XINJIANG, RASILNEWS – Institut Kebijakan Politik Australia (ASPI) melaporkan, hanya dalam tiga tahun ribuan masjid di Xinjiang telah rusak atau hancur, menyisakan jumlah yang paling sedikit di wilayah itu sejak era Revolusi Kebudayaan.

Dikutip dari The Guardian pada Sabtu (26/9), ASPI mendapatkan data tersebut melalui citra satelit dan laporan di lapangan, untuk memetakan pembangunan kamp tahanan yang ekstensif dan berkelanjutan serta perusakan situs budaya dan agama di utara, bagian barat.

Pemerintah China sendiri mengklaim bahwa ada lebih dari 24.000 masjid di Xinjiang, mereka berkomitmen untuk melindungi dan menghormati keyakinan agama. Namun, pernyataan itu tidak didukung oleh temuan tersebut, dan diperkirakan hanya kurang dari 15.000 masjid yang saat ini masih berdiri, sedangkan lebih dari setengahnya telah rusak.

“Ini adalah angka terendah sejak Revolusi Kebudayaan, ketika kurang dari 3.000 masjid tersisa,” kata laporan itu.

Selain itu, sekitar 50 persen situs budaya yang dilindungi juga telah rusak atau hancur, seperti Ordam Mazar, sebuah situs kuno ziarah yang berasal dari abad ke-10.

Sejak 2017, diperkirakan 30 persen masjid telah dihancurkan, dan 30 persen lainnya rusak, termasuk penghapusan fitur arsitektur seperti menara atau kubah, kata laporan itu.

Sebagian besar situs tetap dibiarkan sebagai lahan kosong, yang lain diubah menjadi jalan dan tempat parkir mobil atau untuk keperluan pertanian.

Beijing telah menghadapi tuduhan yang didukung oleh bukti yang semakin banyak mengenai pelanggaran hak asasi manusia massal di Xinjiang, termasuk penahanan lebih dari satu juta Muslim Uighur dan Turki di kamp-kamp penahanan.

Beijing dengan keras menyangkal tuduhan tersebut dan mengatakan kebijakannya di Xinjiang adalah untuk melawan terorisme dan ekstremisme agama, dan bahwa program tenaga kerjanya adalah untuk mengentaskan kemiskinan dan tidak dipaksa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here