close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

SIKAP RASULULLAH KETIKA MASJID DIKOTORI

Tajuk Rasil
Rabu, 3 Juli 2019

Sikap Rasulullah Ketika Masjid Dikotori

Islam adalah rahmat untuk seluruh penghuni alam, siapa pun mereka: muslim, kafir, bahkan hewan dan tumbuhan. Hal itu bisa kita simak dari sifat dan keteladanan Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi orang bodoh yang mengotori kesucian masjid.

Alkisah, suatu hari Masjid Nabawi kedatangan seorang Arab dari wilayah perkampungan. A’rabiy istilahnya. Kemudian, tak lama setelah itu, ternyata orang Arab badui tersebut buang air kecil di area masjid Nabawi. Patut diketahui, bahwa masjid pada masa Rasulullah jelas tidak seperti masjid kita saat ini, yang menggunakan karpet, dikeramik lantainya, serta dibangun megah. Masjid pada masa Rasulullah beralaskan tanah, sehingga jika ada hujan, maka tanahnya menjadi basah dan repot digunakan beribadah.

Selanjutnya, Orang Arab kampung yang kencing di masjid Nabawi itu tentu saja segera dikerubung para sahabat Nabi. Mereka mencela dan meneriaki perbuatan itu, sebagai sesuatu yang tentu saja kelewatan. “Sungguh buruk apa yang ia lakukan,”. Demikian ucapan salah seorang sahabat, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab hadits Shahih Muslim.

Dan Rasulullah SAW pun melerai mereka. “Wahai kalian, Biarkan saja dia sampai selesai,” Sahabat yang mengetahui hal itu segera berhenti mencela orang Arab badui tadi. Setelah orang Arab badui itu berlalu, Rasulullah meminta kepada sahabat untuk mengambil air sekitar satu timba. “Siramkan air itu di atas tanah yang dikencingi tadi,” kata beliau.

Dari kisah ini dapat kita simpulkan sebuah kaedah yang sudah masyhur di tengah-tengah para ulama yaitu jika kemungkaran tidak dapat dihilangkan kecuali dengan kemungkaran lain yang lebih besar, maka kemungkaran ini tidak boleh diingkari. Jika kita menghilangkan suatu kemungkaran, namun malah mendatangkan kemungkaran yang lebih besar maka ini sama saja kita melakukan kemungkaran yang pertama tadi dan kita menambah kemungkaran yang baru lagi.

Selayaknya bagi orang yang ingin melarang suatu kemungkaran, dia menjelaskan sebab kenapa dia melarang hal itu. Lihatlah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tatkala melarang orang badui ini, beliau menjelaskan bahwa hal ini dilarang karena masjid adalah tempat yang tidak diperbolehkan terdapat kotoran dan najis. Masjid adalah tempat untuk berdzikir kepada Allah dan melaksanakan shalat. Sehingga dengan demikian, orang badui yang sebelumnya belum tahu, akhirnya menjadi tahu.

Rasulullah juga hendak mengajarkan setiap orang bahwa tatkala berinteraksi dengan seseorang, dia harus menyikapinya sesuai dengan keadaannya. Orang badui ini bukanlah penduduk Madinah. Jika penduduk Madinah yang melakukan demikian tentu Rasulullah akan menyikapinya berbeda. Akan tetapi Rasulullah menyikapi orang ini sesuai dengan keadaannya yang jahil dan kurang paham agama.

Adalah Muslim, bila ia menjadikan semua lisan dan amalan Rasulullah Muhammad, sebagai panduan dalam segala hal dalam hidupnya. Tanpa memilih-milih mana yang dia laksanakan dan mana yang dia tinggalkan, kita mengambilnya secara utuh, sebab itulah satu-satunya kebenaran dan kebaikan

Hanya saja, ada beberapa orang yang ketika melihat kejadian seperti yang baru-baru ini viral, “Non-Muslim yang masuk dengan anjingnya ke Masjid”, lalu merespon dengan “sok bijak”, lalu menyalahkan Muslim yang ada di Masjid berlebihan ketika menghalau wanita non-Muslim itu Alasannya, meneladani kisah Rasulullah diatas.

Mungkin ada yang mereka lupakan, yang Rasulullah lakukan itu sebab Arab Badui ini belum tahu, dan badui pun tidak marah-marah, bahkan mengamuk ketika diingatkan. Dan mungkin mereka juga lupa, bahwa para sahabat menyatakan rasa marah itu sebab masih ada keimanan pada diri mereka. Dan ciri orang beriman adalah mencegah dan meluruskan kemungkaran yang ada di hadapannya.

Sementara bagi kita melihat kasus “masjid Al-Munawaroh Sentul City” ini sikapi dengan pandangan normatif dan pandangan di luar itu. Pertama kalau benar bahwa wanita Katolik sakit kejiwaannya maka, secara normatif tidak boleh serta merta disalahkan, karena orang stress. Justru masalahnya, mengapa ia dapat masuk ke mesjid?. Kedua, perlu diwaspadai jika ini dilakukan orang sehat yang berpura-pura stress, perlu investigasi dan penelusuran yang cermat. Azas praduga tidak faham tetap harus didahulukan untuk ibu katolik tersebut.

Wallahu A’lam Bish Showaab

Tags:

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page