Friday, October 23, 2020
Home Tajuk Rasil PELAJARAN ISTIQOMAH DATI SANTRI PAHLAWAN BANGSA

PELAJARAN ISTIQOMAH DATI SANTRI PAHLAWAN BANGSA

Tajuk Rasil
Rabu, 23 Oktober 2019

Pelajaran Istiqomah Dari Santri Pahlawan Bangsa

Istiqomah, sebuah kata yang mungkin kita mudah untuk mengatakannya. Namun terkadang tidak mudah untuk menjalaninya. Apalagi istiqomah dalam hal yang bersifat prinsip dan kebenaran. Masih di suasana Hari Santri Nasional, kita teladani satu sosok pahlawan nyantri, muda dan berwibawa yang terkenal dengan keistiqomahan dalam berjuang, Soedirman.

Selama masa hidupnya yang singkat (hanya 34 tahun), Soedirman telah memberi banyak kebermanfaatan serta menorehkan berbagai prestasi gemilang. Salah satunya menjadi Panglima Besar pertama dan termuda di Indonesia. Sejak kecil, Soedirman selalu haus ilmu. Semangat belajarnya ditumbuhkan oleh Kyai Haji Qahar, seorang guru agama di pesantren.

Ilmu yang didapat dari berbagai guru menggelorakan hati Soedirman untuk berjuang melawan kezaliman penjajah. Salah satu ucapannya yang terkenal adalah, “Kejahatan akan menang, bila orang benar tidak melakukan apa-apa”. Kalimat ini barangkali terinspirasi dari ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yaitu, “Kedzaliman akan terus ada. Bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik”.

Spirit menolak kezaliman inilah yang kemudian menggerakkan Soedirman melakukan perlawanan. Ia menginisiasi Perjanjian Linggarjarti, berperang melawan Jepang, hingga memimpin Pertempuran Ambawara dan Agresi Militer II. Hasilnya? Tanggung jawab yang diemban berakhir sukses. Belanda bertekuk lutut setelah tujuh bulan dilawan habis-habisan. Totalitasnya untuk kemaslahatan umat tak perlu diragukan. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan aset berharga pun diberikan. Konon, perhiasan istrinya dijual demi kebutuhan perang.

Istiqomah (konsekuen dan konsisten) yang diterapkan Jenderal Soedirman sejalan dengan ciri-ciri istiqomah menurut Ibnu Qoyyim Al-Jauzi, yaitu yakin dalam menyuarakan dan menjalankan kebenaran. Tidak ada rasa takut, ragu, cemas, ataupun gentar. Soedirman istiqomah berjuang demi bangsa. Meski raga melemah karena penyakit tuberkolosisnya, pantang baginya berputus asa. Walau ditandu, semangatnya tetap menggebu. Sikap ini selaras dengan firman Allah SWT Alquran surat Fushilat ayat 30 yang berbunyi:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah)’, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih.”

Ikhwan Akhwat…..
Pemimpin sejati tak disulap semalam. Ada peran pendidik yang istiqomah mencurahkan pendidikan dalam jangka waktu lama. Jika ada Syaikh Aaq Syamsuddin yang “menggembleng” Muhammad Al-Fatih hingga menjadi sultan dan menaklukkan Konstantinopel, maka ada peran besar Raden Muhammad Kholil di balik patriotisme Jenderal Soedirman.

Berkaca pada kisah hidup ‘Sang Jenderal’, Kita mungkin masih ingat peristiwa reformasi 1998. Saat itu para aktifis pemuda dan mahasiswa gencar sekali menentang korupsi. Dan saat ini tidak sedikit di antara mereka yang memegang jabatan di pemerintahan, kemudian lunturlah semua idealisme anti korupsinya, malahan tak jarang menjadi biangnya korupsi. Dan ,,,, Ah sudahlah !

Atau bahkan para aktifis Islam yang bertahun-tahun jor-joran menolak demokrasi, belakangan ini malah ikut nyaleg pada setiap gelaran pemilu dan menyuarakan golput haram. Kemudian bermacam-macam alasan dikeluarkan, mulai dari khawatir diisi caleg non muslim sampai dalam rangka memperjuangkan Islam. Dan ketika sudah mendapatkan kursi ataupun jabatannnya, perjuangan Islamnya pun hilang ditelan gelombang.

Istiqomah atau konsisten memang bukanlah kata yang bisa berdiri sendiri, yang ketika kita menjalaninya maka akan dijamin mendapat pujian dari Allah SWT. Hanya istiqomah dalam kebenaranlah yang akan mendapat pahala dari Allah SWT. Setiap muslim yang telah berikrar bahwa Allah Rabbnya, Islam agamanya dan nabi Muhammad Rasulnya, harus senantiasa memahami arti ikrar ini dan mampu merealisasikan nilai-nilainya dalam realitas kehidupannya.

Maka istiqomah dalam memegang tali Islam merupakan kewajiban asasi dan sebuah keniscayaan bagi hamba-hamba Allah yang menginginkan husnul khatimah dan harapan-harapan surga-Nya. Setiap dimensi kehidupannya harus terwarnai dengan nilai-nilai tersebut baik dalam kondisi aman maupun terancam. Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah saw bersabda: “Berlaku moderatlah dan beristiqomah, ketahuilah sesungguhnya tidak ada seorangpun dari kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka bertanya: “Dan juga kamu Ya … Rasulullah, Beliau bersabda: “Dan juga aku (tidak selamat juga) hanya saja Allah SWT telah meliputiku dengan rahmat dan anugerah-Nya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Wallahu alam bishawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ini Target Anthony Ginting dan Jonatan Christie di Asia Open

Jakarta, RasilNews - Dua tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie ditargetkan menembus final di Asia Open I dan II tahun...

Menangi Formula 1 GP Eifel, Lewis Hamilton Samai Rekor Legenda Hidup F1 Michael Schumacher

Nuerburg, RasilNews - Keberhasilan Lewis Hamilton memenangi Formula 1 GP Eifel 2020 semakin memiliki nilai plus. Hasil itu membuatnya menyamai rekor legenda...

Hasil Lengkap Liga Champions Eropa Matchday Pertama

Eropa, RasilNews - Liga Champions 2020/2021 telah dimulai, dan ada empat grup yang sudah memainkan matchday pertama terlebih dahulu dan sisa empat...

Peringati Hari Santri Saat Pandemi

JAKARTA, RASILNEWS - Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22...

Recent Comments