Thursday, October 29, 2020
Home Tajuk Rasil SANTRI MENGABDI SEPANJANG HAYAT

SANTRI MENGABDI SEPANJANG HAYAT

Tajuk Rasil
Selasa, 22 Oktober 2019

Santri Mengabdi Sepanjang Hayat

Empat tahun yang lalu Pemerintah telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Hari yang menjadi ingatan sejarah tentang Resolusi Jihad, bukti nyata adanya keterkaitan antara santri dengan tegaknya Indonesia. Bahwa sejarah mencatat antara jiwa religius Keislaman dan semangat nasionalisme-kebangsaan tidak bisa dipertentangkan, melainkan menyatu menjadi semangat merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Salah satu wujud dari kewajiban negara dan pemimpin bangsa adalah memberikan penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan para kiai dan santri. Kontribusi pesantren kepada negara ini, sudah tidak terhitung lagi. Hari Santri Nasional dapat dijadikan sebagai pemaknaan sejarah Indonesia yang genuine dan authentic yang tidak terpisahkan dari budaya bangsa. Indonesia tidak hanya dibangun dengan senjata, darah dan air mata, tetapi berdiri karena keikhlasan dan perjuangan para santri religius yang berdarah merah putih.

Ada yang menarik ketika membahas santri. Tahun lalu Islam Nusantara Center (INC) dan Pustaka Compass bekerjasama dengan tuan rumah ‘Santri of The Year ke-3’ UIN Sunan Ampel Surabaya, menganugerahkan penghargaan kepada Kiyai Haji Hasyim Muzadi sebagai “Santri Mengabdi Sepanjang Hayat”. KH. Hasyim Muzadi selama ini dikenal sebagai tokoh yang lahir dari rahim pesantren modern Gontor. Sebagai tokoh NU yang sangat disegani, ternyata beliau juga memiliki jejak pendidikan salaf hingga thariqah. Makanya beliau diberi julukan “Santri Komplit”.

Sejak kecil KH Hasyim Muzadi dekat dengan pendidikan agama. Sebelum kembali ke Malang untuk mengenyam pendidikan tinggi, sang Kyai tercatat menghadiri 3 Pondok Pesantren semasa mudanya. KH Hasyim Muzadi pernah menjadi santri Pondok Pesantren Modern Gontor, Pondok Pesantren Senori Tuban, dan Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah.

Partisipasi organisasi Ulama yang aktif menulis buku ini juga tak bisa dianggap remeh. Sebelum memegang jabatan tertinggi sebagai ketua umum Nahdlatul Ulama selama 11 tahun, KH Hasyim Muzadi telah melibatkan diri di organisasi keislaman sejak tahun 1960, ketika dirinya masih menjadi seorang santri. Dedikasinya terhadap pendidikan agama inilah yang mengantarnya menjadi sosok yang dikenal oleh sebagian masyarakat Muslim Indonesia.

Hasyim Muzadi dikenal sebagai sosok kyai yang memposisikan dirinya sebagai pemimpin Indonesia. Kerangka berpikirnya nasionalis dan pluralis. Ketika peristiwa 11 September WTC terjadi, Hasyim angkat bicara dan berani berbicara pada publik internasional bahwa umat Islam Indonesia adalah muslim yang moderat, kultural, dan tidak memiliki jaringan organisasi internasional. Karena tindakannya ini, Hasyim Muazdi menjadi salah satu tokoh Muslim Indonesia yang dijadikan referensi oleh masyarakat Barat untuk menjelaskan karakteristik umat Islam di Indonesia.

Itulah salah satu alasan mengapa ketika bicara santri, kita sorot sosok kiyai ini. Apalagi hari santri tahun ini mengusung beberapa misi, diantaranya seperti yang diungkapkan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama (Kemenag), Ahmad Zayadi. Bahwa santri harus menjadi juru damai. Tradisi dan potensi pesantren dengan santrinya menjadi kekuatan tersendiri untuk memaksimalkan perannya dalam konteks perdamaian dunia.

Namun kini Indonesia telah kehilangan salah satu tokoh Muslim berpengaruh dan memiliki segudang pengalaman seperti KH Hasyim Muzadi. Meski telah meninggal, beruntung warisan ilmu dan sejarah beliau masih dapat dikenang dan dimaknai melalui karya tulis dan juga Pondok Pesantren Al Hikam.

Membahas peran santri juga ada yang mengaitkannya dengan politik. Harapannya peringatan Hari Santri untuk mempertegas jejak kaum santri di ranah politik agar kekuasaan nasional tidak hanya didominasi kaum nasionalis. Dalam hal ini, dominasi kaum nasionalis di ranah kekuasaan ternyata menimbulkan citra korup yang kian memprihatinkan.

Misalnya, sejumlah pejabat terbukti terlibat korupsi. Karena itu, wajar saja jika banyak pihak selalu berharap agar kaum santri bisa bersatu dan lebih aktif di ranah politik untuk bisa menjadi dominan di ranah kekuasaan. Akan tetapi yang namanya kekuasaan, ketika tak kuat iman akan membinasakan. Dikhawatirkan kaum santri yang terlibat politik malah ikut terperosok jerat korupsi.

Wallahu alam bishawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Sebanyak 12.369 Personel Gabungan Amankan Aksi Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law Ciptaker

Jakarta, Rasilnews - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan sebanyak 12.369 personel gabungan TNI-Polri dan pemerintah daerah diterjunkan...

Aqsa Working Group Ikut Serta Dukung Aksi Global Aksi Mogok Makan Untuk Pembebasan Tahanan Palestina

Jakarta, Rasilnews - Al-Aqsa Working Group (AWG) menyatakan ikut serta untuk mendukung aksi global mendukung aksi mogok makan yang dilakukan oleh...

Satgas Ingatkan Pemda Agar Tak Lengah Sikapi Zonasi

JAKARTA, RASILNEWS - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito ingatkan Pemda soal zonasi karena peningkatan zona oranye. Melihat peta...

MUI desak Presiden Perancis Meminta Maaf Kepada Umat Islam

Jakarta, Rasilnews - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas meminta Presiden Prancis Emmanuel Macron minta maaf kepada umat...

Recent Comments