Friday, October 23, 2020
Home Tajuk Rasil TAJUK RASIL "HASAN AL-BANNA DAN REVOLUSI DAKWAH KEDAI KOPI"

TAJUK RASIL “HASAN AL-BANNA DAN REVOLUSI DAKWAH KEDAI KOPI”

Tajuk Rasil,
Senin, 17 Februari 2020/ 23 Jumadil Akhir 1441 H

Seruput kopi pahit yang menjadi ciri khas pembaca berita di acara “Topik Berita” Rasil menjadi imajinasi tersendiri bagi pendengar setianya. Dan membahas kopi yang berkaitan dengan dakwah Islam mengingatkan kita pada salah satu mujahid dakwah dunia asal negeri Mesir, Hasan Al-Banna.

Sejarah mencatat dengan tintas emas seorang pejuang dan mujtahid yang awalnya sebagai seorang guru madrasah di kampung halamannya di Mesir. Namun pemikiran dan keshalihannya bisa membangkitkan umat dari kelelapan tidur yang panjang menuju cahaya Islam yang terang benderang. Semua ini, diawali dengan program pendidikan yang terarah dan berkesinambungan dengan pendekatan nurani. Hasilnya, murid dan pengikutnya tersebar di seluruh dunia dan Hasan Al-Banna dijadikan sebagai simbol kebangkitan Islam dunia.

Banyak cara dan strategi dakwah yang bisa dilakukan oleh seorang da’i. Ternyata Hasan Al-Banna terkenal juga dengan konten dakwah yang beliau serukan, dakwah yang disampaikan melalui kedai-kedai kopi, sungguh berarti sekaligus menginspirasi. Pada zamannya, dakwah lebih akrab disampaikan di tempat yang notabene merupakan kumpulan orang-orang saleh. Sementara itu, orang-orang yang dicitrakan “kurang saleh,” mungkin kalau istilah Indonesianya: abangan, yang tersebar di pasar-pasar, jalan-jalan, kafe-kafe, warung-warung, dan semacamnya, kurang mendapat sentuhan dakwah.

Kondisi demikian membuat dakwah terkesan elitis dan menjadi statis. Melihat fenomena ini, Hasan Al-Banna menangkap ketimpangan dakwah. Bagaimana mungkin dakwah akan berkembang, jika hanya disampaikan kepada orang-orang yang saleh dan rajin sholat saja. Sedangkan dalam realitanya, umat Islam kala itu sibuk dengan golongan masing-masing, fanatisme bertebaran, kolonialisme begitu mengakar, belum lagi urusan-urusan kecil lainnya yang membuat umat makin kerasan dengan kejumudan.

Dari kedai-kedai kopi, kafe-kafe, warung-warung dan semacamnya, Al-Banna menangkap potensi besar. Jika mereka tersentuh nilai dakwah, maka akan menjadi energi dahsyat yang bisa menciptakan kebangkitan umat yang kala itu sedang “bobok cantik.” Awalnya idenya diragukan, tapi pelan tapi pasti, dengan hikmah, kesantunan, ketelatenan, dan kesabarannya, dakwahnya merambah ke segenap lini masyarakat. Dari kedai kopi, Al-Banna memikat hati. Hingga ada sebutan “Revolusi Dakwah Kedai Kopi”. Diantara kepribadiannya, Hasan Al-Banna adalah figur pemersatu, cekatan dalam berkomunikasi dan bijak dalam menyelesaikan pertentangan praktik keagamaan dalam masyarakat.

Kala itu Ikhwanul Muslimin pun menjadi kuat. Kaderisasi semakin meningkat. Hasan Al-Banna berakar kuat di hati umat. Dari kedai kopi, Al-Banna mampu menangkap peluang emas yang bisa didedikasikan untuk kebangkitan. Banyak orang tua dan para pemuda yang akhirnya sadar -atas izin Allah- dengan dakwahnya. Beliau memang sosok visioner. Dari kedai kopi yang kurang dilirik, mampu melebarkan sayap-sayap dakwah yang bisa menyulut kebangkitan umat hingga ranah peradaban.

Perlu diketehui bahwa dalam usia 22 tahun, Al-Banna mendirikan organisasi yang dinamainya Ikhwanul Muslimin pada Maret 1928 di Kota Ismailiyah, zona kanal Suez yang menjadi konsentrasi pasukan pendudukan Inggris. Ismailiyah menjadi basis pertama gerakannya seiring dengan penempatan dirinya sebagai pengajar di kota tersebut.

Ikhwanul Muslimin didirikan sebagai reaksi atas kemunduran politik, ekonomi, intelektual dan sosial Mesir dan dunia Islam, maka tidak pelak, kehadirannya mengisi kevakuman dan membangkitkan kembali kesadaran politik rakyat yang berada dalam keputusasaan dengan ide revivalisme Islam untuk kebebasan, keadilan sosial dan masa depan yang lebih baik.

Ide penamaan Ikhwanul Muslimin sendiri berpijak dari keinginan sang pendiri untuk mempersatukan seluruh elemen kekuatan kaum Muslimin, membela dan mengembalikan kejayaan umat di atas prinsip persaudaraan Islam. Dalam pandangan Al-Banna, problema kontemporer umat Islam adalah karena perbedaan dan perpecahan, maka umat harus mengesampingkan segala perbedaan tersebut untuk berkhidmat kepada Islam. diantara kutipannya yang terkenal, “Mari kesampingkan penampilan dan formalitas. Jadikan prinsip dan prioritas ikatan kita karena pemikiran, moralitas dan aksi. Kita adalah saudara dalam berkhidmat kepada Islam”.

Dan 12 Februari 1949, tujuh puluh satu tahun lalu. Embusan napasnya berakhir. Berhenti akibat berondongan peluru penguasa yang pro terhadap kolonialis yang terancam. Kendati begitu, roboh raga tak ambrukkan nyawa gerakannya. Meski banyak aral dan hasad ditebar lawan-lawannya.

Wallahu ‘Alam Bish Showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ini Target Anthony Ginting dan Jonatan Christie di Asia Open

Jakarta, RasilNews - Dua tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie ditargetkan menembus final di Asia Open I dan II tahun...

Menangi Formula 1 GP Eifel, Lewis Hamilton Samai Rekor Legenda Hidup F1 Michael Schumacher

Nuerburg, RasilNews - Keberhasilan Lewis Hamilton memenangi Formula 1 GP Eifel 2020 semakin memiliki nilai plus. Hasil itu membuatnya menyamai rekor legenda...

Hasil Lengkap Liga Champions Eropa Matchday Pertama

Eropa, RasilNews - Liga Champions 2020/2021 telah dimulai, dan ada empat grup yang sudah memainkan matchday pertama terlebih dahulu dan sisa empat...

Peringati Hari Santri Saat Pandemi

JAKARTA, RASILNEWS - Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22...

Recent Comments