Monday, October 26, 2020
Home Tajuk Rasil TAJUK RASIL "BAHAYA ULAMA INSTAN"

TAJUK RASIL “BAHAYA ULAMA INSTAN”

Selasa, 30 Dzulqaidah 1441 H/ 21 Juli 2020

Oleh: Shamsi Ali, ( Presiden Nusantara Foundation, New York )

Kita hidup di sebuah era yang penuh dengan hiruk pikuk yang membisingkan. Bahkan media sosial kita menjadi ruangan suara bising, justru di saat-saat kita berusaha menghindar dari kompetisi pandangan-pandangan yang berkeliaran, dan dapat melemahkan kayakinan, bahkan menumbuhkan keraguan pada diri kita. Di saat-saat inilah sungguh rendah hati menjadi sesuatu yang terasa sangat mahal.

Sangat sedikit di antara manusia yang bisa membaca dengan baik dan paham. Bahkan mereka yang melakukan itu pun kerap hanya memupuk ego dan keangkuhan, ketimbang menumbuh suburkan pemikiran (intellect) dan jiwa (soul).

Rasulullah SAW mengingatkan: “ulama itu adalah pewaris para nabi”. Hari ini kita menyaksikan begitu banyak yang dadakan menjadi Ustaz, dai, dan penceramah instabile yang selebritas. Namun kerap ilmu dan hikmah pada diri mereka sangat jauh dari harapan posisi mulia itu.

Pada generasi awal dari kalangan salaf begitu banyak ulama. Tapi sangat sedikit yang dengan mudah memberikan fatwa. Berbeda di zaman kita yang begitu mudah seseorang bahkan melalui kajian Google atau Youtube tiba-tiba jadi mufti yang digandrungi.

Imam Malik mungkin adalah salah seorang Ulama besar pada masanya. Imam Syafi berkata: “di saat kata ulama disebutkan maka Malik adalah bintang di antara mereka”.

Imam Malik sendiri pernah berkata bahwa beliau tidak akan memberikan fatwa sebelum tujuh puluh Ulama Madinah terlebih dahulu menguji kelayakan dan keabsahannya.

Ismail bin Abi Uwais, keponakan Imam Malik berkata: “Saya bertanya kepada paman saya (Imam Malik) tentang suatu hal. Lalu beliau meminta saya duduk, beliau kemudian berwudhu, lalu berkata: laa haula wa laa quwwata illa billah. Beliau tidak memberikan fatwa apapun kecuali berkata demikian terdahulu”.

Al-Haytham (murid Imam Malik) juga pernah berkata: “Suatu ketika saya bersama Imam Malik dan beliau ditanya 40 permasalahan agama. Saya mendengar beliau menjawab: “saya tidak tahu” terhadap 32 pertanyaan itu.”

Itulah kerendahan hati seorang Ulama besar sekaliber Imam Malik. Selain mengakui keterbatasannya, juga tidak pernah bersikap menghakimi orang lain. Bahkan seorang muridnya seperti Imam Syafi’I, beliau memilki penghormatan yang sangat luar biasa.

Boleh jadi saya ini terasa kematian para ulama dan keilmuan disebabkan justru oleh kita sendiri. Karena kita terobsesi oleh segelintir personalitas yang dikelilingi oleh pengikut fanatik yang kerap tidak sadar sedang mengalami indoktrinisasi yang berbahaya.

Ilmu dan keilmuan adalah proses berkelanjutan, dari awal kehidupan hingga akhir hayat. Selama itu mencari dan mencari pengetahuan, serta perluasan wawasan menjadi tuntutan hidup manusia. Terlebih lagi ketika kita berada pada posisi keulamaan (al-ulamaa).

Ibn Taymiyya pernah berkata: “Seseorang itu akan terus mencari ilmu dan keimanan. Dan ketika sebuah keilmuan terbuka baginya, yang tadinya tidak diketahui, dia akan meneruskan atau menindak lanjuti. Inilah orang yang akan memiliki posisi yang tegas (tidak terombang-ambing). Dialah yang mendapat petunjuk dan Allah akan selalu menambah petunjukNya”.

Lalu dari mana harusnya agama ini kita ambil? Pastinya hati menjadi pusat perhatian, dan harusnya pula urgensi ilmu ada di hati kita.

Ibnu Rajab berkata: “Sebaik-baik manusia adalah yang mengikuti jalan Rasul, dan jalan para sahabatnya dalam bersikap moderat dalam ibadah kepada Allah, serta senantiasa bermujahadah mengarahkan pergerakan hatinya. Karena sesungguhnya perjalanan menuju akhirat ditentukan oleh hati, bukan perjalanan fisik”.

Lakukan yang terbaik. Selebihnya biarlah Allah yang tentukan. Semoga Allah merahmati kita semua. Amin!

Wallahu ‘Alam Bishshowwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Jelang Kedatangan Habieb Rizieq Shihab Ke Indonesia

Jakarta, Rasilnews – Beredar sebuah video di medsos yang memperlihatkan nasehat dan pesan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habieb Rizieq...

12 Duta Besar untuk Negara Sahabat Dilantik Oleh Presiden Jokowi Hari ini

JAKARTA, RASILNEWS - Presiden Jokowi Widodo melantik 12 orang duta besar  luar biasa untuk ditugaskan di Negara-negara sahabat, Senin (26/10/2020).

Manfaat Bersepeda Secara Rutin

Oleh : Suji Rahayu (Jurnalis Rasilnews) Bersepeda atau yang populer disebut gowes, adalah termasuk sebagai salah satu...

Mewujudkan Keluarga Inspiratif

Oleh : Suji Rahayu (Jurnalis Rasilnews) Harta yang paling berharga adalah keluargaIstana yang paling indah adalah keluargaPuisi...

Recent Comments