close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

TIMTENG, KONFLIK KEPENTINGAN, BUKAN PERANG AGAMA

Tajuk Rasil
Senin, 7 Januari 2019

Ada sebuah buku yang semakin relevan dibicarakan di kalangan akademisi, pengamat dan pemerhati kawasan Timur Tengah. Buku itu berjudul Sectarianization: Mapping the New Politics of the Middle East, terbitan – Oxford University Press, Maret 2017.

Penulisnya, peneliti dan akademisi terkemuka, Nader Hashemi dan Danny Postel. Hashemi adalah Direktur Pusat Studi Timur Tengah di Universitas Denver, Colorado, Amerika Serikat. Sedangkan Postel adalah Asisten Direktur Program Studi Timur Tengah dan Afrika Utara di Northwestern University Illinois, Amerika Serikat.

Di dalam buku itu diungkapkan bahwa, ketika Timur Tengah semakin terpecah ke dalam kekerasan dan kekacauan, sektarianisme telah menjadi penjelasan umum untuk semua masalah di kawasan ini. Berbagai konflik di Timteng itu telah berubah dari gerakan non-sektarian atau lintas-sektarian dan non-kekerasan menjadi perang sektarian.

Melalui berbagai studi kasus di Suriah, Irak, Lebanon, Arab Saudi, Bahrain, Yaman, dan Kuwait, buku ini memetakan dinamika sektarianisasi, tidak hanya bagaimana tetapi juga mengapa itu terjadi. Sempat santer dimunculkan isu Syiah-Sunni, bahkan kencang sekali aura panasnya ke negeri kita. Sejumlah pemimpin politik dan pemerintahan Amerika Serikat menyebut konflik tersebut adalah konflik agama.

Namun, pertanyan besarnya adalah, “Apakah umat Islam di Irak, Suriah, Yaman, Lebanon dan sebagainya, adalah perang karena iman agama sebagaimana masa Nabi Muhammad? Apakah agama adalah jantung dari konflik mereka? Apakah mereka berperang karena melawan orang-orang kafir yang memerangi Islam dan Muslimin?”

Di sini agama hanya merupakan bagian kecil dari gambaran geo-strategis dan politik yang jauh lebih besar dan kompleks. Abad ke-21 ini menjadikan konflik modern di negara-negara lebih dipicu oleh persaingan politik, nasionalisme, persaingan geo-strategis kawasan dan perebutan energi alam atau minyak.

Perang sektarian di Timteng saat ini berakar pada nasionalisme modern, bukan dalam teologi Islam. Konflik sektarian ini telah menjadi perang proksi antara Iran dan Arab Saudi, dua aktor nasionalis yang saling mengejar persaingan strategis mereka di kawasan.

Fakta sejarah menyebutkan, Sunni dan Syiah telah hidup berdampingan selama sebagian besar sejarah mereka, ketika sedikit tatanan politik memberikan keamanan bagi kedua komunitas. Fakta sejarah juga telah membuktikan, bahwa kedua komunitas tidak memiliki kecenderungan genetik untuk saling bertarung. Konflik tidak ada dalam DNA mereka, dan perang bukanlah jalan mereka.

Hal yang sama berlaku untuk persaingan nasionalis antara Iran dan Arab Saudi. Konflik regional antara Teheran dan Riyadh bukanlah masalah primordial dan juga bukan hal yang tidak bisa diselesaikan. Pada akhir tahun 1970-an, Iran dan Arab Saudi adalah sekutu monarki melawan republikanisme nasionalis Mesir di bawah Gamal Abdel Nasser.

Singkatnya, Sunni dan Syiah tidak bertempur dalam perang agama. Sebaliknya, nasionalisme Iran dan Arab terlibat dalam persaingan regional, khususnya di Suriah dan Irak. Perang sekarang pun bukan pada kosakata “jihad versus perang salib”. Namun lebih pada perebutan pengaruh kawasan melalui perebutan kekuasaan politik negara. Justru lebih pada bangsa Arab melawan bangsa Arab, atau lebih pada komunitas Muslim vs komunitas Muslim lainnya. Banyak pendorong ketegangan di kawasan, diperkuat lagi dengan kepentingan Barat akan potensi ekonomi, terutama sumber daya alam, terutama lagi minyak dan gas.

Prof. Omer Taspınar, guru besar strategi keamanan nasional di Universitas Pertahanan Nasional, Washington, mengatakan bahwa perpecahan di Timur Tengah adalah tentang nasionalisme, bukan konflik dalam Islam. Kecenderungan untuk melebih-lebihkan isu Sunni-Syi’ah sebagai “perang dalam agama Islam” hanyalah kebencian yang dirancang untuk konflik dan pertikaian berdarah yang konon tidak bisa diselesaikan ini.

Umat Islam harus kembali pada Al-Quran dan telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad sebagai solusi strategis, global dan kuat dalam menyelesaikan semua konflik dunia. Terlebih ini menimpa dunia Islam, lebih khusus lagi di kawasan Timur Tengah yang adalah tempat awal berkembang dan bersinarnya ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Prinsip-prinsip ajaran Al-Quran lebih mengedepankan upaya mediasi, yaitu proses penyelesaian sengketa antara kedua belah pihak dengan mendatangkan seorang juru damai. Prinsip musyawarah merupakan suatu upaya untuk memecahkan sebuah persoalan guna mengambil keputusan bersama, termasuk dalam mengatasi konflik. Prinsip islah, saling mendamaikan dan memaafkan antarsesama kaum beriman menjadi prinsip berikutnya.

Wallahu’alam

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page