Monday, October 26, 2020
Home Tajuk Rasil TAJUK RASIL "TNI ADALAH MILIK RAKYAT"

TAJUK RASIL “TNI ADALAH MILIK RAKYAT”

Tajuk Rasil
Selasa, 8 Oktober 2019

Pesan Jenderal Soedirman: TNI adalah Milik Rakyat
Oleh: Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo, dengan penggubahan

Tanggal 18 Desember 1945, sekitar 74 tahun lalu, saat diangkat sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat, Jenderal Soedirman berkata, “Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya. Sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapa pun juga”.

Gagasan penting lainnya dari Sang Jenderal adalah kesatuan tentara dengan rakyat yang kemudian dimunculkan dengan istilah Tentara Rakyat. Ini terilhami kenyataan bahwa tentara dengan rakyat adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Keberhasilan Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan kemudian mempertahankannya, tidaklah luput dari peran besar rakyat sebagai komponen pendukung utama. Tentara, dalam hal ini, TNI, tidak akan ada apa-apanya jika tidak memiliki sokongan kuat dari rakyat.

Saat ini, di usia TNI yang mencapai 74 tahun, pokok pikiran Jenderal Soedirman tampak sangat penting untuk diaktualkan. Di kala kekuatan militer seringkali ditarik-tarik oleh berbagai kepentingan kelompok dan golongan, berdinamika pula dengan situasi iklim politik dan pemerintahan, maka TNI harusnya tetap pada pijakan awal sebagaimana dikatakan Jenderal Soedirman.

Setidaknya ada beberapa hal yang mesti menjadi pembenahan ke dalam. Pertama, sebagai kesatuan militer dengan jiwa ‘Kartika Eka Paksi’ sebagai doktrin khususnya di tubuh TNI AD, maka semangat pengabdian kepada negara dalam segala kondisi harus terus digelorakan. Kondisi dan situasi apa pun yang terjadi tidaklah menjadi alasan untuk mengatakan kita punya kelemahan. Mencari alasan di balik kedok keterbatasan sarana prasarana, minimnya anggaran, kebijakan politik, dan sebagainya, tidaklah pantas. TNI siap dalam kondisi apapun, sekaligus menunjukkan bahwa TNI bukanlah tentara cengeng.

Kedua, kita percaya rakyat dengan segala dinamika dan kondisi lingkungannya, merupakan kekuatan besar pembentuk negara ini, sekaligus penyokong utama kehandalan TNI. Segala persoalan di masyarakat, baik masalah mata pencaharian, hak hidup, hak sosial, dan sebagainya harus dicermati secara baik. Menggali potensi lokal dan menjadikannya kekuatan bersama, harus dilakoni. Sangat tidak pantas jika TNI menjadi pengekor gerak di masyarakat, ia harus tampil sebagai pelopor dan inovator. Misalnya; Andai di suatu komunitas terdapat persoalan ketersediaan air bersih, TNI harus hadir dengan berbagai inovasinya untuk menjawab masalah, bukan justru jadi penjual air bersih.

Ketiga, dinamika sosial politik belakangan ini, menunjukkan gejala ke arah perpecahan antar anak bangsa. Kasus di Papua sebagai kasus terbaru adalah bukti konkrit. Begitu juga berbagai kasus lingkungan hidup, korupsi, persaingan politik, dan sebagainya, yang kemudian menjadi ajang caci maki di media sosial.

Pada posisi ini, TNI harus hadir sebagai komponen penyatu, perekat jalinan yang ada. Andai ada oknum anggota TNI yang menjadi provokator atau penyebab masalah, itu adalah dosa besar yang harus diberantas. Rakyat harus didahulukan, jika perlu berkorban untuk kepentingan rakyat. Siap berkorban demi rakyat, itulah TNI.

Dan sebagai bentuk lain dari keharusan sebagai komponen penyatu, adalah kreatifitas dan inovasi yang tak boleh diabaikan. Tentara (baik itu bintara, tamtama, bahkan perwira) yang hanya terjebak pada rutinitas belaka, sudah masanya dilakukan upgrade. Pelaku rutinitas seperti ini, hanya akan menyebabkan TNI jalan ditempat, terjebak pada konteks tentara adalah mesin perang, sebuah pandangan usang yang tak lagi kontekstual.

Memang dalam perkembangan sekarang, sudah banyak unsur tentara yang menunjukkan sisi kreatifitas ini, menciptakan berbagai teknologi terapan yang berguna bagi rakyat, mengedepankan semangat berbagi, melek IT, dan menanamkan pentingnya tentara di masyarakat. Tetapi, kita tidak boleh cukup puas. Inovasi dan kreatifitas tak boleh berhenti karena gerak perubahan selalu terjadi.

Semua hal di atas menjadi relevan dengan semangat yang digelorakan oleh alm. Jenderal Soedirman, sebagaimana kutipan awal tulisan ini. Sasaran utama yang ingin diraih adalah dirasakannya kehadiran tentara di masyarakat, dan dengan sendirinya masyarakat akan terpanggil dalam tugas-tugas bela negara di segala posisi. Jika ini bisa dilakukan, maka tak perlu repot-repot mobilisasi wajib militer, tapi cukup dengan munculnya semangat Indonesia adalah rumah kita bersama, itu sudah merupakan kekuatan besar.

Sementara ke luar, Indonesia dengan kesatuan angkatan perang bersama rakyat, bisa menunjukkan bahwa kita adalah negara besar dan bermartabat. Angkatan perang yang bersinergi dengan rakyat, bukan justru mengorbankan rakyat.

Wallahu alam bishawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Jelang Kedatangan Habieb Rizieq Shihab Ke Indonesia

Jakarta, Rasilnews – Beredar sebuah video di medsos yang memperlihatkan nasehat dan pesan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habieb Rizieq...

12 Duta Besar untuk Negara Sahabat Dilantik Oleh Presiden Jokowi Hari ini

JAKARTA, RASILNEWS - Presiden Jokowi Widodo melantik 12 orang duta besar  luar biasa untuk ditugaskan di Negara-negara sahabat, Senin (26/10/2020).

Manfaat Bersepeda Secara Rutin

Oleh : Suji Rahayu (Jurnalis Rasilnews) Bersepeda atau yang populer disebut gowes, adalah termasuk sebagai salah satu...

Mewujudkan Keluarga Inspiratif

Oleh : Suji Rahayu (Jurnalis Rasilnews) Harta yang paling berharga adalah keluargaIstana yang paling indah adalah keluargaPuisi...

Recent Comments