Thursday, October 29, 2020
Home Tajuk Rasil REMPAH PALAPA, JAN PIETERZOONA : KORONA DAN KOLONIALISME

REMPAH PALAPA, JAN PIETERZOONA : KORONA DAN KOLONIALISME

Tajuk Rasil,
Kamis, 5 Maret 2020/ 10 Rajab 1441 H

Rempah Palapa, Jan Pieterzoona: Korona dan Kolonialisme
Oleh : Fitriyan Zamzami, Jurnalis Republika

Seperti banyak orang belakangan, istri saya pulang dari pasar pagi ini dengan bersungut-sungut. Dia jengkel, harga rimpang dan rempah alias ‘empon-empon’ jadi mahal sekali setelah kabar bahwa Covid-19 sudah masuk Indonesia. Jahe, kunyit, cengkeh, kayu manis, biji pala, jadi berlipat-lipat harganya. Kenaikannya dari seratus bahkan sampai tiga ratus persen.

Anggapan banyak orang, jika dibikin jamu, itu empon-empon bisa mencegah virus korona, atau setidaknya bisa menjaga daya tahan tubuh agar tak terjangkit. Benar tidaknya, tentu masih harus diteliti lebih lanjut. Namun, yang namanya desas-desus di jaman “like and share” macam begini mana peduli sama hasil penelitian ilmiah.

Bagaimanapun, buat yang rajin baca sejarah, fenomena ini bukan barang baru. Rempah dan rimpang memang sudah dianggap barang ajaib sejak dulu kala. Ingat legenda bahwa pada abad ke-14 Mahapatih Gajah Mada bersumpah tak akan mengonsumsi “palapa” sebelum Majapahit berhasil menaklukkan Nusantara? Sebagian ahli sejarah meyakini bahwa “palapa” yang dimaksud Gajah Mada adalah rempah-rempah. Jika benar begitu, betapa istimewanya rempah sampai-sampai dijadikan sumpah.

Ada lagi cerita begini. Pada abad pertengahan, Eropa sempat dilanda wabah pes yang dahsyat. Sepertiga warga Eropa dilaporkan meninggal kala itu. Bisa dibayangkan betapa takutnya warga Eropa bahwa mereka bisa sewaktu-waktu tertular kembali. Dan bisa dibayangkan betapa bersemangatnya mereka saat, seperti sekarang, mendengar rumor bahwa ada tumbuhan di tempat jauh yang bijinya bisa mencegah penularan wabah bubonik itu.

Orang Inggris menamainya “nutmeg”, artinya biji pala, dan “mace”, bagian merah yang menyelimuti biji pala. Tak ayal, seperti sekarang juga, harga itu barang melonjak tajam. Milton Gilles dalam bukunya “Nathaniel’s Nutmeg (1999)” menuliskan bahwa saat itu, saking mahalnya satu kantong kecil biji pala bisa membuat orang tak perlu kerja lagi sampai ajal menjemput. Biji Pala, dengan segala khasiatnya juga dinilai jauh lebih mahal dari emas. Demikian juga harga rempah lainnya, cengkeh.

Saudagar-saudagar Eropa kemudian penasaran dari mana itu biji datang. Mereka ingin langsung menjemput itu benda berkhasiat di lokasi tumbuhnya dan dapat kekayaan berlimpah tanpa harus bayar lebih ke saudagar-saudagar Muslim. Mereka tanya ke pedagang-pedagang di Venesia, Italia, yang menjadi Singapura-nya Eropa kala itu. Jawabannya, mereka dapat dari penjual di Konstantinopel, Turki. Orang Turki kemudian bilang mereka dapat dari pedagang-pedagang di Timur Tengah dan India. Sampai akhirnya tahulah orang-orang Eropa bahwa pala hanya tumbuh di Run dan Banda, pulau-pulau kecil di Kepulauan Maluku, Hindia Timur.

Selepasnya adalah sejarah. Pada abad ke-16, semua bangsa-bangsa pelaut di Eropa berlomba mencapai Banda terlebih dahulu. Inggris, dalam percobaan pertamanya dengan bodoh mencoba berlayar mencapai Hindia Timur lewat jalur utara. Tentu ekspedisi mereka akhirnya terdampar di Kutub Utara.

Spanyol mencoba memutar lewat barat untuk mencapai Banda. Akibatnya, Christopher Columbus, pemimpin itu ekspedisi malah menemukan Benua Amerika. Portugis akhirnya yang sampai duluan ke Nusantara, kemudian Inggris setelah mencoba jalur pelayaran lain. Dan akhirnya ‘meneer-meneer’ dari Belanda yang menancapkan kekuasaan mereka di Nusantara selama (katanya) 350 tahun ke depan.

Singkatnya begini, dari desas-desus soal khasiat penyembuhan satu biji tanaman saja, sejarah dunia kemudian berubah dengan drastis. Ia memicu kolonialisme yang membawa banyak sengsara di Asia dan Afrika. Mulai dari tanam paksa, pembantaian pribumi yang melawan monopoli kolonial, perbudakan, rasa inferioritas budaya, saling perang karena politik adu domba, dan lain-lain. Meski harus diakui, di lain hal kolonialisme yang biadab itu juga membentuk entitas-entitas negara bangsa, salah satunya Indonesia.

Jadi, berhati-hatilah menyebarkan berita soal khasiat empon-empon menghalau penyakit. Misalpun ia benar-benar ampuh menolak Covid-19, cukup kita sendiri yang tahu. Ini wabah virus corona sejauh ini sudah sampai Inggris, Prancis, Spanyol, Belanda, Portugal, Belgia, Italia, Rusia, Jerman, seluruhnya dulu negara kolonialis. Jika sampai ke telinga mereka soal khasiat jamu-jamu dari Tanah Air, aduh, bisa hidup lagi itu Jan Pieterzoon Coen.

Wallahu ‘Alam Bish Showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Sebanyak 12.369 Personel Gabungan Amankan Aksi Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law Ciptaker

Jakarta, Rasilnews - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan sebanyak 12.369 personel gabungan TNI-Polri dan pemerintah daerah diterjunkan...

Aqsa Working Group Ikut Serta Dukung Aksi Global Aksi Mogok Makan Untuk Pembebasan Tahanan Palestina

Jakarta, Rasilnews - Al-Aqsa Working Group (AWG) menyatakan ikut serta untuk mendukung aksi global mendukung aksi mogok makan yang dilakukan oleh...

Satgas Ingatkan Pemda Agar Tak Lengah Sikapi Zonasi

JAKARTA, RASILNEWS - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito ingatkan Pemda soal zonasi karena peningkatan zona oranye. Melihat peta...

MUI desak Presiden Perancis Meminta Maaf Kepada Umat Islam

Jakarta, Rasilnews - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas meminta Presiden Prancis Emmanuel Macron minta maaf kepada umat...

Recent Comments