Wednesday, October 28, 2020
Home Tajuk Rasil TAJUK RASIL "JANGAN LUPA PERKEMBANGAN ZIONISME"

TAJUK RASIL “JANGAN LUPA PERKEMBANGAN ZIONISME”

Selasa, 24 Syawal 1441 H/ 16 Juni 2020

Berawal dari masuknya Zionis ke bumi Nusantara zaman kolonial, ketika VOC hadir melalui perdagangan dengan benderanya yang notabene representasi dari gurita perdagangan Yahudi Eropa. Diikuti penjajahan oleh Belanda yang menjadi pusat gerakan zionis kala itu. Sebenarnya ‘cengkraman’ Zionis terus berlanjut sampai ke masa Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi. Zionisme Internasional pun makin terasa hingga saat ini.

Namun, di era Orde Lama bisa dikatakan gerakan Zionis sangat terbatas. Dilihat dari beberapa faktor diantaranya sikap kebijakan Soekarno yang anti-Israel. Indikasi awal kebijakan anti-Israel muncul pada Juni 1952 ketika Kantor Berita Antara memberitakan pemerintah Indonesia tidak akan mengakui Israel karena mayoritas penduduk Indonesia Muslim. Indonesia juga mempertimbangkan dukungan negara-negara Arab semasa perjuangan kemerdekaan, yang notabene telah bersatu sikap menolak Israel. Hubungan kedua negara semakin tidak bersahabat setelah itu. Pada November 1953, Indonesia menghentikan pemberian visa masuk bagi warga negara Israel. Awalnya hanya untuk orang-orang dengan paspor diplomatik, tapi kemudian berlaku untuk semua warga negara Israel.

Menilik konferensi di Jenewa, Swiss pada November 1967. Sedikit digambarkan dalam film dokumenter karya John Pilger yang berjudul “The New Ruler of the World’. Pertemuan yang dihadiri Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik dan Menteri Ekonomi Sultan Hamengku Buwono menghadapi pengusaha besar dunia yang dipimpin konglomerat Yahudi, David Rockefeller. Sejak saat itu konsorsium perusahaan dan perbankan internasional Yahudi “berinvestasi’ di Indonesia, seperti Freeport yang pada hari ini mempunyai kekayaan sekitar 2.400 trilyun.

Bukan hanya gunung emas di Papua yang diserahkan kepada Freeport, ladang minyak di Aceh kepada Exxon, dan sebagainya. Melalui Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) tahun 1967 yang dirancang di Swiss itu, seolah menuruti kehendak para pengusaha Yahudi tersebut. Jatuhnya Orde Lama dan munculnya Orde baru dirayakan dengan penuh suka cita oleh Zionis. Bahkan Presiden Nixon menyebutnya sebagai “Hadiah terbesar dari Asia Tenggara”. Satu negeri dengan wilayah yang sangat strategis, kaya raya dengan sumber daya alam, segenap bahan tambang, dan sebagainya ini telah berhasil dikuasai dan dalam waktu singkat akan dijadikan ‘sapi perahan’ bagi kejayaan imperialisme Barat.

Zionis pun merambah bidang Militer Indonesia. Pengaruh yang demikian jelas terlihat salah satunya ketika Indonesia tahun 1980 diam-diam pernah membeli pesawat tempur Skyhawk yang dipakai israel dalam perang Enam Hari. Dan di tahun yang sama pula Indonesia dan Israel melakukan operasi klandestin yang dinamai operasi Alpha. Di kalangan TNI ini diindikasikan bahwa ada oknum-oknum yang dekat dengan unsur Zionisme.

Menurut Suripto ‘Intel Tiga Zaman’, anggota TNI yang dianggap potensial bagi kepentingan Zionis dipelihara dengan berbagai cara. Sejak era Jendral TNI (Purn) Leonardus Beny Moerdani, Jendral TNI (Purn) luhut Panjaitan, Mayjen TNI (Purn) AE Mangindaan, Mayjen TNI (Purn) TB Silalahi dan lain-lain. Di samping itu, semua perwira TNI alumni pendidikan di Amarika serikat baik yang sudah purnawirawan (termasuk SBY) dan yang masih aktif, diinventarisir dan dibina agar tetap merasa bangga dengan pengalamannya menimba ilmu di Amerika Serikat.

Sementara almarhum ZA Maulani dalam bukunya menulis bahwa Zionisme bertujuan untuk mengobok-obok landasan moral masyarakat, melakukan penyebaran pemikiran yang bertujuan untuk mengacaukan aqidah, dan menimbulkan konflik-konflik di dalam masyarakat. Sejak sebelum era reformasi, unsur-unsur Yahudi/Zionis sebenarnya sudah mempengaruhi kehidupan politik, ekonomi, social, budaya dan militer di Indonesia yang ditandai dengan berbagai indikasi yang juga berlangsung sampai kini.

Cerita berbeda juga terjadi di sektor perdagangan. Produk-produk dari israel bisa melenggang masuk wilayah Indonesia. Begitu juga sebaliknya. Aktivitas perdagangan kedua negara tetap terjalin meski keduanya tidak terikat dalam hubungan diplomatik resmi. Belum lagi gerakan menggoyang sistem ekonomi negara dan membuat ketergantungan dengan jaringan IMF dan bank dunia yang notabene bentukan zionis israel.

Melihat kenyataan kekuatan asing yang sudah mulai menjajah Indonesia. Kini Amerika bersaing dengan China yang sama-sama ingin menguras kekayaan Negara kita. Hanya saja Zionis Yahudi selalu lebih cantik mainnya, apakah mungkin melalui ‘perang dagang’?. Jauh sebelum berdirinya Negara RRC pada 1949, Zionis sudah mencanangkan One Globe One Society (satu dunia satu komunitas) dalam protocol Zionism 1776, yahudi menguasai bank, pasar, asset energy dan pangan dunia.

Fakta yang terjadi saat ini bahkan belum membahas pengaruh zionis israel dalam bidang pendidikan, kesehatan,sosial, budaya dan lain sebagainya.

Wallahu ‘Alam Bish Showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Sebanyak 12.369 Personel Gabungan Amankan Aksi Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law Ciptaker

Jakarta, Rasilnews - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan sebanyak 12.369 personel gabungan TNI-Polri dan pemerintah daerah diterjunkan...

Aqsa Working Group Ikut Serta Dukung Aksi Global Aksi Mogok Makan Untuk Pembebasan Tahanan Palestina

Jakarta, Rasilnews - Al-Aqsa Working Group (AWG) menyatakan ikut serta untuk mendukung aksi global mendukung aksi mogok makan yang dilakukan oleh...

Satgas Ingatkan Pemda Agar Tak Lengah Sikapi Zonasi

JAKARTA, RASILNEWS - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito ingatkan Pemda soal zonasi karena peningkatan zona oranye. Melihat peta...

MUI desak Presiden Perancis Meminta Maaf Kepada Umat Islam

Jakarta, Rasilnews - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas meminta Presiden Prancis Emmanuel Macron minta maaf kepada umat...

Recent Comments