Tuesday, October 20, 2020
Home Uncategorized APAKAH PANCASILA MASIH SAKTI

APAKAH PANCASILA MASIH SAKTI

Selasa, 1 Oktober 2019 

Apakah Pancasila Masih Sakti ?

Apakah Pancasila itu masih sakti? Ataukah kesaktiannya telah pudar dan telah tergantikan baik karena bencana yang terus-menerus terjadi atau karena telah muncul para “politisi sakti”, yang bersalah tetapi selalu benar.  yang korup tapi pandai berkelit, yang masa bodoh tetapi tetap merasa hebat dan berhasil karena selalu dibela, yang punya banyak pendukung tanpa otak dan hati nurani. Yang berjanji memberi keadilan dan kesejahteraan tapi tak kunjung ditepati. 

Luka dan duka bangsa Indonesia seakan tiada berujung dan tiada berakhir. Luka dan duka “Pemberontakan 1965” saja tak pernah terobati hingga kini, pembantaian terhadap ribuan orang tak berdosa hingga kini hanya menjadi bayang-bayang kelam karena kita hanya mau melihat dari kacamata politis belaka dan tidak mau pernah melihat dari kacamata yuridis dan apalagi kemanusiaan.

Sebaiknya saat ini di hari yang penuh catatan sejarah ini ( akhir bulan September dan memasuki bulan Oktober ), seluruh warga negeri ini harus berhenti sejenak menundukkan kepala dan berdoa atas korban-korban jiwa yang sudah berjatuhan selama beberapa hari terakhir ini. Kita berduka bersama dengan keluarga-keluarga yang ada, 33 orang meninggal di Wamena Papua akibat kerusuhan yang terjadi. Kita juga berduka bersama dengan puluhan korban jiwa akibat gempa bumi yang memporak porandakan Ambon pekan yang lalu. Dan negeri ini berduka atas jatuhnya korban jiwa dan luka-luka mahasiswa di berbagai daerah sebagai akibat dari demo dan bentrok yang terjadi.

Apapun alasan yang terjadi, dan bagaimana proses kejadian itu terjadi, fakta yang ada disana ada korban jiwa, ada banyak yang cedera luka dan sakit, disana ada kehancuran kehidupan. Dan karenanya kita semua berduka, Indonesia berduka. Sebab yang menjadi korban itu bukan orang lain. Tetapi sesama anak bangsa sebagai pemilik republik ini.

Suhu menjadi sangat tinggi dan panas. Bukan saja karena hujan sudah lama tidak turun di sejumlah kota seperti Jakarta. Tetapi juga karena panasnya suhu politik di negeri ini, yang sedang “memperebutkan” sesuatu “kekuasaan” atau “hak dan kewenangan” dan atau yang lain sedemikian kencang sehingga muncul konflik karena saling mengklaim.

Suka atau tidak suka, senayan menjadi poros panas suhu politik di negeri ini, terutama sejak hak inisitif DPR untuk merevisi UU KPK dan terus berlanjut pada sejumlah RUU yang harusnya ditargetkan selesai disahkan di hari terakhirnya sebelum Dewan periode 2014-2019 lengser. Memang wilayah senayan, tempat bermukimnya para wakil rakyat menjadi sumber panasnya suhu politik yang lalu menyebar keseluruh pelosok negeri ini. Dan saking panasnya, dia memang “membakar” apa saja yang diterjangnya.

Duka Papua, duka Ambon dan juga duka Indonesia. Harus ada sebuah gerakan sederhana tetapi menyentuh langsung keberadaan kebersamaan anak negeri ini dalam mensikapi duka yang sedang terjadi. Dan mungkin akan terus terjadi dengan fenomena lainnya. Para anggota legislatif yang beruntung untuk lima tahun kedepan harusnya menjadi pahlawan bagi negeri ini dalam memajukan kehidupan masyarakat dalam segala hal. Harusnya saat-saat ini ditantang dan diuji untuk memberikan sikap yang menjadi kunci keberhasilan bangsa ini lima tahun kedepan.

Maksudnya adalah negeri ini tidak bisa dibangun dan dijalankan dengan seorang diri, sekelompok parpol atau kelompok saja, tetapi harus dalam derap bersama-sama yang eksis dengan segala keberagaman yang ada di seluruh bumi nusantara Indonesia ini. Karena negera ini adalah “Negara Pancasila”. Biasanya yang mempersatukan itu hanya dua kejadian ekstrim saja, yaitu ketika sedang senang atau ketika sedang berduka.

Kali ini menjadi menyatu antara senang dan duka. Pelantikan anggota Legislatif, Presiden dan Wakil Presiden adalah suasana suka dan kegembiraan bagi sebagian rakyat. Tetapi Papua, Ambon dan Kendari adalah suasana sedang berduka. Terhadap semua duka itu, kita hanya bisa berdoa semoga Allah SWT bertindak menolong.

Tetapi melemparkan semua tanggung jawab pada Tuhan dan kita hanya mau “cuci tangan” ada perbuatan tercela dan melanggar prinsip-prinsip Pancasila dan UUD 1945. Siapakah yang berwenang untuk mengamalkan sila Kelima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Kita semua, terutama pemegang amanah rakyat: Presiden Indonesia dan para Wakil Rakyat “di tempat yang pertama” karena mereka dipilih rakyat Indonesia untuk itu. Para politisi dan kita semua “di tempat yang kedua”, yang dekat jalur-jalur kekuasaan perlu bersuara dan bertindak nyata, jika tidak Pancasila dan UUD 1945 dan semua pasal terkait hanyalah wacana dan retorika belaka dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam ancaman yang besar terhadap eksistensinya ke depan. Jika itu terjadi, hilanglah kesaktian Pancasila. Semoga kita tidak hanya diam menonton, tetapi bicara dan bertindak!

Wallahu alam bishawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Pemerintah Belanda Bersedia Membayar Rp 87,2 Juta Bagi Janda dan Anak anak Korban Penjajahan Belanda Hingga Akhir 1940-an

Belanda, Rasilnews - Menteri Luar negeri Belanda Stef Blok dan Menteri Pertahanan Ank Bijeveld menyampaikan bahwa anak-anak yang dapat membuktikan bahwa...

Sebanyak 10.587 Personil Gabungan TNI-POLRI Akan Mengamankan Aksi Demo Tolak Amnibus Law

Jakarta, Rasilnews - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Polda Metro Jaya mengatakan bahwa Sebanyak 10.587 personel gabungan...

Pemrov DKI Berkomitmen Terhadap Upaya Kesehatan dan Sosial Ekonomi Jakarta

Jakarta, Rasilnews - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Senin (19/10) melalui Rapat...

Gaza Palestina Berterimakasih Kepada Jamaah Muslimin (Hizbulllah) Indonesia

GAZA, PALESTINA - Wali Kota Rafah, Anwar Hamdan Al Shaer, mengucapkan terima kasih atas Program Wakaf 1.000 Pohon Zaitun untuk Gaza...

Recent Comments