Wednesday, October 28, 2020
Home Tajuk Rasil TAJUK RASIL "MENELUSURI BUNG KARNO KETIKA DI SUMBAR"

TAJUK RASIL “MENELUSURI BUNG KARNO KETIKA DI SUMBAR”

“Tajuk Rasil”
Selasa, 20 Muharram 1441 H/ 8 September 2020

Dalam tulisan Muslim Syam, “Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat” terbitan Islamic Centre Sumatera Barat tahun 1981. Ditarik ke belakang, masa peralihan dari Belanda ke Jepang tahun 1942, datuk Puan Sukarno alias Bung Karno, berada di Sumatra Barat selama lima bulan. Kisaran waktunya dari Februari hingga Juli 1942. Selama itu pula, untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan Bung Karno memanfaatkan waktu bertandang ke sana ke mari, bertemu dengan rakyat dan tokoh yang dipandang punya pengaruh untuk merajut nasionalisme.

Alkisah, Bung Karno berkunjung ke Perguruan Darul Funun el Abbasiyah (DFA) di Puncakbakuang, Padang Japang, yang didirikan Syekh Abbas Abdullah dengan tujuan meminta saran kepada Syeikh Abbas Abdullah tentang apa sebaiknya bagi negara Indonesia yang akan didirikan kelak, bila kemerdekaan benar-benar tercapai. Dalam pertemuan singkat itu, Syeikh Abbas memberi wejangan kepada Bung Karno soal bentuk negara yang ideal jika sudah berdiri sendiri. Dalam hal ini Syeikh Abbas menyarankan negara yang akan didirikan kelak haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,”.

Syekh Abbas, yang dikenal dengan sebutan Buya (Syeikh) Abbas Padang Japang, menambahkan kalau konsep Ketuhanan diabaikan, revolusi tidak akan membawa hasil yang diharapkan.

Fachrul Rasyid HF, yang turut menulis dalam buku tersebut, mengatakan tidak banyak orang tahu pembicaraan mereka berdua sebelum Buya Abbas mengungkapkannya tiga hari kemudian. “Di hadapan guru dan siswa DFA, usai salat Jumat di Masjid al-Abbasyiah. Syekh Abbas mengatakan kedatangan Bung Karno ke DFA untuk membicarakan konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara,” ujar Fachrul menirukan kembali cerita yang dia dapat dari keluarga Syekh Abbas dan masyarakat setempat.

Darul Funun merupakan madrasah yang cukup berpengaruh berkat kebesaran dua syeikhnya, yakni Syeikh Abbas Padang Japang dan Syekh Mustafa Abdullah. Kebesaran kedua syekh yang bersaudara ini membuat Sukarno merasa perlu ke Padang Japang Sumatera Barat, setelah bebas dari pembuangan di Bengkulu. Bukti mesranya hubungan Bung Karno dengan dua ulama tersebut berjejak dalam selembar dokumentasi foto yang diambil Said Son.

Syekh Abbas dan Syekh Mustafa adalah murid ulama Minangkabau terkemuka di Mekah, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Syekh Abbas juga kawan dekat Syekh Abdul Karim Amarullah atau Inyiak Rasul. Bersama Abdullah Ahmad dan beberapa ulama lainnya, Syekh Abbas mendirikan nama madrasah yang sama yakni Madrasah Sumatra Thawalib.

Tahun 1930, Syekh Abbas mengubah Sumatra Thawalib di Padang Japang menjadi DFA karena menolak bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Syekh Abbas sendiri kala itu bukan sekadar ulama melainkan juga panglima jihad Sumatra Tengah. Pasukan jihad ini didirikan DFA sebagai basis perjuangan menghadapi Belanda. Anggotanya adalah Hizbul Wathan dan Laskar Hizbullah. Sementara sekolah tetap menjadi basis menggapai dan mengisi kemerdekaan.

Bung Karno bertolak dari Padang menuju Jakarta di bulan Juli 1942. Selanjutnya, sebagaimana yang kita ketahui, dia menjadi lakon jelang Indonesia memerdekakan diri pada 17 Agustus 1945. Bung Karno, lalu Bung Hatta yang berasal dari tanah Minang, menjadi duo yang didaulat sebagai proklamator Indonesia. Kemerdekaan sudah terasa di depan mata. Segala persiapan pun dilakukan, utamanya mengenai ideologi dasar bagi negara Indonesia. Dalam konteks ide Ketuhanan yang ditawarkan Bung Karno, datangnya bisa saja dari pergaulan dengan ulama lain, namun juga sejarah mencatat, Buya Abbas pernah mengucap untuk Bung Karno. Pancasila merangkum 5 konsep yang menjadi pilar ideologis bangsa Indonesia.

Tokoh Sumatera Barat, Buya Mas’oed Abidin, menilai ada pemahaman yang ahistoris mempertanyakan Pancasila kepada warga Minang. Sebab, nilai-nilai Pancasila sudah lama hidup di masyarakat Sumbar. “Bukan orang Sumbar tak Pancasilais, tapi Pancasila sudah ada dalam hati orang Sumbar sejak lama sebelum merdeka. Keadilan sosial itu sudah diperjuangkan orang Sumbar saat Perang Padri menentang Belanda yangtidak adil”. Ada pepatah yang diyakini yaitu Penghulu barajo ka mufakat, mufakat barajo ka nan bana, (intinya pemimpin mengedepankan mufakat, dan mufakat itu berdasarkan kepada kebenaran, al-haq).

Nilai Pancasila lain yang dipegang masyarakat Sumbar adalah nilai-nilai toleransi, persatuan Indonesia. Menurut Buya Mas’oed, masyarakat Sumbar hidup berdampingan antarpemeluk agama. Rukun dan saling melengkapi dalam bingkai Pancasila.

Wallahu ‘Alam Bish Showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ahok Turut Berduka Atas Wafatnya Ust Fahrurozi Ishaq Karena Covid-19

Jakarta, Rasilnews - Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok turut menyampaikan dukacita atas meninggalnya Fahrurrozi Ishaq, yang dikenal sebagai 'Gubernur Tandingan'...

10 Ribu Jamaah Umrah Akan Kembali Padati Saudi Arabia Tiap Pekannya

JAKARTA, RASILNEwS - Setiap pekan sekitar 10 ribu jemaah umrah diperkirakan akan tiba di Arab Saudi mulai (1/11) mendatang. Dengan pernyataan...

California Evakuasi 100 Ribu Penduduk Akibat Kebakaran Hutan

JAKARTA, RASILNEWS - Pemerintah memerintahkan untuk evakuasi lebih dari 100 ribu penduduk akibat Kebakaran hutan yang terjadi dan bergerak cepat di...

Tebitkan Karikatur Nabi Muhammad SAW, Maroko Kecam Prancis

JAKARTA-RASILNEWS, Kementrian Luar Negri Maroko Pada Minggu Mengatakan bahwa berlanjutnya publikasi kartun yang menghina nabi merupakan aksi provokasi.

Recent Comments