• Print
close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

ALLAH SWT YANG MAHA ADIL

Tajuk Rasil
Kamis, 27 Juni 2019

Tidak jarang manusia menganggap Tuhan tidak adil karena memberi sesuatu yang lebih pada satu pihak. Menyediakan kemudahan pada seseorang dan memberi kesulitan pada lainnya. Secara sederhana bencana, penyakit, kemiskinan, peperangan, iklim buruk, seolah merupakan bentuk ketidakadilan Tuhan.

Tapi seorang Muslim harus meyakini, adil adalah salah satu sifat Allah SWT, dan tidak adil menjadi sesuatu yang mustahil bagi-Nya. Dengan melakukan perjalanan, mengamati dunia ciptaan Allah yang luas, juga dengan banyak membaca, mata kita akan terbuka untuk melihat betapa adilnya Allah SWT.

Bentuk keyakinan kita kepada Allah SWT yang maha Adil harus menelaah Alquran, karena dalam Alquran Surat At-Tiin Allah SWT disebut Al-Ahkam atau Al-Hakim yang artinya Hakim Yang Paling Adil. Dan juga karena keadilan-Nya, Allah SWT disebut juga Al- ‘Adl (Tuhan Yang Maha Adil). Adil karena memberikan kepada makhluk hak mereka serta ditempatkan-Nya masing-masing makhluk-Nya itu pada posisi yang sesuai dengan tabiat mereka.

Allah SWT juga tidak pernah membebankan suatu taklif (beban ibadah) yang tidak sesuai dengan kemampuan manusia (ahliah), seperti firman-Nya dalam Surat Al-Baqarah ayat 286 yang artinya, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, la mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”

Atas landasan demikian, ulama usul fikih sepakat menetapkan bahwa kemampuan manusia merupakan dasar adanya taklif, baik dalam bentuk kecakapan menerima hak maupun kecakapan bertindak hukum. Sehingga segenap manusia dapat menerima haknya selama dia memiliki kehidupan yang sempurna dan tidak dapat menerima haknya secara penuh jika kehidupan yang dimilikinya hanya dalam bentuk kehidupan yang tidak sempurna, seperti kehidupan janin di dalam perut ibunya.

Keadilan Allah SWT amat luas, banyak yang tak terkira oleh manusia. Ada suatu hal yang dipandang buruk oleh manusia, tetapi justru di dalamnya tersimpan keadilan. Sebaliknya, ada pula sesuatu hal yang dipandang baik dan adil oleh manusia, tetapi justru di dalamnya terdapat ketidakadilan.

Alquran menyebutkan, “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” ( Al Baqarah ayat 216).

Atas dasar keadilan itulah Allah SWT memperlakukan segenap makhluk-Nya. Setiap orang, laki-laki dan perempuan mendapat perlakuan yang sama di sisi Allah SWT. Setiap perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkannya secara sendiri-sendiri di hadapan Allah di akhirat kelak. Setiap perbuatan baik akan dibalas dengan pahala dan pelakunya akan mendapat ganjaran surga sedangkan perbuatan jahat akan dibalas dengan dosa dan pelakunya ditempatkan di neraka.

Oleh sebab itu, tidak ada amal yang sia-sia, semuanya akan diadili oleh Allah Yang Maha Adil secara teliti, sehingga tak seorang pun yang merasa teraniaya. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh. maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali, kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba- hamba(Nya).” (QS. Fussilat ayat 46).

Di atas landasan keadilan itu manusia menempati kedudukannya yang paling tinggi di antara makhluk, makhluk Allah SWT. Dalam kedudukan demikian antara satu dan yang lain menempati posisi yang sama di mata hukum. Masing-masing individu mempunyai hak yang sama dan hak itu diimbangi pula dengan kewajiban yang harus dipikulnya. Karena itu, tidak boleh ada di antara manusia yang menindas sesamanya.

Ikhwan Akhwat….
Mari cermati bangsa Indonesia, yang sangat diberkahi. Penduduknya bebas menikmati sinar matahari nyaris setiap hari. Waktu siang dan malam relatif sama sepanjang tahun. Hanya ada dua musim, panas dan hujan. Tidak ada salju yang menyelimuti dan menutupi jalan serta mengganggu aktivitas. Di atas kertas bangsa Indonesia sangat dimanja, diberi begitu banyak kemudahan oleh Allah SWT. Kekayaan alam melimpah, rakyatnya ramah-ramah.

Dengan adanya Keadilan Allah SWT yang demikian, maka bangsa Indonesia harus menjaga anugerah rahmat keadilan Allah SWT agar selalu ditegakkan. Karena keadilan Allah SWT dapat mendorong manusia dan bangsa Indonesia khususnya untuk senantiasa menjauhkan diri dari kejahatan dan selalu berupaya untuk melakukan kebaikan dan kebenaran.

Wallahu A’lam Bish Showaab

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page