Wednesday, October 28, 2020
Home Uncategorized TAJUK RASIL "BELAJAR MEMIMPIN DARI WALISONGO"

TAJUK RASIL “BELAJAR MEMIMPIN DARI WALISONGO”

Tajuk Rasil,
Selasa, 28 April 2020/ 5 Ramadhan 1441 H

Dalam literatur Barat, terutama pada khazanah ilmu para Orientalist wabil khusus para ilmuwan dari negeri Belanda, ada sebutan menarik tentang sosok seorang ulama, pemimpin, dan arsitek peradaban dari Tanah Jawa. Mereka menyebutnya dengan nama, Mohamadenich Paus, atau Paus van Java atau Pemimpin Agung dari Jawa.

Ternyata beliau adalah Maulana Muhammad Ainul Yaqin, atau Raden Paku, atau Prabu Satmoko, yang lebih kita kenal dalam tradisi kita dengan sebutan Sunan Giri. Dalam darahnya mengalir nasab sampai Sayyidah Fatimah, putri Rasulullah dan juga Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sementara secara lokal, dari sebelah ibu beliau adalah keturunan Raja Blambangan, sebuah kerajaan besar di ujung Timur Pulau Jawa.

Beliaulah arsitek dakwah dan peradaban Islam di Tanah Jawa. Mencatat dan mengamati, menyiapkan diri dan merancang strategi. Sehingga jika saatnya tiba, langkah-langkah yang diambil tidak saja mampu mengatasi masalah, tapi juga menciptakan peluang dan kondisi baru yang lebih baik bagi kehidupan.

Di Giri Kedaton beliau sudah melakukan kaderisasi. Memilih, mendidik dan membesarkan tokoh-tokoh yang kelak akan mengambil peran besar dalam sejarah. Beliau punya kesempatan menjadi raja, raja besar. Saat Majapahit mengalami kemunduran, menghadapi pemberontakan dari Kediri yang dipimpin oleh Girindrawardhana. Tapi beliau memilih Jibun, sosok yang telah dipilih dan dididiknya sendiri. Dinobatkannya Jibun sebagai raja Demak Bintoro, diberinya gelar Sultan, dimahkotainya Raden Fatah yang memimpin Kesultanan Islam.

Ada nama lain yang perlu kita pelajari, Sunan Bonang. Beliau seorang waskita, ulama besar, pendakwah, pengayom manusia. Hidupnya penuh kasih sebagai pemelihara kehidupan. Tapi di saat yang sama, tugas pemimpin diberikan kepadanya sebagai panglima perang. Dalam kajian yang dilakukan oleh Lembaga Research dan Survey IAIN Walisongo Semarang tahun 1982, dituliskan bahwa Sunan Bonang adalah Panglima Tertinggi Angkatan Perang Demak.

Nama beliau adalah Maulana Makhdum Ibrahim. Ayahnya adalah Raden Rahmat Rahmatullah atau Sunan Ampel. Ibunya adalah Nyi Ageng Malaka, atau Dewi Candrawati, Putri Prabu Brawijaya. Sosok Sunan Bonang adalah pribadi yang halus dan lembut. Dan karena itulah beliau dipilih untuk memimpin Angkatan Perang. Tak hanya itu beliau diberikan amanah untuk menaklukkan para ahli sihir, tukang tenung dan para pendeta ilmu hitam di seluruh Jawa, Madura, Pulau Bawean dan Kangean hingga Nusa Tenggara.

Meski sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang, beliau adalah pendakwah agung yang tidak hanya mengandalkan okol dalam bergerak. Tapi banyak menggunakan akal untuk mengabdi pada kehidupan. Ajarannya terkumpul dalam sebuah buku yang kini disimpan oleh Belanda, ‘Het Boek van Bonang’. Mencipta tembang, menggunakan gamelan, melahirkan berbagai permainan dan banyak lagi yang dinikmati oleh masyarakat Jawa hingga saat ini, semisal klasifikasi tanaman dan tumbuhan yang ada di sekitar kita.

Dan jangan lupa seorang ‘Menko Polhuksoskam’, Sunan Kalijaga. Tugas beliau dari hulu hingga hilir. Padahal backgroundnya dulu adalah perampok, penjahat, begal dan berandal. Lalu Sunan Bonang menemukan bakat unggulnya. Lalu Sunan Giri mengasahnya menjadi gilang gemilang penuh cahaya. Sunan Kalijaga diberi anugerah umur yang sangat panjang, konon sampai 135 tahun. Dengan umur yang panjang itu beliau menjadi tempat manusia untuk belajar dan bertanya. Dengan usia sepanjang itu beliau menyusun dan mengatur peradaban dan perilaku manusia. Dengan umur sepanjang itu beliau membantu merancang sistem kekuasaan di seluruh Nusantara.

Tapi beliau juga mengurus sampai hal-hal detil kecil tapi berdampak besar dalam kehidupan saat itu. Misalnya menggunakan sengkalan Bulus, atau binatang semacam kura-kura air tawar dalam simbol kerajaan Demak dan diletakkan di dalam Masjid Agung Demak. Bagi masyarakat Budha, binatang Bulus adalah binatang suci dan agung. Diletakkan di dalam masjid, tentu mengundang rasa yang lain. Membangun kedekatan dan menghilangkan jarak psikologis masyarakat Budha di saat itu.

Atau Sunan Drajat yang berperan sebagai Menteri Sosial yang ditugaskan oleh para Wali dan Sunan. Tugas beliau adalah memunculkan dan memelihara harapan di tengah masyarakat. Memastikan hal-hal berat terasa menjadi ringan jika dipikul bersama-sama. Menciptakan cara menyampaikan pesan-pesan optimisme dalam kehidupan sosial. Memotivasi masyarakat untuk saling membantu dan menolong. “Menehono iyup kanggo wong kang kudanan. Menehono mangan kanggo wong kang kaliran. Menehono busono kanggo wong kang wudho”. Berilah tempat berteduh. Berilah makan pada orang lain. Dan tutupi aurat, aib dan cela orang lain. Itulah sekelumit pola dan cara kepemimpinan Wali dan para Sunan.

By the way, familiarkah nama Menteri Sosial Republik Indonesia saat ini? Atau Menteri Riset dan Teknologi? Ayoo coba sebutkan…

Wallahu ‘Alam Bish Showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ahok Turut Berduka Atas Wafatnya Ust Fahrurozi Ishaq Karena Covid-19

Jakarta, Rasilnews - Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok turut menyampaikan dukacita atas meninggalnya Fahrurrozi Ishaq, yang dikenal sebagai 'Gubernur Tandingan'...

10 Ribu Jamaah Umrah Akan Kembali Padati Saudi Arabia Tiap Pekannya

JAKARTA, RASILNEwS - Setiap pekan sekitar 10 ribu jemaah umrah diperkirakan akan tiba di Arab Saudi mulai (1/11) mendatang. Dengan pernyataan...

California Evakuasi 100 Ribu Penduduk Akibat Kebakaran Hutan

JAKARTA, RASILNEWS - Pemerintah memerintahkan untuk evakuasi lebih dari 100 ribu penduduk akibat Kebakaran hutan yang terjadi dan bergerak cepat di...

Tebitkan Karikatur Nabi Muhammad SAW, Maroko Kecam Prancis

JAKARTA-RASILNEWS, Kementrian Luar Negri Maroko Pada Minggu Mengatakan bahwa berlanjutnya publikasi kartun yang menghina nabi merupakan aksi provokasi.

Recent Comments