Monday, October 26, 2020
Home Tajuk Rasil Hidup Lebih Bermakna

Hidup Lebih Bermakna

Dalam salah satu episode tayangannya, Oprah Winfrey mengungkap sebuah hasil polling yang cukup menarik. Dari survei yang dilakukan, sebagian besar pemuda Amerika lebih memilih menjadi terkenal daripada menjadi pintar. Menjadi terkenal telah menyita pikiran sebagian besar manusia. Menjadi terkenal telah menjadi satu hal yang begitu di damba oleh manusia.

Tak hanya di Amerika, fenomena serupa juga sedang menggejala di negeri tercinta ini. Bahkan, dengan berani saya mengatakan bukan sedang menggejala, tapi sudah lama telah menjadi arus besar dalam pikiran orang Indonesia. Lihat saja jumlah peserta audisi dan kontes acara seperti Indonesia Idol, KDI, dan Akademi Fantasi Indonesia (AFI). Ini sekadar contoh segelintir program yang pernah ada, kini program-program yang lain jumlahnya lebih banyak dan semakin beragam bentuknya.

Sebagai contoh, dulu pada musim pertama, audisi Indonesia Idol diikuti oleh sekitar 34.000 pemuda yang beradu nyali membuktikan penampilan diri, terutama dalam hal tarik suara. Di musim kedua, angkanya merangkak naik menjadi 37.000 ribu peserta yang mendaftar. Lonjakan terjadi ketika kontes Indonesian Idol memasuki musim ketiga, sebanyak 48.000 pemuda mendaftar untuk menjadi biduan atau biduanita. Dan pada putaran musim keempat, tak kurang dari 50.000 peserta yang mendaftarkan namanya sebagai calon bintang tarik suara. Musim terakhir, entah sudah berapa yang mendaftarkan diri mengikuti audisi.

Para pemuda dan pemudi itu, mereka datang dari tempat yang jauh. Menembus ngarai, bahkan badai. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari anak petani sampai seorang pangeran dari keluarga kerajaan. Suku, ras dan golongan, lengkap tak ada yang kurang. Mereka rela berhujan panas, antrian panjang tak menyurutkan keinginan, meski harus berjuang mempertahankan make up dan rias wajah lebih dari 12 jam.

Mereka yang mampu menyanyi, banyak jumlahnya. Tapi mereka yang tak bisa menyanyi, bahkan bukan sekadar tak bisa, tapi menyedihkan jika tarik suara, merasa mampu membuktikan diri di depan juri. Orang-orang berlomba berusaha untuk menjadi terkenal, meski dari awal ia sudah sadar ia tak memiliki kemampuan untuk menjadi terkenal.

Tarikan untuk menjadi terkenal, bahkan telah mengalahkan nalar. Inilah zaman kita. Zaman ketika lampu sorot, panggung dan tepuk tangan lebih penting daripada pencarian makna kehidupan. Tiba-tiba kita mendapati, kita hidup dan berada di tengah kedangkalan. Dikepung oleh hal-hal yang semu dan serba instant. Menjadi dalam, serius dan lebih filosofis adalah sebuah keganjilan!

Tentu saja bukan hal yang ringan untuk merebut kepopuleran. Sistem pasar hanya mengizinkan sedikit saja manusia untuk menjadi terkenal. Karenanya kita mengenal terminologi eliminasi, babak penyisihan atau sistem gugur dalam pertandingan. Bagaimana pun, tak semua orang mampu dan bisa menjadi terkenal. Lalu yang tersisih dan dieliminasi, menangis tersedu, meraung-raung, marah, memukul-mukul, kecewa dan begitu masgul. Jumlahnya bukan satu atau dua orang, tapi ribuan. Ini yang tak normal.

Hari ini, hidup kita sebagai manusia jauh lebih dangkal dibanding hitungan 10 tahun silam. Seharusnya kita memilih hidup yang lebih dalam, memaknai banyak hal, mencari alasan substansial dan menggali arti dari proses sejarah yang kita jalani. Bukan sekadar lahir, hidup, besar, lalu mati dan dilupakan.

Hidup ini jauh lebih besar daripada sekadar terkenal. Hidup ini jauh lebih penting dibanding dengan sorotan lampu dan tepuk tangan yang meriah meneriakkan nama kita. Semua orang harus mencari tahu, mengapa dan apa alasan Allah menciptakan kita sebagai manusia, sebagai Muslim, sebagai rakyat Indonesia, sebagai penduduk dunia. Sebab, “Rabbana maa khalaqta hadza bathila.” Allah tak pernah menciptakan sesuatu tanpa makna dan sia-sia.

Kedalaman hidup, itulah yang memberikan jaminan proses pencarian makna. Tanpa kedalaman menjalani kehidupan, kita akan menemukan diri sendiri, tidak ke mana-mana. Ibn Taimiyyah pernah memerintahkan kepada muridnya untuk mencari tahu, “Apa sesungguhnya makna dari dirimu?”

Sungguh, pertanyaan itu masih sangat relevan, bahkan lebih relevan untuk kita ajukan lagi sekarang. Karena semakin banyak orang menghendaki popularitas. Tidak hanya remaja, tapi juga yang tua. Tidak hanya profesi penghibur tapi semua lini, mulai dari politisi bahkan hingga aktivis dan guru mengaji. Dengan dorongan dari social media, hasrat untuk lebih terkenal dan populer semakin dipompa, hasratnya semakin besar dan menjadi-jadi saja. Di saat seperti ini, ada baiknya kita bertanya lagi dengan sungguh-sungguh. Apa sesungguhnya makna dari diri kita ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Jelang Kedatangan Habieb Rizieq Shihab Ke Indonesia

Jakarta, Rasilnews – Beredar sebuah video di medsos yang memperlihatkan nasehat dan pesan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habieb Rizieq...

12 Duta Besar untuk Negara Sahabat Dilantik Oleh Presiden Jokowi Hari ini

JAKARTA, RASILNEWS - Presiden Jokowi Widodo melantik 12 orang duta besar  luar biasa untuk ditugaskan di Negara-negara sahabat, Senin (26/10/2020).

Manfaat Bersepeda Secara Rutin

Oleh : Suji Rahayu (Jurnalis Rasilnews) Bersepeda atau yang populer disebut gowes, adalah termasuk sebagai salah satu...

Mewujudkan Keluarga Inspiratif

Oleh : Suji Rahayu (Jurnalis Rasilnews) Harta yang paling berharga adalah keluargaIstana yang paling indah adalah keluargaPuisi...

Recent Comments