01 dengan ratusan amplop yang ditujukan untuk memenangkan paslon 01. Tentang kepala-kepala desa yang dipaksa untuk menggerakkan masyarakat agar memilih paslon 01 pun diungkap oleh Sandi.

Sandi juga menyebutkan bahwa sejak persiapan kampanye, terjadi banyak kejanggalan yang tidak ditangani, di antaranya mengenai DPT-DPT bermasalah, kotak suara yang terbuat dari kardus, 6,5 juta orang yang tidak menerima undangan memilih, adanya pengusiran dan intimidasi saksi-saksi 02. Dan juga dilumpuhkannya instrument kontrol dalam pemilu, adanya kriminalisasi atas ulama, penangkapan aktifis dan para cendikia, pembentukan tim asistensi hukum nasional. Dalam pandangannya ini semua adalah tindakan vulgar yang memberangus demokrasi dan kedaulatan rakyat.”

Di akhir orasi, Sandi meneriakkan “kami ingin mengajak saudara saudara untuk terus berjuang sekuat tenaga, sampai titik darah penghabisan, jaga kedaulatan rakyat, takbir!”

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page