Saturday, October 24, 2020
Home Tajuk Rasil TAJUK RASIL "PEMIMPIN YANG DIDOAKAN RASULULLAH"

TAJUK RASIL “PEMIMPIN YANG DIDOAKAN RASULULLAH”

“Tajuk Rasil”
Jumat, 8 Shafar 1441 H/ 25 September 2020

Sebagai pengingat bagi seorang muslim, dan memang harus terus belajar dan mengkajinya karena memang Alquran dan Hadits senantiasa relevan, sesuai dengan kemajuan zamannya. Ada sebuah riwayat hadits yang perlu jadi bahan perhatian, dan membuat kita benar-benar dalam menyikapinya.

Dalam sebuah riwayat Imam Ahmad, Dari Ka’ab bin Ujrah ia berkata, “Rasulullah SAW pernah keluar atau masuk menemui kami, ketika itu kami berjumlah sembilan orang. Dan di antara kami ada bantal dari kulit. Baginda lalu bersabda: “Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan dzalim. Barangsiapa mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akann minum dari telagaku. Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat kezaliman, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku.”

Dalam Islam, masalah imamah (kepemimpinan) merupakan bagian yang teramat penting untuk terjaminnya kemaslahatan manusia. Karenanya Islam memberikan perhatian yang sangat serius agar ia tidak jatuh ke tangan orang yang salah. Saat nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, perkara pertama yang menjadi perhatian penting adalah siapakah yang lebih berhak menjadi pengganti beliau. Baru setelah kaum muslimin sepakat atas terpilihnya Abu Bakar ra, mereka lanjutkan dengan hal penting lain yaitu merampungkan urusan jenazah Rasulullah. Atas petunjuk pemimpin baru yang telah disepakati pula tempat penguburan Rasulullah ditetapkan. Sehingga tidak ada perselisihan di antara mereka.

Saat Rasulullah SAW menyampaikan pesan tentang munculnya model baru dalam kepemimpinan, barangkali tidak terbayang seperti apa yang akan terjadi pada manusia sepeninggal beliau. Para sahabat adalah manusia-manusia bersih yang diakui kejujuran dan ketulusannya dalam mengemban amanah. Mereka tidak memiliki ambisi duniawi atau mengejar kedudukan dan kekuasaan.

Dalam kondisi seperti itu, ternyata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah menubuwatkan akan tiba atau berlangsungnya suatu zaman yang amat sangat kontras dengan apa yang disaksikan oleh para sahabat. Yakni zaman yang para pemimpinnya adalah manusia-manusia jahat, bahkan lebih jahat dari kaum Majusi.

Masa itu melewati era Khulafaur Rasyidin, hingga akhirnya tibalah apa yang disebut akhir zaman. Mendengar dan menyaksikan kebenaran nubuwat tersebut, sebagian kita menyimpulkan, boleh jadi inilah zaman yang para penguasanya berkata bukan berdasar landasan ilmu dan berbuat bukan berdasar landasan ilmu. Bagaimana bisa disebut berilmu jika mereka menolak hukum Allah dan Rasul-Nya sebagai sumber dari segala sumber ilmu. Bukankah hanya orang yang takut kepada Allah saja yang layak mendapat predikat berilmu (ulama)?.

Nampaknya, inilah zaman yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana para pemimpinnya menjadikan penjahat dan preman sebagai teman dekat. Menjadikan pembunuh berdarah dingin sebagai backing dan pada saat yang sama menjadikan para ulama sebagai objek buruan. Mereka juga melarang yang makruf dan memerintah yang munkar; pengajian dilarang sementara minuman keras di legalkan.

Inilah masa yang kita diingatkan oleh Rasulullah SAW untuk menjauhi mereka. Menguatkan keterangan hadits di atas, ada keterangan dalam riwayat lain ketika Rasulallah SAW bersabda, ”Benar-benar akan datang kepada kalian suatu zaman yang para penguasanya menjadikan orang-orang jahat sebagai orang-orang kepercayaan mereka dan mereka menunda-nunda pelaksanaan shalat dari awal waktunya. Barangsiapa mendapati masa mereka, janganlah sekali-kali ia menjadi seorang penasehat, polisi, penarik pajak, atau bendahara bagi mereka.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa menjadi penasehat mereka, pembantu mereka, dan pendukung mereka, berarti ia telah binasa dan membinasakan orang lain“. (HR. Ibnu Hibban )

Namun, kita sebagai manusia beriman juga memiliki harapan kepada Allah SWT akan adanya pemimpin di setiap zaman yang diberikan doa kebaikan oleh Rasulullah SAW. Sampai-sampai Rasulullah memohonkan ampunan, rahmat atau keberkahan untuk pemimpin tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam Hadits riwayat imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah, barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia, dan barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia bersikap lembut kepada mereka, maka bersikaplah lembut kepadanya”.

Ya, Rasulullah memberikan doa nya untuk pemimpin yang lemah lembut kepada rakyatnya. Siapa yang tak ingin didoakan secara langsung oleh Rasulullah SAW? Tentunya semua orang beriman ingin dan sangat berharap bisa didoakan Nabi Muhammad SAW.

Wallahu ‘Alam Bish Showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Israel – Hamas Saling Serang Dengan Roket

Gaza, MINA –  Juru Bicara militer Israel mengatakan, gerakan Hamas melepas dua roket ke wilayah-wilayah Israel tapi berhasil dicegah dengan senjata...

Amerika Setujui Remdevisir Sebagai Obat Covid-19

JAKARTA, RASILNEWS - Remdesivir hasil produksi Gilead Sciences Inc untuk merawat pasien Covid-19 Resmi disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika...

Dampak Covid-19 Kalahkan Krisis 98

JAKARTA, RASILNEWS - Dampak pandemi Covid-19 yang mendunia hingga saat ini dianggap lebih berat dibanding dengan krisis yang pernah terjadi di...

Angin Puting Beliung Landa Wilayah Babelan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat

Bekasi, Rasilnews - Angin puting beliung melanda wilayah Babelan Kabupaten Bekasi dan Bekasi Utara Kota Bekasi pada hari ini, Jumat (23/10)...

Recent Comments