• Print
close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

PERAN INTELEKTUAL DALAM PERJUANGAN

Tajuk Rasil 26 Juli 2017

Apa jadinya jika kita semua kehilangan ingatan? Bayangkan, pada satu pagi, ketika semua bangun dari tidurnya, tak ada lagi ingatan di dalam kepala manusia. Bukan gila. Tapi ingatan yang kita miliki menguap sirna, seperti hilangnya setetes air di Sahara.

Kita tak lagi memiliki kemampuan bahasa. Kita tak punya kemampuan untuk berkomunikasi dengan sesama. Kita tak bisa membaca. Padahal buku-buku masih menumpuk seperti sedia kala. Bahkan kita lupa bagaimana cara berjalan dan makan. Padahal semua peradaban masih utuh di sekitar kita. Listrik masih ada. Komputer juga. Mobil dan semua peradaban material tetap terjaga.

Apa yang kita pikirkan? Apa yang kita lakukan? Apakah mungkin kita bertahan? Bagaimana cara kita bertahan? Bagaimana kita mengatasi masalah, sedangkan satu referensi pun tak tertinggal dalam ingatan.

Dan jangan lupa, ada pertanyaan yang sangat fundamental. Bagaimana cara kita mengenali kebenaran? Tentu saja ini hanya bayangan, mungkin tak pernah terjadi, bahkan nyaris tidak mungkin menemukan kemungkinannya. Tapi yang sangat mungkin terjadi adalah, kita kehilangan kemampuan untuk memanfaatkan kemampuan yang kita miliki demi mengidentifikasi kebenaran.

Ilmu sebagian manusia hari ini sangat tinggi. Bahkan beberapa di antara mereka mampu menguasai beberapa bahasa sekaligus. Bacaan mereka sangat luas, apalagi ditambah dengan internet dan teknologi informasi, juga komunikasi, pengetahuan manusia tentang kehidupan sepertinya sudah mencapai puncaknya dalam peradaban. Tapi paradoksnya adalah, semakin tinggi ilmu yang dimiliki nampaknya semakin relatif kebenaran yang bisa dipahami. Seolah-olah, setelah kita memiliki ilmu yang sangat tinggi, maka segala ilmu itu mengantarkan kita pada satu pemberhentian; bahwa tak ada kebenaran sejati. Tak ada yang bersifat mutlak. Semua relatif. Tak ada yang obyektif, semuanya dalam kerangka subyektif.

Maka dengan mudahnya kita bisa mendapati manusia yang bisa berganti identitas, pemikiran, bahkan kepercayaannya pada Tuhan. Dengan sangat mudah dia mengubah definisi dan sikapnya pada kebenaran. Seolah-olah, tak mengikuti perubahan adalah aib.

Ada kisah tentang pemeran Shalahuddin Al-Ayyubi dalam film Kingdom of Heaven karya Ridley Scott. Ghassan Massoud, aktor yang memerankan Shalahuddin, dia sangat terkesan dengan proses pembuatan film Kingdom of Heaven dan sikap yang ditunjukkan oleh Ridley Scott dalam film tersebut.

Baginya sikap Ridley Scott cukup adil menempatkan posisi Islam-Kristen dalam sejarah Perang Salib tersebut. Tak menista Islam dan tak pula menjunjung tinggi Kristen, seperti layaknya film Hollywood yang lain. Sehingga, ketika Ridley Scott menawarkan proyek pembuatan film baru yang berjudul The Body of Lies, sang aktor yang berdarah Suriah ini sangat antusias dan meminta agar segera dikirim skenario untuk dipelajari.

Tapi, setelah membaca script tersebut, betapa masygul hatinya. Sang sutradara yang dianggapnya cukup adil ketika menggarap sebuah film berlatar sejarah, dalam film barunya justru menggambarkan Islam dan Muslim sebagai teroris besar yang biadab.

Muslim-muslim teroris dalam film The Body of Lies digambarkan tak memiliki hati, hanya punya semangat menjunjung tinggi agama dengan cara membunuh manusia lainnya. Mereka digambarkan tak peduli dengan nyawa sendiri. Mati berarti syahid. Dan status syahid berarti double victoryalias kemenangan ganda; masuk surga dan terbunuhnya orang-orang kafir.

Betapa mudahnya manusia berubah. Apakah pengetahuan, intelektual, pemahaman, dan proses belajar yang selama ini dilalui justru mengantarkannya pada relativitas sedemikian rupa? Tak penting lagi benar dan salah, karena keduanya pada akhirnya dilibas oleh perubahan yang dilahirkan oleh manusia itu sendiri. Apakah memang begitu seharusnya? Lalu apa tugas para intelektual dan apa manfaat intelektualitas?

Semakin tinggi intelektualitas, seolah-olah semakin tinggi pula keraguan yang dihasilkan. Tak pernah putus, tak pernah habis. Tesis selalu menghasilkan antitesis, kemudian berlanjut lagi dengan sintesis. Begitu seterusnya. Rekonstruksi akan melahirkan pula sisi lain, dekonstruksi. Jika memang balasan akhir dari intelektualitas adalah relativitas yang seolah-olah tanpa batas, maka saya akan memilih menjadi orang yang sederhana. Tak macam-macam, tak muluk-muluk. Sederhana saja. Sederhana dalam berpikir. Sederhana dalam mengambil keputusan. Sederhana dalam menyimpulkan dan sederhana menjalani setiap konsekuensi kehidupan.

Sepatutnya referensi pengetahuan yang luas, tinggi dan dalam, mengantarkan manusia pada keyakinan. Karena untuk itulah ilmu pengetahuan diturunkan. Memberi guidance,menjadi petunjuk dan juga penerang. Selanjutnya, para intelektual berperan menjadi pemain utama yang membangun jalan terang untuk umat manusia. Tapi hari ini jika peran intelektual hanya menambah pertanyaan dan pekerjaan tak pernah terselesaikan, apa gunanya ilmu pengetahuan? Bangkitlah para pemegang waris para nabi dan rasul!

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page