Saturday, October 31, 2020
Home Tajuk Rasil TAJUK RASIL "MOTIF FIR'AUN MERUSAK NEGARA"

TAJUK RASIL “MOTIF FIR’AUN MERUSAK NEGARA”

Jumat, 20 Syawal 1441 H/ 12 Juni 2020

Fir’aun, tokoh antagonis yang paling terkenal di dalam Al-Qur’an. Ratingnya mengalahkan Abu Lahab yang menjadi musuh Nabi Muhammad. Namanya disebut 61 kali lebih banyak dari nabi Ibrahim yang disebut 56 kali dan nabi Yusuf 20 kali. Tentu, penyebutan nama sebanyak itu menunjukan pengaruh yang kuat dalam sejarah manusia.

Menurut Hatib Rahmawan, Dosen Prodi Ilmu Hadis Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan Sekretaris Pendidikan dan Kaderisasi Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dalam artikelnya, selama ini pelajaran bernegara hanya diambil dari tokoh baik, seperti nabi Musa sang pembebas dan Rasulullah Muhammad SAW sang pembangun peradaban. Sementara tokoh jahat ditinggalkan dan dicemooh begitu saja. Tulisan ini mengambil perspektif yang berbeda, yakni mengambil pelajaran dari tokoh antagonis, khususnya cara merusak negara yang diajarkan oleh Fir’aun.

Ilmu tentang bernegara yang baik sudah banyak diajarkan, tapi hanya sedikit yang ditiru oleh pemimpin negeri ini. Mungkin dengan menjelaskan cara Fir’aun merusak negara, dapat memberikan perspektif baru bagi para pemimpin di negeri ini. Jika ingin total merusak negara, dia dapat meniru langkah-langkah dan strategi Fir’aun. Namun, jika enggan dicap sebagai Fir’aun abad 21, setidaknya dia akan menghindari siasat Fir’aun yang busuk tersebut. Menghindarkan yang buruk berarti mempelajari yang baik.

Motif-motif Busuk Merusak Negara Kisah Fir’aun yang didengar, sejak kecil hingga dewasa, hanyalah seputar kejahatan, kekejaman, dan kebengisannya. Tidak banyak yang mengulas motif-motif ekonomi, politik, dan agama yang melatar belakanginya. Kalau hanya motif mimpi yang membuat Fir’aun sangat bengis, rasanya terlalu menyederhanakan persoalan.

Oleh karena itu dalam membaca Al-Qur’an, sekat-sekat dogma yang tidak jelas sumbernya harus dilepaskan terlebih dahulu. Selanjutnya, pikiran dibuka selebar-lebarnya, dengan melihat data-data sejarah yang ada. Memahami ayat-ayat sejarah, tanpa membuka data-data sejarah tidak akan menghasilkan penafsiran yang bermakna.

Dalam pelacakan penulis, setidaknya ada tiga argumentasi yang mendasari kekejaman Fir’aun, yakni: agama, ekonomi, dan politik. Pertama, motif agama. Orang-orang Mesir Kuno meyakini ada banyak dewa (polytheisme) yang mengatur kehidupan. Sejak zaman nabi Ibrahim as hingga nabi Yusuf as mengemban risalah, keyakinan tersebut mulai ditinggalkan. Nabi Yusuf as yang bertugas sebagai Perdana Menteri, berhasil menanamkan ajaran tauhid keyakinan pada Allah SWT. Namun sepeninggal nabi Yusuf as dan pergantian kekuasaan Mesir, keyakinan-keyakinan tersebut mulai ditinggalkan kembali.

Pada era Ramses II, peralihan keyakinan tersebut muncul. Entah sebabnya apa, dia memiliki keyakinan, bahwa raja adalah titisan dewa. Hanya raja yang dapat memimpin Mesir selama 40 tahun lah yang dapat dianggap keturunan dewa. Keyakinan ini kemudian diteruskan pada Merneptah ( Firaun yang tenggelam ketika mengejar nabi Musa as). Pada era Merneptah lebih parah lagi, dia bukan hanya menghapus keyakinan terhadap banyak dewa, melainkan ingin menjadi dewa tunggal penguasa dunia.

Kedua, motif ekonomi. Selain motif teologis di atas, motif ekonomi menjadi hal penting dalam kejahatan Fir’aun, bahkan faktor inilah yang kemudian mendorong terjadinya genosida terhadap bayi Bani Israil. Ini adalah kejahatan rasis pertama dan mungkin terbesar yang terjadi di dunia ini. Menurut catatan Abu Fida’ dalam ِAl-Mukhtashar fii Akhbari al-Bashra, pembunuhan bayi laki-laki Bani Israil tersebut berlangsung selama 80 tahun —terjadi dua generasi sejak Ramses II hingga Merneptah—dan ada sekitar 90.000 bayi yang telah dibunuhnya. Sungguh keji.

Namun, hal itu dilakukan Fir’aun bukan tanpa sebab, peningkatan populasi Bani Israil yang begitu pesat adalah penyebabnya. Artinya, dominasi populasi Bani Israil mengancam ketahanan negara. Itulah yang membuat Fir’aun cemas dan khawatir. Ditambah Bani Israil terkenal dengan keuletan, pekerja keras, dan perempuan-perempuannya yang tangguh. Diceritakan dalam Al-Azhar, sebelum bidan datang untuk membantu persalinan, perempuan-perempuan Bani Israil dapat melahirkan bayi sendiri dengan selamat.

Singkat cerita, di Mesir terjadi lonjakan jumlah penduduk yang berdampak pada sistem perekonomian, salah satunya kesenjangan antara pribumi (Mesir) dan pendatang (Bani Israil). Meskipun ada suku kulit hitam dari Afrika, tetapi yang menjadi sorotan adalah Bani Israil, sebab mereka mendominasi sistem perekonomian. Mereka berhasil menguasai perdagangan, industri, dan pertanian.

Ketiga, motif politik. Besarnya populasi Bani Israil yang kemudian mendominasi sektor ekonomi, dikhawatirkan juga akan merambah pada urusan politik. Apalagi keyakinan Bani Israil dengan Fir’aun berbeda. Otoritas dia sebagai titisan dewa, dengan keyakinan tauhid nabi Ibrahim as yang dianut Bani Israil, sedikit banyak akan merusak loyalitas dan kewibawaan di depan kaumnya sendiri. Inilah maksud pertanyaan dari pembesar-pembesar Fir’aun yang terdapat dalam Surah Al-A’raaf ayat 127, “Apakah kamu (Fir’aun) akan membiarkan Musa membuat huru-hara di negeri ini (Mesir)”.

kemenangan-kemenangan dalam pertempuran besar diraih Fir’aun, membuatnya semakin percaya diri untuk menguasai dunia. Mesir bersama Fir’aun menjadi imperium terbesar dengan pasukan dan persenjataan yang canggih pada waktu itu. Tanpa ada faktor ini, mungkin Fir’aun tidak akan mendeklarasikan dirinya sebagai dewa. Namun, sejarah pun mencatat keruntuhan dan kebinasaan kekuasaan Fir’aun karena kesombongan dan kesewenangannya.

Wallahu’alam bishshowwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Presiden Jokowi Ajak Umat Islam Teladani Akhlaq Rasulullah

Jakarta, Rasilnews - Presiden Joko Widodo mengajak umat Islam untuk meneladani akhlak terbaik Rasulullah yang patut diteladani dan sangat relevan dalam...

Ketum GP Ansor : Islam Adalah Agama Rahmah Dan Kasih Sayang

Jakarta, Rasilnews - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor H Yaqut Cholil Qoumas menegaskan, Islam adalah agama yang...

Prof Wiku : Perkembangan Penanganan Pandemi Covid-19 di Tingkat Kabupaten/Kota Meningkat Lebih Baik

Jakarta, Rasilnews - Perkembangan penanganan pandemi Covid-19 pada sebagian besar kabupaten/kota sejauh ini menunjukkan hasil yang baik.

Sebanyak 12.369 Personel Gabungan Amankan Aksi Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law Ciptaker

Jakarta, Rasilnews - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan sebanyak 12.369 personel gabungan TNI-Polri dan pemerintah daerah diterjunkan...

Recent Comments