Saturday, October 24, 2020
Home Tajuk Rasil TAJUK RASIL "WALI SONGO, AKAR DAKWAH ISLAM DI NUSANTARA"

TAJUK RASIL “WALI SONGO, AKAR DAKWAH ISLAM DI NUSANTARA”

Selasa, 21 Dzulhijjah 1441 H/ 11 Agustus 2020

Memasuki syukuran 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, kita memang harus bangga atas terbentuknya Negara Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan keanekaragaman. Indikatornya dapat kita lihat dengan beragamnya etnis, suku, budaya, bahasa, dan agama yang nyaris tiada tandingannya di dunia ini.

Dengan potensi sebesar ini tentu ada harga yang harus dibayar yakni, salah satunya, dengan menjunjung tinggi sikap toleransi dalam beragama sebagaimana yang pernah diteladankan oleh Wali Songo.Sejarawan berpendapat Wali Songo merupakan tokoh muslim pertama di bumi nusantara ini.

Fakta sejarah mencatat, paling tidak ada dua peninggalan (atau warisan) untuk kita yakni; pertama, mereka berhasil menyebarluaskan agama Islam yang telah diakulturasikan dengan budaya setempat, menyebarluaskan ajaran Islam yang ramah – bukan Islam yang marah. Kedua, dalam mentransmisikan ilmu kepada muridnya dengan tingkah laku, mereka menggunakan metode belajar secara tatap muka, belajar agama dengan berguru kepada seorang kiai atau ulama itu merupakan suatu upaya menjalankan warisan tadi. Inilah prestasi yang pernah ditorehkan dan bahkan diwariskan kepada kita.

Waktu berjalan, zaman berkembang dengan kemajuan teknologi buah kembang pikiran manusia. Saat inidunia dakwah banyak muncul kehadiran da’i yang di era milenial ini disebut “ustaz virtual” (‘ulama siap jadi’ didunia virtual). Salah satu akibatnya, ulama atau kiai yang berlatarbelakang keilmuan Islam yang kokoh secara tradisional dan ‘bersanad’ misalnya dari pesantren-pesantren, kini perannya agak terpinggirkan. Ini disebabkan karena sedikit dari para kiai yang menggandrungi dunia virtual tersebut.Oleh sebab itu, mau atau tidak, para kiai yang lain harus turun gunung. Itu karena mereka hidup di era disrupsi. Era disrupsi itu sendiri secara umum dipahami sebagai fenomena ketika masyarakat mengubah aktivitas-aktivitas yang lazim dilakukan di dunia nyata namun sekarang bisa dilakukan di dunia maya (online).Inilah tantangan yang nyata.

Jika di era Wali Songo hidup atau tepatnya sebelum era disrupsi masuk ke dunia ketiga ini, maka, orang yang ingin belajar ilmu agama atau hanya sekedar bertanya masalah ini dan itu, orang rela berbondong-bondong pergi mencari dan menemui Sang Kiai di pondoknya. Akan tetapi, berbeda dengan era disrupsi ini, orang hanya cukup tekan tombol “klik” dan “search” maka “ulama google” akan menjawab semua pertanyaannya.

Sebagian hikmahnya, semangat atau ghiroh umat Islam untuk berdakwah semakin meningkat di zamanteknologi dan informasi ini. Sangat banyak ustaz yang mulai memanfaatkan media sosial untuk berdakwah.Konten-konten agama juga begitu membanjiri media daring. Namun, dalam berdakwah umat Islam kiranyaperlu mengingat salah satu nasihat Nabi Muhammad SAW ketika menugaskan salah satu sahabatnya menjadi ustaz/da’i di suatu kawasan.
Dikisahkan dalam suatu riwayat, Setelah perang Tabuk berakhir pada tahun ke-9 H dengan kemenanganberada di pihak kaum Muslimin, pada tahun ini pula Rasulullah kedatangan tamu utusan dari Yaman. Utusan ini diutus langsung oleh Raja Yaman untuk meminta Rasulullah mengajarkan penduduknya ajaran Islam dan Alquran. Diutuslah Mu’adz bin Jabal, Abu Musa al-Asy’ari, Malik bin ‘Ubadah dan lainnya pergi ke Yaman.

Nabi menunjuk Mu’adz bin Jabal sebagai Amir (pemimpin) rombongan, lalu menjelaskan kepada Muadz dua hal penting sebagai pegangan ketika berdakwah, yaitu substansi Islam dan metodologi dakwah. Nabi berkata kepada Muadz, “Wahai Muadz, berikanlah kabar gembira dan bukan ketakutan. lalu permudahlah dan jangan engkau persulit. Sungguh aku telah mengutus orang-orang yang saleh, memiliki keutamaan agama, dan keluasan ilmu.”
Dalam riwayat lain juga dituliskan, sebelum kepergian Mu’adz ke Yaman, terjadilah percakapan populer antara Rasulullah SAW dengan Mu’adz yang termaktub dalam kitab-kitab sejarah maupun hadis. Rasulullah bertanya, “Apa pedomanmu dalam memutuskan sesuatu wahai Mu’adz?” Mu’adz menjawab, “Kitabullah.”
“Jika tidak ada dalam Kitabullah?”
“Aku putuskan dengan Sunnah Rasul.”
“Jika tidak ada dalam Sunnah Rasul?”
“Aku gunakan akalku untuk berijtihad, dan aku tidak akan berlaku sia-sia.”
“Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan taufiq kepada utusanku ini yang telah diridhainya,” ungkap Rasulullah dengan wajah yang berseri-seri.
Sebuah kisah yang berisi pesan-pesan penting bagi para da’i/ustaz masa kini dalam mengemban misi suci Risalah Ilahi Robbi. Yang Allah perintahkan kepada muslim beriman sampai yaumul akhir. Jangan berhenti berdakwah, jangan lelah dan lengah, dalam keadaan lapang (merdeka) ataupun sempit (penuh ujian).

Wallahu ‘Alam Bish Showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Israel – Hamas Saling Serang Dengan Roket

Gaza, MINA –  Juru Bicara militer Israel mengatakan, gerakan Hamas melepas dua roket ke wilayah-wilayah Israel tapi berhasil dicegah dengan senjata...

Amerika Setujui Remdevisir Sebagai Obat Covid-19

JAKARTA, RASILNEWS - Remdesivir hasil produksi Gilead Sciences Inc untuk merawat pasien Covid-19 Resmi disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika...

Dampak Covid-19 Kalahkan Krisis 98

JAKARTA, RASILNEWS - Dampak pandemi Covid-19 yang mendunia hingga saat ini dianggap lebih berat dibanding dengan krisis yang pernah terjadi di...

Angin Puting Beliung Landa Wilayah Babelan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat

Bekasi, Rasilnews - Angin puting beliung melanda wilayah Babelan Kabupaten Bekasi dan Bekasi Utara Kota Bekasi pada hari ini, Jumat (23/10)...

Recent Comments