JAKARTA, RASILNEWS – Adalah K. H. R. As’ad Syamsul Arifin yang lahir pada tahun 1897 di Mekah dan meninggal 4 Agustus 1990 di Situbondo pada usia 93 tahun. Ia adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan AsembagusKabupaten Situbondo.

Selain sebagai pengasuh pondok pesanten, KHR As’ad adalah seorang ulama besar sekaligus tokoh dari Nahdlatul Ulama dengan jabatan terakhir sebagai Dewan Penasihat (Musytasar) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hingga akhir hayatnya.

Ia adalah penyampai pesan (Isyarah) yang berupa tongkat disertai ayat al-Qur’an dari Kholil al-Bangkalani untuk Hasyim Asy’ari, yang merupakan cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama.

Jelang tahun 1965, tepatnya di tanggal 30 September terjadilah peristiwa yang cukup memilukan, atau yang lebih dikenal dengan sebutan G30S/PKI. Yaitu peristiwa terjadinya penculikan para Jendral TNI AD.

Indonesia kala itu, memiliki banyak partai, dan 3 terbesar diantaranya adalah Partai Nasional Indonesia (PNI), Masyumi, Nahdlatul Ulama (NU) dan PKI.

Mengutip Republika “Sikap Keras KH Asad Syamsul Arifin Terhadap PKI” peran KHR As’ad Syamsul Arifin sangat penting. Selain sebagai pengsuh pondok pesantren, beliau juga seorang ulama dan pahlawan nasional yang membesarkan Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo.

Dalam bukunya KHR As’ad Syamsul Arifin: Riwayat Hidup dan Perjuangannya, Hasan Basri menjelaskan bahwa kala itu Situbondo juga dilanda aksi-aksi sepihak PKI dan selanjutnya kontra aksi pengganyangan oleh kaum santri.

Sebagai ulama senior yang kala itu menjabat sebagai Syuriah NU Cabang Situbondo dan juga sebagai penasehat pribadi Perdana Menteri Idham Chalid, Kiai As’ad saat itu selalu mengadakan kontak dengan Jakarta untuk mendapatkan konfirmasi yang benar terkait dengan situasi politik nasional.

Ketika peristiwa berdarah G30S/PKI meletus, kekuatan NU terbilang sangat solid. Hampir seluruh ulama NU di persada Indonesia menjadi rujukan dan legitimasi bagi penumpasan antek-antek PKI, termasuk Kiai As’ad.

Menurut keterangan saksi hidup di Situbondo, peran Kiai As’ad saat itu sangat menentukan. Hampir semua gerakan penumpasan baik oleh ABRI maupun gerakan anti PKI, terlebih dahulu mendapat konfirmasi dari Kiai As’ad

Kiai As’ad mengutuk PKI yang selalu menjadi biang kerok pemberontakan. “Semua ini ulah PKI. PBNU harus mendesak pemerintahan agar membubarkan PKI,” kata Kiai As’ad dikutip dari buku KHR As’ad Syamsul Arifin: Riwayat Hidup dan Perjuangannya, Jumat (25/9).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here