• Print
close
Breaking news

JAKARTA – Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superio...read more Yogyakarta, RASILNEWS – Bencana alam di Indonesia pada tahun ini terhitung s...read more RASILNEWS, MYANMAR – Pejabat KBRI di Yangon menyatakan, proyek pembangunan...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Bazar Sya’ban 1438 akan mengangkat isu Halal Life...read more Rasilnews, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, tida...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Pemimpin Redaksi (Pemred) Kantor Berita Islam MINA,...read more RASILNEWS, CILEUNGSI – Geliat Dakwah islam di negeri seribu pagoda Thailan...read more RASILNEWS, MALAYSIA – Dua perusahaan Malaysia yang mengoperasikan pelabuha...read more RASILNEWS, JAKARTA – Koordinator Tim Pembela Ulama dan Aktivis (PUA), Eggi...read more RASILNEWS, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudd...read more

TAJUK RASIL “LEIDEN IS LIJDEN”

Tajuk Rasil 18 Okt 2017

Ibnul Qayyim al Jauzi disiksa oleh penguasa di zaman hidupnya dengan cara yang unik. Ia dipenjara sendiri, tanpa teman, bertahun-tahun dan terus menerus digerogoti sepi. Tak ada siksaan yang begitu dahsyat bagi pemikir selain situasi yang membuatnya tak bisa berpikir, atau tak mungkin menyampaikan pemikirannya. Tapi toh Ibnul Qayyim al Jauzi tak pernah berhenti berpikir. Meski ia akhirnya meninggal dalam penjara yang sepi.

Sayyid Qutb demikian pula. 12 jam dalam sehari ia dipaksa mendengar ceramah Gamal Abdul Nasser dan doktrin-doktrin para pejabat tinggi Mesir lainnya. Ia dikurung dalam sel yang sempit dengan 40 orang kriminal sebagai temannya. Secara logika, tak mungkin ia bisa menelurkan buah pikiran yang cemerlang dalam kondisi demikian. Tapi dalam kondisi seperti itu justru, master piecenya, Fi Dzilal al Qur’an lahir dan menjadi fenomena. Sebelum akhirnya tiang gantungan menjadi takdir jalannya menuju syahid.

Suatu ketika, Abdullah bin Hambal, anak dari Imam Hambali bercerita. Sebelum penjara dan siksa mendera ayahnya, setiap hari ia biasa menjumpai imam fiqih itu mendirikan shalat hingga 300 rakaat. Tapi setelah cambuk melemahkan sendi-sendinya, “hanya” 150 rakaat shalat yang ia dirikan setiap harinya. Itu hanya satu dari kegiatannya. Kegiatan yang lain, ia meneliti ribuan hadits, menelusuri satu persatu sanadnya, dan kemudian merumuskan fatwa-fatwa yang dibutuhkan umat kala itu. Saat ia meninggal, raturan ribu manusia, meruah di Baghdad. Tak hanya Muslim, tapi juga Yahudi dan Nasrani. Mereka merasa kehilangan seorang pemikir.

Kian tua zaman, seharusnya kian arif penghuninya. Tapi apa boleh buat, tak selamanya pepatah benar adanya. Kian tua zaman, yang terjadi justru, kian tak banyak orang yang berpikir, apalagi memberi fatwa. Terlalu banyak di antara kita yang lebih senang berpikir instant, daripada berpikir dalam. Dan segala sesuatu yang bersifat instant begitu diminati. Sebaliknya, keseriusan adalah melelahkan.

Ketika semua orang berebut tampuk kepemimpinan, juga sebuah sign. Sebuah pertanda bahwa jangan lagi mengharap keseriusan dan kedalaman. Sudah tak ada lagi. Sebab, tampaknya, pemimpin-pemimpin yang maju kini tak mengerti benar filosofi kepemimpinan. Leiden is lijden, begitu kata H. Agus Salim. Memimpin adalah menderita. Tapi kini yang ada adalah, memimpin dan berbahagialah.

Lijden, derita, adalah kata yang jauh dari seorang pemimpin. Jangankan menderita, melayani pun mereka sudah lupa caranya. Jika hari ini kita mendapati berpasang-pasang calon pemimpin menampilkan diri, belum tentu mereka siap menderita, juga melayani. Jangan-jangan bagi mereka, rakyat dan negara hanya berarti ekspolitasi. Sekali lagi kita harus mengurut dada, karena ini sama sekali bukan pertanda bahwa kita akan segera keluar dari kelangkaan imam yang akan memimpin kita dengan iman.

No Comments

Leave a reply

Post your comment
Enter your name
Your e-mail address

Story Page