Thursday, October 29, 2020
Home Tajuk Rasil TAJUK RASIL "ABU ALI AL-HUSSEIN IBN ABDULLAH IBN SINA"

TAJUK RASIL “ABU ALI AL-HUSSEIN IBN ABDULLAH IBN SINA”

Tajuk Rasil
Kamis, 9 April 2020/ 15 Sya’ban 1441 H

Pandemi virus Corona Covid-19 membuat banyak negara melakukan sejumlah kebijakan sebagai antisipasi. Selain lockdown, ada juga negara yang melakukan karantina bagi pasien Covid-19. Nah, membahas tentang ‘karantina’ terkait penyebaran wabah penyakit, belakangan masyarakat memperbincangkan sosok Ibnu Sina. Dunia barat memberi nama Avicenna, yang juga dikenal sebagai ‘Bapak Kedokteran Modern Dunia’ ini dipercaya sebagai penemu ide karantina di dunia kesehatan.

Nama lengkapnya adalah Abu Ali Al-Hussein Ibn Abdullah Ibn Sina, tokoh muslim yang berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia ini pernah diangkat dalam film puluhan tahun lalu di Rusia. Ibnu Sina lahir pada 375 H/984 M di Afshana, tidak jauh dari Bukhara sebuah desa di Uzbekistan, ketika dinasti Samanid Persia memerintah wilayah itu. Ayahnya Abdullah bin Al Hasan adalah pegawai pemerintahan. Jabatan tersebut memberi kemudahan tersendiri bagi proses belajar ibnu Sina kecil. Ketika itu, ayahnya mendatangkan guru Alquran dan bahasa setiap hari, sehingga di usia 10 tahun Ibnu Sina sudah mampu menghapal Alquran dan mahir gramatikal Arab.

Kepiawian Ibnu Sina yang memadukan teori, praktek kedokteran dan keikhlasan pengabdian kepada masyarakat sudah dilakukan sejak ia berusia 16 tahun. Sejak beliau sudah memperoleh status penuh sebagai dokter yang berkualitas dan menemukan bahwa “Kedokteran adalah ilmu yang sulit ataupun berduri, seperti matematika dan metafisika, sehingga segera membuat kemajuan besar”.

Dengan semangat belajar yang tinggi, kesungguhan dan pengabdian Ibnu Sina dalam bidang kedokteran terbukti. Dimana ia senantiasa berguru dengan bersilaturahmi (mendatangi guru) kepada para dokter senior seperti Al-Husein Bin Nuh Al-Qomari dan Abi Sahal Al-Musayyab. Ia tidak hanya belajar teori kedokteran, namun ia selalu mempraktekkan kepada pasien yang menjadi tangung-jawabnya. Dan hal itu ia lakukan tanpa pamrih.

Ketenaran Ibnu Sina menyebar dengan cepat di tengah masyarakat salah satunya karena dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran. Selain sebagai seorang filosof muslim, ia juga adalah dokter yang dermawan dan ketika terjadi wabah virus di negerinya yang jumlah dokter sangat sedikit kala itu, ia senantiasa berkunjung ke pasien miskin yang tidak memiliki kemampuan untuk berobat.

Ibnu Sina juga dikenal sebagai seorang polymath ( seseorang yang pengetahuannya tidak terbatas hanya pada satu bidang dan memiliki wawasa sangat luas ) yang dianggap sebagai salah satu dokter, astronom, pemikir dan penulis di zaman Keemasan Islam yang paling terkenal. Dunia Islam pun juga memberikan gelar kehormatan terhadap kecerdasan Ibnu Sina yakni sebagai Al-Syaikh-al-Rais, yang berarti pemimpin utama (dari para filsuf).

Bahkan, para sarjana Barat yang begitu mengaguminya pun memberinya gelar “The Prince of the Physicians”. Salah satunya bias saja karena Ibnu sina adalah sarjana kedokteran Persia yang pertama kali muncul dengan ide karantina untuk mencegah penyebaran penyakit menular. Dia menduga bahwa beberapa penyakit disebarkan oleh mikroorganisme. Dalam literature-literaturnya, untuk mencegah kontaminasi antar manusia, ia menemukan metode mengisolasi orang selama 40 hari. Dia menyebut metode ini dengan “Al-Arba’iniya” atau ‘empat puluh’. Oleh karena itu, asal usul metode yang saat ini digunakan di banyak dunia untuk memerangi pandemi berasal dari dunia Islam.

Pengaruh pemikiran Ibnu Sina terhadap dunia medis terlihat ketika karyanya yang berjudul ‘Al-Qānūn fī al-ṭibb’ ( The Cannon of Medicine ), dibukukan di beberapa pusat studi seperti: The Reynolds Historical Library, Lister Hill Library, University of Alabama at Birmingham. Banyak para ahli kedokteran dan ilmu pengobatan yang sangat menyukai karya Ibnu Sina ini dan menjadikannya panutan. Ibnu Sina dan pengetahuannya yang hebat mengenai ilmu kedokteran dan pengobatan menjadikannya sangat berpengaruh terhadap sekolah medis di Eropa, bahkan hingga era modern sekarang ini. Bahkan, The Canon of Medicine menjadi salah satu sumber bacaan utama.

Ikhwan Akhwat….
Mengutip pesan tokoh kedokteran dunia ini yang juga viral di jagat medsos karena suasana pandemik Covid-19, beliau menyatakan “Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaraan adalah permulaan kesembuhan”. Seolah terus mengajarkan kita bagaimana Ibnu Sina dapat membantu mengatasi masalah umum yang dihadapi oleh semua umat manusia. Pandangannya memberikan dasar penting bagi kita untuk menghasilkan pemikiran positif (husnudzan) tentang masalah apa pun yang kita hadapi di era modern.

Wallahu ‘Alam Bish Showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Sebanyak 12.369 Personel Gabungan Amankan Aksi Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law Ciptaker

Jakarta, Rasilnews - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan sebanyak 12.369 personel gabungan TNI-Polri dan pemerintah daerah diterjunkan...

Aqsa Working Group Ikut Serta Dukung Aksi Global Aksi Mogok Makan Untuk Pembebasan Tahanan Palestina

Jakarta, Rasilnews - Al-Aqsa Working Group (AWG) menyatakan ikut serta untuk mendukung aksi global mendukung aksi mogok makan yang dilakukan oleh...

Satgas Ingatkan Pemda Agar Tak Lengah Sikapi Zonasi

JAKARTA, RASILNEWS - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito ingatkan Pemda soal zonasi karena peningkatan zona oranye. Melihat peta...

MUI desak Presiden Perancis Meminta Maaf Kepada Umat Islam

Jakarta, Rasilnews - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas meminta Presiden Prancis Emmanuel Macron minta maaf kepada umat...

Recent Comments