• Print
close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

BALADA GARAM DI NEGARA MARITIM

Tajuk Rasil 31 Juli 2017

Paling enak memang menyalahkan alam. Dia tidak bisa membela diri. Apalagi memberikan argumentasi. Tidak melawan balik, atau ganti menyalahkan. Dia hanya diam, menerima fitnah dengan sabar. Termasuk soal urusan garam.

Salah satu yang disampaikan penyelenggara negara atas hilang dan langkanya garam adalah karena perubahan cuaca. Iklim yang tak menentu, berganti dengan cepat, dan tidak kondusif membuat produksi dan stok garam menghilang.

Bayangkan, Indonesia adalah negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Ini belum lagi ditambah dengan tambak-tambak yang bisa dibangun dan ada. Tambak-tambak yang bisa menghasilkan dan memproduksi garam untuk Indonesia. Dan hari ini, kita menemukan fakta bahwa garam harus impor dari negara-negara lain di dunia.

Indonesia akan mengimpor garam sebanyak 75.000 ton jumlahnya. SubhanAllah luar biasa. Pantai dan tambak kita sudah tidak lagi bisa mensupport kebutuhan garam Indonesia. Dan diputuskan oleh penyelenggara negara, Indonesia harus mendatangkan garam dari negara lainnya.

Padahal yang terjadi adalah, karena panjang pantai yang berukuran lebih dari 92 ribu kilometer itu tidak terurus dan terbengkalai. Tambak-tambak para petani garam tidak terbina dan mendapatkan perhatian yang semestinya. Yang terjadi adalah mafia-mafia impor mencoba membuat mereka lebih kaya dan ternyata usahanya berhasil membuat Indonesia mengimpor garam sebanyak puluhan ribu ton jumlahnya. Yang terjadi adalah, penyellengara negara tak mengurus apa yang semestinya diurus.

Sepatutnya Indonesia tidak mengalami kelangkaan garam untuk konsumsi dalam negerinya. Sepatutnya Indonesia tak mengimpor garam dari negara lain. Sepatutnya, bahkan Indonesia bisa menjadi negara produsen garam terbesar di dunia. Tapi apa daya, memang tidak terurus oleh negara yang merasa kaya tapi punya hutang yang luar biasa.

Kebutuhan garam nasional sungguh bisa diprediksi jumlahnya. Baik untuk keperluan rumah tangga maupun untuk keperluan industri. Kita sudah memiliki data prediksi kebutuhan tahunannya. Solusi untuk masalah ini sebenarnya sungguh sederhana. Penyelenggara negara hanya perlu membuka telinga, membuka mata, melihat langsung, mendengarkan apa yang terjadi di bawah dan memiliki hati yang terbuka untuk menerima banyak nasihat dari orang yang dianggap berbeda. Lalu menjadi apa yang dilihat dan didengar sebagai bekal untuk bekerja dengan keras dan tulus.

Semua itu dengan catatan, jika masih memiliki mata, telinga dan hati yang terbuka.

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page