• Print
close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

BELUM MASA MEMETIK BUAH

Tajuk Rasil 19 Sept 2017

Negeri tercinta ini seperti sebuah lahan. Tanah yang subur, makmur dan penuh harapan. Tapi, sebagai lahan garapan, Indonesia yang begitu kaya ini telah terlalu lama dirusak.

Mari kita hitung dengan cermat, berapa kuantitas dan kualitas kerusakan yang dialami dan diderita Indonesia. Negeri ini, tanah, air dan rakyatnya dikuasai penjajah Belanda, konon ratusan tahun lamanya. Sebut saja 350 tahun, begitu yang tertera dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. Kualitas kerusakannya, juga luar biasa tak hanya materi. Terjadi politik adu domba, sekulerisasi hukum dan di bidang sosial lainnya.

Lalu Inggris, meski tidak terlalu lama, hanya peralihan kekuasaan saja di bawah Raffles. Konon, dijajah Inggris adalah keberuntungan tersendiri. Sebab, Inggris disebut mencerdaskan bangsa jajahannya. Tapi tetap saja, namanya penjajah selalu memberikan lebih banyak kerugian dibanding manfaatnya untuk Indonesia, bangsa yang dijajahnya.

Kemudian dua setengah tahun di bawah kekuasaan Dai Nippon, bangsa ini sudah merasakan betapa pahitnya dipaksa menyembah matahari setiap pagi. Ritual ini biasa disebut seikere. Siapa saja yang menolak seiker, Kenpetai akan menyiksanya. Belum lagi kerja paksa bernama Romusa dan perkosaan perempuan besar-besaran dalam sejarah Indonesia yang bernama Jugun Ianfu.

Sebelum merdeka, bangsa ini punya luka besar yang menganga. Ketika merdeka, sepintas lalu seolah kita punya kesempatan untuk mengobati luka dan mengolah lahan secara berdaulat. Tapi lagi-lagi kekuasaan Orde Lama, tak terlalu bisa kita sebut sebagai kekuatan penyelamat. Kekecewaan terjadi di sana-sini, bahkan di akhir masa rezimnya, negeri ini diajak untuk menjauh dari Tuhan dengan mengakui sistem komunis sebagai salah satu pilihan.

Tumbang Orde Lama, tumbuh Orde Baru. Lagi-Lagi negeri ini menyambutnya dengan penuh harapan. Tapi rupanya, selama 32 tahun negeri ini diolah semaunya, seolah-olah lahan milik pribadi dan bukan milik bersama. Dan setelah rezim tumbang, yang tersisa kini, hanya kubang yang besar. Hutangnya sampai beranak cucu.

Baru 19 tahun, semangat kebaikan mendapat tempat dan kesempatan. Reformasi, gerakan Islam tumbuh dengan berbagai wadah dan wajahnya. Ada yang berbentuk partai, ada pula yang merintis gerakan, tak kurang jumlahnya yang mengambil manhaj (metode) organisasi kemasyarakatan.

Mereka kerja membangun negeri, mengolah lahan dengan semangat kebaikan. Baru 19 tahun, sejak 1998. Itupun ditingkahi dengan segala macam rintangan yang tak pernah ringan. Ada gerakan kebebasan, ada geliat globalisasi dan ada arus besar pemikiran yang membahayakan.

Baru 19 tahun. Tanahnya, belum lagi subur. Kita masih harus menata lagi irigasi dan pematang. Kita masih harus menyiangi lahan, siang dan malam. Memupuknya. Menanam benih unggulan. Juga menjaganya dari wereng dan hama lainnya yang siap mengancam.

Tapi, sungguh ironis. Di tengah proses berat sedemikian rupa, ternyata ada saudara-saudara kita yang merasa sudah tiba saatnya memetik buah. Bahkan lebih menyeramkan lagi. Sebagian dar… Baca selengkapnya

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page