Wednesday, October 28, 2020
Home Tajuk Rasil LINDUNGI GENERASI DARI BAHAYA MEDIA 'TRIPLE-ISME'

LINDUNGI GENERASI DARI BAHAYA MEDIA ‘TRIPLE-ISME’

Tajuk Rasil
Rabu, 11 Maret 2020/ 16 Rajab 1441 H

Lindungi Generasi dari Bahaya Media ‘Triple-isme’

Kasus pembunuhan terhadap anak berusia lima tahun yang dilakukan gadis remaja berusia 15 tahun di Jakarta Pusat beberapa waktu lalu menjadi duka mendalam dan keprihatinan semua orang. Terlebih pelaku diduga membunuh korban karena terinspirasi film horor yang menampilkan adegan pembunuhan. Kasus pembunuhan ini menimbulkan banyak pertanyaan, tentu menggemparkan dan menggegerkan banyak kalangan. Mulai dari orang tua, pendidik, pemerhati pendidikan, bahkan ahli psikologi.

Jika ditelisik secara mendalam, mencuatnya berbagai perilaku ‘eror’ remaja, tidak terlepas dari nilai-nilai kehidupan yang dianut dan sedang berlangsung dalam masyarakat. Terutama paham triple-isme, yaitu kapitalisme, liberalisme, dan sekularisme yang hampir mengakar dalam kehidupan. Khususnya konten-konten media elektronik mayoritas diinport dari negara yang jauh dari nilai-nilai agama.

Banyak argumentasi dihadirkan oleh orang-orang yang menyayangkan peristiwa pembunuhan sadis ini. Mulai dari lemahnya peran dan dukungan lingkungan hingga memilih gawai dan menonton tayangan kekerasan, gangguan kejiwaan, pelaku tidak mampu memfilter baik dan buruk, disfungsi otak hingga hilang rasa empati, orang tua bercerai, brokenhome, dan pola asuh orang tua seringkali dituding sebagai penyebab mencuatnya perbuatan sadis dan perilaku eror remaja. Padahal semua penyebab yang disematkan terhadap kasus tersebut adalah hasil penerapan triple-isme yang semakin menjadi-jadi.

Remaja merupakan sasaran empuk sekaligus konsumen potensial untuk memasarkan semua hasil industri hiburan yang diproduksi kapitalis-sekuler-liberal. Meskipun mereka mengakui bahwa konten horor dan kekerasan amat sangat merusak generasi muda.

Kasus pembunuhan sadis ini bukanlah kasus yang berdiri sendiri, tetapi hasil produksi dari suatu sistem besar yaitu kapitalis-liberal-sekuler. Sistem besar ini mewarnai sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem sosial pergaulan, dan sistem budaya. Terbukti, sistem pendidikan dalam naungan kapitalis-liberal-sekuler, tidak cukup mumpuni mencetak generasi perkepribadian kuat, hebat, dan taat. Kenyataanya dari kasus ini saja, pelaku yang dikenal cerdas dan berprestasi di bidang akademik dan olahraga, tidak serta merta berkepribadian ‘baik’.

Berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa konten kekerasan dapat menyebabkan perilaku agresif pada anak-anak, dan perilaku ini bisa sangat berbahaya jika konten kekerasan tersebut melibatkan senjata atau adegan pembunuhan. anak-anak yang sudah terpapar dengan tayangan kekerasan sangat berpotensi menggerus atau menurunkan sensitivitas anak tersebut terhadap kekerasan di kehidupan sehari-hari, sehingga berpikir kekerasan itu adalah hal yang biasa.

Bahkan selanjutnya yang sangat berbahaya adalah jika anak-anak kemudian meniru dan mempraktikkan adegan kekerasan yang dilihatnya. Potensi ini besar terjadi, karena anak-anak umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat dan tidak tertutup kemungkinan perilaku dan sikap mereka akan meniru kekerasan yang mereka tonton.

Selain itu yang menjadi persoalan besar adalah masih banyak orangtua belum sepenuhnya menyadari di dunia yang serba terkoneksi saat ini anak-anak sangat mudah terpapar tayangan kekerasan baik dari televisi, internet, film atau games, sehingga lalai mengawasi apa yang ditonton anak setiap hari. Anak yang menjadi pelaku kekerasan akibat terpapar konten kekerasan juga merupakan korban dari lemahnya sistem pengawasan atas tayangan atau konten kekerasan di berbagai platform media dan kurangnya pengawasan orang tua terhadap tontonan anak-anaknya.

Mewujudkan generasi tangguh dan beriman teguh tidak saja tanggung jawab orang tua, dengan seperangkat pola asuh. Tidak juga peran dan perhatian lingkungan, tetapi di atas semua itu, peran negara sangat menentukan untuk menjamin kelangsungan peran orang tua, dan lingkungan dalam membentuk generasi. Apalagi jika semua pihak berlandaskan pada sistem Islam yang berhasil mewujudkan generasi tangguh, cerdas, taat, berprestasi, dan berkarya untuk umat.

Mari jaga dan didik generasi kita semenjak dini dengan tata aturan Islam, dekat dengan Alquran, pelajari makna dan kandungannya, agar mengetahui hukum-hukum syara’, sehingga amat jelas mana perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela, halal dan haram, berpahala dan berdosa. Dan ajarkan kepedulian pada alam semesta.

Wallahu ‘Alam Bish Showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ahok Turut Berduka Atas Wafatnya Ust Fahrurozi Ishaq Karena Covid-19

Jakarta, Rasilnews - Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok turut menyampaikan dukacita atas meninggalnya Fahrurrozi Ishaq, yang dikenal sebagai 'Gubernur Tandingan'...

10 Ribu Jamaah Umrah Akan Kembali Padati Saudi Arabia Tiap Pekannya

JAKARTA, RASILNEwS - Setiap pekan sekitar 10 ribu jemaah umrah diperkirakan akan tiba di Arab Saudi mulai (1/11) mendatang. Dengan pernyataan...

California Evakuasi 100 Ribu Penduduk Akibat Kebakaran Hutan

JAKARTA, RASILNEWS - Pemerintah memerintahkan untuk evakuasi lebih dari 100 ribu penduduk akibat Kebakaran hutan yang terjadi dan bergerak cepat di...

Tebitkan Karikatur Nabi Muhammad SAW, Maroko Kecam Prancis

JAKARTA-RASILNEWS, Kementrian Luar Negri Maroko Pada Minggu Mengatakan bahwa berlanjutnya publikasi kartun yang menghina nabi merupakan aksi provokasi.

Recent Comments