Wednesday, October 28, 2020
Home Tajuk Rasil "BUNGKUSAN" ISU RADIKALISME

“BUNGKUSAN” ISU RADIKALISME

Tajuk Rasil
Selasa, 29 Oktober 2019

“Bungkusan” Isu Radikalisme

Perang melawan Islam yang dibungkus radikalisme ternyata tidak laku lagi ditengah masyarakat. Umat sudah mulai tahu apa dibalik bungkus radikalisme. Kesadaran umat untuk berIslam secara berjamaah sudah mulai menguat. Umat semakin cerdas sehingga tidak mudah terprovokasi dengan skenario isu radikalisme yang mendeskreditkan Islam yang mulia.

Pemerintah terus menyuarakan perang melawan radikalisme. Isu radikalisme seperti menjadi konsen utama pemerintahan Joko Widodo-Maruf Amin. Sejumlah menteri bahkan dengan tegas menyebut bakal fokus bekerja untuk menangkal radikalisme. Salah satunya Menteri Agama Fachrul Razi. Mantan wakil panglima TNI itu dengan tegas mengakui diberi tugas Presiden Jokowi untuk mencari terobosan dalam menangkal radikalisme.

Namun rakyat sudah mulai sadar, seolah-olah ada skenario perang melawan radikalisme yang sebenarnya untuk mendeskreditkan Islam. Bahkan, kesadaran akan skenario dari radikalisme juga disadari oleh Rizal Ramli. Menurutnya isu radikalisme yang didengungkan pemerintah bukan hal yang aneh, isu ini akan terus dimainkan dalam setahun pemerintahan Joko Widodo-Maruf Amin. Mantan Menko Perekonomian era presiden Abdurrahman Wahid itu mengaku telah mencium ada maksud lain dari pemerintah dengan terus mendengungkan isu tersebut.

Di antaranya, untuk menutupi peforma ekonomi yang kembali memburuk di tahun ini. Dari beberapa tahun lalu, pria yang akrab disapa RR itu sudah memprediksi bahwa ekonomi Indonesia bakal nyungsep tahun ini. Pertumbuhan ekonomi diprediksi tidak sampai 5 persen. Tokoh yang juga pernah menjabat Menko Kemaritiman itu menilai jurus monoton yang ditunjukkan Menteri Keuangan Sri Mulyani tidak bakal ampuh mendongkrak ekonomi Indonesia. Sebab menteri berpredikat terbaik dunia itu hanya mengandalkan utang dan kebijakan austerity atau pengetatan anggaran tanpa ada terobosan-terobosan.

Prediksi RR terbukti bukan sembarangan. Pasalnya, baru empat hari dilantik menjadi menteri di Kabinet Indonesia Maju, Sri Mulyani telah mengumumkan rencana akan menerbitkan surat utang berdenominasi valuta asing atau global bond. Langkah Sri Mulyani itu diambil karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 mengalami defisit sementara kebutuhan negara membengkak.

Itu di mata seorang Rizal Ramli, belum lagi analisa mantan pejabat legislatif Fahri Hamzah. Isu Radikalisme yang mencuat kembali menurutnya telah terjebak menjadi industri. Cara pejabat menakut-nakuti bangsa ini dengan isu radikal yang dituduhkan kepada kelompok Islam ini sudah merusak banyak sekali modal sosial masyarakat Indonesia yang tidak mudah dikembalikan.

Dengan terheran Fahri Hamzah melemparkan berbagai pertanyaan, kok bisa bangsa mayoritas Islam ditakut-takuti dengan ajaran Islam. Lalu kok kita semua percaya bahwa radikalisme ada di mana-mana dan mengancam negara kesatuan. Ajaib. Contoh dari satu dua ceramah dari ribuan ceramah setiap hari di seluruh Indonesia di-copy dan dijadikan alat bukti. Seperti permainan kemarin, gara-gara pak Din Syamsudin kritik pemerintah, lalu dia dituduh membiaya teroris. Ini permainan orang sakit. Sebab kalau Pak Din sebagai tokoh perdamaian dunia yang dikenal dan mendapat penghargaan dari banyak negara disebut teroris terus kita gimana?

Secara tegas Fahri Hamzah pun memberikan masukan kepada Menkopolhukam, Mahfud MD. Inilah tugas berat menteri kita yang baru. Mengakhiri bisnis orang-orang yang tidak menghendaki adanya persaudaraan dan perdamaian sejati di negeri ini. Mereka bermain di air keruh, tokoh-tokoh moderat akhirnya jadi ekstrem dan sulit ditarik kembali. Padahal, negara memerlukan solidaritas yang luas dan kuat.

Ikhwan Akhwat,,,,
Kampanye deradikalisasi cukup berbahaya untuk umat Islam karena berpotensi menyimpangkan dan akan melahirkan tafsiran-tafsiran menyesatkan. Khususnya terhadap penafsiran nas-nas syariat. Contohnya adalah upaya tahrif (penyimpangan) pada makna jihad, tasamuh (toleransi), syura’ dan demokrasi, hijrah, thaghut, muslim dan kafir, persatuan ummat, klaim kebenaran, doktrin konspirasi, serta upaya mengkriminalisasi dan monsterisasi terminologi Daulah Islam dan Khilafah.

Selain itu, umat akan terpecah-belah dengan kategorisasi radikal-moderat, fundamentalis-liberal, Islam ekstrem-Islam rahmatan, Islam garis keras-Islam toleran, dan istilah lainnya yang tidak ada dasar pijakannya dalam Islam. Semoga ummat Islam bisa merapatkan barisan untuk menghadapi segala permasalahan tersebut.

Wallahu ‘Alam bishawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Sebanyak 12.369 Personel Gabungan Amankan Aksi Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law Ciptaker

Jakarta, Rasilnews - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan sebanyak 12.369 personel gabungan TNI-Polri dan pemerintah daerah diterjunkan...

Aqsa Working Group Ikut Serta Dukung Aksi Global Aksi Mogok Makan Untuk Pembebasan Tahanan Palestina

Jakarta, Rasilnews - Al-Aqsa Working Group (AWG) menyatakan ikut serta untuk mendukung aksi global mendukung aksi mogok makan yang dilakukan oleh...

Satgas Ingatkan Pemda Agar Tak Lengah Sikapi Zonasi

JAKARTA, RASILNEWS - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito ingatkan Pemda soal zonasi karena peningkatan zona oranye. Melihat peta...

MUI desak Presiden Perancis Meminta Maaf Kepada Umat Islam

Jakarta, Rasilnews - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas meminta Presiden Prancis Emmanuel Macron minta maaf kepada umat...

Recent Comments