Sunday, November 1, 2020
Home Tajuk Rasil TAJUK RASIL "MENELADANI KHILAFAH, REFORMASI BIROKRASI UMAR BIN ABDUL AZIZ"

TAJUK RASIL “MENELADANI KHILAFAH, REFORMASI BIROKRASI UMAR BIN ABDUL AZIZ”

Tajuk Rasil
Rabu, 14 Muharram 1441 H/ 2 September 2020

Masa kepemimpinan Umar Bin Abdul Aziz radiallahu’anhu sebagai khalifah hanya selama 30 bulan, tetapi selama periode singkat ini dia mengubah dunia. Masa jabatannya adalah periode paling cerah dalam 92 tahun sejarah Kekhalifahan Umayyah. tak begitu lama, namun kejayaan Dinasti Umayyah justru tercapai pada era kekhalifahannya. Setelah membersihkan harta kekayaan tak wajar di kalangan pejabat dan keluarga Bani Umayyah, Khalifah Umar melakukan reformasi dan pembaruan di berbagai bidang.

Di bidang fiskal, misalnya, Umar memangkas pajak dari orang Nasrani. Tak cuma itu, ia juga menghentikan pungutan pajak dari orang yang baru memeluk Islam atau muallaf. Kebijakan itu sangat efektif dan berhasil dalam dakwah Islam karena telah mendongkrak simpati dari kalangan non-Muslim. Sejak kebijakan itu bergulir, orang-orang non-Muslim pun berbondong-bondong masuk Islam.

Khalifah Umar pun menggunakan kas Negara (Baitul Maal) untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyatnya. Berbagai fasilitas dan pelayanan publik yang penting dan dibutuhkan dibangun, juga yang sudah diperbaiki menjadi lebih bagus. Sektor pertanian yang menjadi sumber utama ketahanan pangan terus dikembangkan melalui perbaikan dan perluasan lahan, begitupun saluran irigasi.

Sumur-sumur baru terus digali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih yang menjadi konsumsi vital kehidupan. Infrasturktur berupa jalan dengan saluran airnya di kota Damaskus dan sekitarnya dibangun. Sebagai kota yang terbilang maju di kawasan jazirah Arab, Khalifah Umar memperhatikan arus keluar masuk orang dari berbagai daerah. Untuk memuliakan tamu dan para musafir yang singgah di Damaskus, khalifah membangun penginapan dan fasilitas pendukung lainnya.

Dan yang tak terlewat dari reformasi fisik sang Khalifah adalah sarana dan prasarana ibadah seperti masjid diperbanyak dan diperindah. Dalam bidang kesehatan, pelayanan klinik atau tempat berobat bagi masyarakat yang sakit disediakan pengobatan gratis. Kekhalifahan Umar bin Abdul Azis menjamin kebutuhan para tabib atau tenaga medis dan menyediakan bahan obat-obatan. Khalifah Umar pun memperbaiki pelayanan di pos-pos pemerintahan dengan memperbanyak tenaga administrasi atau ‘kuttab’, sehingga aktivitas korespondesi (laporan dan pengaduan) berlangsung lancar.

Dengan tanggung jawab dan perhatian yang tinggi terhadap rakyatnya, Khalifah Umar bin Abdul Azis begitu dekat dihati rakyat sehingga membuat kondisi keamanan semakin kondusif. Kelompok Khawarij dan Syiah yang di era sebelumnya kerap memberontak dan membuat onar, kini berubah menjadi lunak. Umar bin Abdul Azis tak menghadapi perbedaan-perbedaan kelompok tersebut dengan senjata dan perang, melainkan mengajak kubu yang berbeda pendapat untuk duduk berdiskusi dan memberikan pelayanan.

Pendekatan persuasif itu sangat efektif dan berhasil. Sebagian besar golongan Khawarij dan Syiah ternyata menjadi taat pada penguasa dan tak memberontak. Sebagai pemimpin rakyat dan ummat, salah satu kegemilangan Umar bin Abdul Azis dalam menjaga persatuan adalah dengan melarang masyarakatnya mencaci atau menghujat Sayyidina Ali bin Abi Thalib radiallahu’anhu dalam khutbah Jum’at atau pidato. Ternyata kebijakan itu mengundang simpati kaum Syiah.

Hal itu begitu kontras bila dibandingkan dengan kekhalifahan sebelumnya yang selalu menghujat Syiah. Khalifah terdahulu menerapkan kebijakan itu untuk menjauhkan rakyatnya dari pengaruh Syiah. Khalifah Umar bin Abdul Azis telah berhasil mendamaikan perseteruan antara Syiah dan Sunni – sesuatu yang boleh dibilang hampir mustahil tercapai.

Di wilayah-wilayah yang ditaklukkan kaum Muslimin, Khalifah Umar juga mengubah kebijakan. Ia mengganti peperangan dengan gerakan dakwah Islam. Strategi itu ternyata benar-benar jitu. Pendekatan persuasif itu mengundang simpati dari pemeluk agama lain. Secara sadar dan ikhlas mereka berbondong- bondong memilih masuk Islam. Salah satu contohnya Raja Sind amat terkagum- kagum dengan kebijakan itu. Ia pun mengucapkan dua kalimah syahadat dan diikuti rakyatnya. Masyarakat yang tetap menganut agama non-Islam tetap dilindungi namun dikenakan pajak yang tak memberatkan.

Ikhwan Akhwat,,,,
Kisah kepemimpinan Umar bin Abdul Azis ini bukan rekaan dan khayalan, tapi benar-benar terjadi dan tercatat oleh tinta emas sejarah perkembangan dan peradaban Islam. Tentu saat ini kita sangat berharap ada kepemimpinan yang seperti itu. Semoga Allah meridhoi.

Wallahu ‘Alam Bish Showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Presiden Jokowi Ajak Umat Islam Teladani Akhlaq Rasulullah

Jakarta, Rasilnews - Presiden Joko Widodo mengajak umat Islam untuk meneladani akhlak terbaik Rasulullah yang patut diteladani dan sangat relevan dalam...

Ketum GP Ansor : Islam Adalah Agama Rahmah Dan Kasih Sayang

Jakarta, Rasilnews - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor H Yaqut Cholil Qoumas menegaskan, Islam adalah agama yang...

Prof Wiku : Perkembangan Penanganan Pandemi Covid-19 di Tingkat Kabupaten/Kota Meningkat Lebih Baik

Jakarta, Rasilnews - Perkembangan penanganan pandemi Covid-19 pada sebagian besar kabupaten/kota sejauh ini menunjukkan hasil yang baik.

Sebanyak 12.369 Personel Gabungan Amankan Aksi Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law Ciptaker

Jakarta, Rasilnews - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan sebanyak 12.369 personel gabungan TNI-Polri dan pemerintah daerah diterjunkan...

Recent Comments