Wednesday, October 28, 2020
Home Tajuk Rasil TAJUK RASIL "UJIAN ULAMA SEJATI"

TAJUK RASIL “UJIAN ULAMA SEJATI”

Tajuk Rasil

Kamis, 29 Mujarram 1442 H/ 17 September 2020

Di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Indonesia. Akhir-akhir ini, berbagai perlakuan buruk dialami para ulama. Yang terbaru dan membuat heboh, Syekh Ali Jaber ditusuk ketika sedang ceramah di Lampung. Lengan sang ulama terluka serius sehingga harus dijahit. Sebelumnya, dalam beberapa tahun terakhir ada banyak kejadian ulama yang dipersekusi dan diintimidasi. Tak hanya individu ulama, lembaga yang menaungi para ulama yakni Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga tak luput dari tudingan dan cacian.

Perlakuan yang buruk terhadap ulama adalah kedzaliman. Islam menempatkan ulama pada posisi yang mulia. Rasulullah SAW mengibaratkan ulama sebagai lampu-lampu bumi. Artinya, ulama itu bertugas menerangi kehidupan umat dari kegelapan. Sebagai penerus para nabi, ulama bertugas melanjutkan dakwah dan menegakkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Mereka mewarisi ilmu para nabi, menjaga dan menyampaikannya kepada umat, agar senantiasa memiliki akhlak yang mulia.

Bagi suatu kaum, seorang ulama seharusnya dilindungi dan dijaga. Sebab, ulama dapat memotivasi dan membimbing umat menuju kemaslahatan hidup. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan ilmu dengan mencabutnya dari semua manusia, akan tetapi dengan menghilangkan ulama, sehingga ketika tidak ada lagi seorang alim, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Yang ketika ditanya, mereka akan member fatwa tanpa didasari ilmu sehingga fatwa akan sesat dan menyesatkan” (HR Bukhari).

Karena di negeri ini masih ada ulama yang sejati, yaitu ulama yang lebih mementingkan kehidupan umat daripada dirinya. Ulama sejati lebih mementingkan persatuan, persaudaraan, dan perdamaian dari pada perpecahan, kebanggaan kelompok, dan perselisihan. Ulama yang digambarkan dalam Alquran Surah Fathir ayat 28, Ulama sejati adalah orang-orang yang berilmu dan takut kepada Allah.

Karena itu, kewajiban umat Islam untuk senantiasa dekat dengan ulama. Dalam Quran Surah Al-Anbiya ayat 7 Allah subhanahu wata’ala berfirman, ”…Bertanyalah kepada orang yang berilmu (para ulama) jika kalian tidak mengetahuinya.” Sementara dalam sebuah riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Muliakanlah ulama’ karena sungguh mereka menurut Allah adalah orang-orang yang mulia dan dimuliakan.” (Kitab Lubbabul Hadis, Imam As Suyuthi).

Sungguh miris, jika saat ini banyak ulama yang diperlakukan buruk. Inilah jalan terjal yang harus ditempuh para ulama. Jalan dakwah yang tak pernah sepi dari ujian dan pertentangan. Pemuja kebatilan selalu berupaya memadamkan cahaya Islam. Mereka mengatur makar untuk membungkam ulama. Baik dengan opini negatif, rayuan rupiah, iming-iming jabatan/kekuasaan, maupun tindakan kasar.

Bahkan di dunia ini banyak ulama yang syahid di tangan penguasa. Namun mereka tak gentar. Para ulama adalah orang yang mewakafkan hidupnya di jalan dakwah. Lepasnya nyawa sebagai konsekuensi dakwah adalah syahid yang mereka rindu. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Terdapat dua kelompok dari umatku. Bila mereka baik, maka baik pula umatku, dan bila mereka jahat, akan rusaklah umatku. Dialah ulama dan umara.”

Dalam riwayat lain Rasulallah SAW bersabda, “Akan datang pada suatu zaman di mana mereka tidak menghormati ulama kecuali karena bajunya yang bagus. Mereka tidak mendengarkan Alquran kecuali dengan suara bagus. Mereka tidak menyembah Allah kecuali pada bulan Ramadhan. Tidak ada lagi rasa malu pada wanita mereka. Mereka tidak puas dengan bagian yang sedikit. Mereka tidak puas pula dengan kekayaan yang melimpah. Mereka berusaha hanya demi perutnya. Agama mereka adalah uang. Wanitanya menjadi kiblat mereka (arah penyembah). Dan rumah-rumah mereka adalah masjid-masjid mereka. Mereka menjauh dari ulama sebagaimana anak biri-biri lari menjauh dari serigala.”

Dalam kehidupan seperti yang digambarkan hadits tersebut, ulama seolah tak punya peran. Ulama hanya didengar jika memberi tausiyah yang menyenangkan. Namun saat ulama meluruskan yang bengkok, pemuja kebatilan pun murka dan membuat makar pada sang ulama. Sungguh tak ada akhlak!

Ini juga yang harus menjadi pelajaran bagi kita sekarang. Mungkin pantas saja kehidupan negeri kita jauh dari keberkahan, berbagai problem membelit tak kunjung selesai. Karena nasihat ulama sejati tak dijadikan sebagai solusi. Saatnya kita kembali merujuk pada Islam dan ulama sejati.

Wallahu a’lam bishshawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ahok Turut Berduka Atas Wafatnya Ust Fahrurozi Ishaq Karena Covid-19

Jakarta, Rasilnews - Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok turut menyampaikan dukacita atas meninggalnya Fahrurrozi Ishaq, yang dikenal sebagai 'Gubernur Tandingan'...

10 Ribu Jamaah Umrah Akan Kembali Padati Saudi Arabia Tiap Pekannya

JAKARTA, RASILNEwS - Setiap pekan sekitar 10 ribu jemaah umrah diperkirakan akan tiba di Arab Saudi mulai (1/11) mendatang. Dengan pernyataan...

California Evakuasi 100 Ribu Penduduk Akibat Kebakaran Hutan

JAKARTA, RASILNEWS - Pemerintah memerintahkan untuk evakuasi lebih dari 100 ribu penduduk akibat Kebakaran hutan yang terjadi dan bergerak cepat di...

Tebitkan Karikatur Nabi Muhammad SAW, Maroko Kecam Prancis

JAKARTA-RASILNEWS, Kementrian Luar Negri Maroko Pada Minggu Mengatakan bahwa berlanjutnya publikasi kartun yang menghina nabi merupakan aksi provokasi.

Recent Comments