Monday, October 26, 2020
Home Tajuk Rasil TAJUK RASIL "UTANG INDONESIA YANG MAKIN MENGERIKAN"

TAJUK RASIL “UTANG INDONESIA YANG MAKIN MENGERIKAN”

Tajuk Rasil,
Rabu, 26 Februari 2020/ 2 Rajab 1441 H

“Bayangkan situasi ekonominya jika Pemerintah gagal bayar utang, jika BUMN bank dan nonbank gagal bayar utang, jika asuransi dan dana pensiun gagal bayar. Jika terjadi gagal bayar, maka aset BUMN akan dijual ke Taipan swasta dan asing. Dan bisnis BUMN bisa diambil taipan,” demikian ungkapan pengamat ekonomi Islam, Ustazah Nida Sa’adah menyikapi utang pemerintah dan BUMN yang mencapai angka fantastis, Rp10.600 triliun! Itu data per 2019, sehingga dipastikan 2020 ini angka tersebut sudah makin bertambah.

Semua utang ini saling terkait karena pemerintah mengambil utang dari BUMN. BUMN nonbank mengambil utang dari bank-bank BUMN dan BUMN asuransi, serta BUMN Bank mengambil utang dari BUMN keuangan nonbank yakni asuransi dan dana pensiun. Situasi hari ini, pemerintah dan swasta termasuk BUMN akan menghadapi masalah besar terkait pelemahan ekonomi global dan pertumbuhan ekonomi yang rendah. Ekonomi Indonesia bisa terdampak perang mata uang, perang dagang, dan dampak wabah Corona.

Masih menurut Nida Sa’adah yang merupakan dosen dan peneliti ekonomi syariah. Inilah sebab revenue BUMN menurun, penerimaan pajak menurun, sementara utang BUMN tidak mengenal kompromi, harus dibayar. Jika dianalisis besaran utang dan posisinya yang sudah saling berkelindan, Indonesia sudah jauh terperosok dalam ‘debt trap’. Cara melepaskan diri dari situasi ini adalah berhenti berutang dan melakukan revolusi sistem keuangan negara, langkah ini diawali dengan menata ulang kepemilikan aset.

Adapun Utang luar negeri untuk pendanaan proyek-proyek adalah cara yang paling berbahaya bagi eksistensi negeri Muslim. Abdurrahman Al-Maliki, dalam bukunya ‘Politik Ekonomi Islam’ menyatakan utang antar negara menjadi jalan untuk menjajah negara yang berhutang. Baik utang yang berasal dari kawasan Barat (asing) ataupun Timur (aseng). Negara-negara Barat sebelum Perang Dunia I menempuh cara-cara memberi utang kemudian mereka melakukan intervensi menduduki negeri Islam. Sebagian besar utang yang diterima negeri Muslim tidak menghasilkan apa-apa kecuali bertambahnya kemiskinan pada negara yang berutang.

Di masa lalu, tepatnya tahun 1962. William Douglas, Hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat menyampaikan pidatonya pada pertemuan freemansory di Seattle : “Ada banyak negara yang kondisinya terus bertambah buruk akibat bantuan Amerika yang diterimanya. Sungguh para pejabat tinggi di negara-negara tersebut telah berhasil menjadi orang-orang kaya lantaran bantuan Amerika, sedang pada waktu yang bersamaan individu-individu rakyat mulai binasa karena kelaparan.

Kalaupun diasumsikan utang-utang ini digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek produktif, menerima utang saja sudah sangat berbahaya terhadap eksistensi negara. Tujuan utang jangka pendek adalah untuk menghancurkan mata uang negara pengutang dengan membuat kekacauan moneter. Adapun utang jangka panjang, maka utangnya akan menumpuk dan mengakibatkan kekacauan APBN. Lebih dari itu, utang-utang ini disertai dengan riba (interest), sedangkan riba itu haram. Allah berfirman dalam Alquran surah Al Baqarah ayat 278:“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.”

Memang seringkali muncul pertanyaan “benarkah tidak mungkin membangun negara tanpa utang dan investasi asing?”. Sementara saat ini tak satu pun negara yang tidak berutang. Bahkan Jepang, Italia, dan Inggris serta Amerika Serikat diketahui memiliki utang amat besar, 3 bahkan sampai 5 kali lebih besar daripada RI. Namun, negara-negara itu dinilai sukses mengelola utangnya untuk pembiayaan proyek-proyek pemerintah yang benar-benar mendorong peningkatan bisnis dan usaha kalangan dunia usaha dan masyarakat luas dengan keadilan.

Secara teoritis, menurut Ibnu Khaldun, dalam ‘Welfare State Islami’, pemerintah hendaknya menggunakan kekuasaannya untuk membuat fungsi pasar berjalan lancar, dengan membuat berbagai infrastruktur yang berfungsi memperlancar kegiatan ekonomi. Negara juga harus berorientasi pada kesejahteraan rakyat, memiliki kebijakan anggaran, menghargai hak milik masyarakat dan menghindari pungutan pajak yang memberatkan. Negara harus mengutamakan keadilan, pembangunan dan kemakmuran.

Indonesia sebagai sebuah negeri yang dikaruniai berbagai sumber daya alam dalam jumlah potensi yang sebagian besarnya masuk dalam peringkat sepuluh besar di dunia, semestinya bisa menjadi negeri yang makmur dan sejahtera. Terlebih lagi dengan jumlah populasi penduduk yang sangat besar, jika dikelola dengan baik semestinya juga bisa menjadi faktor penggerak perekonomian yang potensial.

Melihat skema pembayaran utang yang dimiliki Indonesia saat ini, diperkirakan Indonesia tidak akan pernah terbebas dari jebakan utang sampai kapanpun. Ini berdampak pada semakin beratnya beban yang harus ditanggung masyarakat, karena penyelesaian utang dan bunganya semakin menyerap alokasi dana APBN.

Wallahu ‘Alam Bish Showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Jelang Kedatangan Habieb Rizieq Shihab Ke Indonesia

Jakarta, Rasilnews – Beredar sebuah video di medsos yang memperlihatkan nasehat dan pesan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habieb Rizieq...

12 Duta Besar untuk Negara Sahabat Dilantik Oleh Presiden Jokowi Hari ini

JAKARTA, RASILNEWS - Presiden Jokowi Widodo melantik 12 orang duta besar  luar biasa untuk ditugaskan di Negara-negara sahabat, Senin (26/10/2020).

Manfaat Bersepeda Secara Rutin

Oleh : Suji Rahayu (Jurnalis Rasilnews) Bersepeda atau yang populer disebut gowes, adalah termasuk sebagai salah satu...

Mewujudkan Keluarga Inspiratif

Oleh : Suji Rahayu (Jurnalis Rasilnews) Harta yang paling berharga adalah keluargaIstana yang paling indah adalah keluargaPuisi...

Recent Comments