Wednesday, November 25, 2020
Home Tajuk Rasil ULAMA, TARBIYAH DAN KEBANGKITAN UMAT

ULAMA, TARBIYAH DAN KEBANGKITAN UMAT

Ulama adalah dokter dari umat Islam. Ulama yang baik dan sehat akan mengantarkan pada kebangkitan Islam.

Setelah melakukan diagnosa tentang penyakit dan golongan ulama yang tidak sehat, Hujjatul Islam Syekh al Ghazali meneruskan usahanya membangun kebangkitan Islam. Ulama yang baik, tidak saja harus diusahakan dengan cara mengobati ulama yang sudah sakit, tapi juga dengan melahirkan ulama-ulama dan murabbi-murabbi yang akan menyembuhkan umat dari kekeluan perjuangan.

Imam al Ghazali mengibaratkan ulama sebagai seorang dokter, dan bumi yang dipijak oleh sang ulama disebut sebagai rumah sakitnya. Maka, dimanapun seorang ulama berdiri maka dia memiliki kewajiban untuk menyembuhkan semua penghuni, penduduk dan alam yang didiami. Namun, sebelum melakukan apapun seorang ulama harus memastikan dirinya tidak mengidap penyaki-penyakit yang kiranya akan menambah masalah umat Islam.

Sebagian ulama hari ini, adalah ulama yang sakit. Tapi mereka tak menyadari. Bahkan lebih parah lagi, mereka tak mengakui kesakitan yang sedang dideritanya. Para ulama yang sakit ini menutupi penyakitnya dengan dusta dan mengelabui umat dengan bermacam rupa kilah. “Mereka menghibur diri dengan penyakitnya itu, agar tak terlihat kelemahannya. Mereka mengelabui umat dan menggiring kaum Muslimin kepada arah yang lebih parah, yaitu cinta dunia,” jelas Imam al Ghazali.

Andai saja para dokter-dokter ini berani jujur dan mengakui bahwa mereka terjangkit sebuat penyakit, sungguh itu adalah satu langkah penyembuhan yang bisa dilakukan. Tapi ironisnya, mereka menutupi dengan berbagai macam gincu dan kosmetik. “Kalau tidak bisa memperbaiki keadaan, maka janganlah merusak. Alangkah baiknya jika mereka diam saja dan tidak berbicara,” terang Imam al Ghazali.

Fardhu ‘ain bagi seorang ulama untuk menyembuhkan dan menjadi penawar atas semua penyakit dan kelemahan umat Islam. Para nabi dan rasul diutus Allah untuk mengentaskan kaumnya dari kegelapan menuju jalan yang terang. Mengentaskan umat dari cara hidup jahiliyah dan mengajak untuk memperbaiki akhlak dan pikiran. Maka, sudah sepantasnya ulama sebagai pewaris para nabi dan rasul mengambil tanggung jawab untuk memperbaiki umat.

Jika ulama adalah dokter, dan seluruh bumi yang dipijaknya adalah rumah sakit, maka peran umara adalah pengelola manajemen dan kepala rumah sakit. Seorang umara harus memastikan ada dokter di setiap kebutuhan. Ulama tidak hanya di kota, tapi juga di sudut-sudut desa. Ulama harus ada di pulau besar, tapi juga harus ada di pedalaman. Distribusi ulama sebagai dokter harus dijamin oleh negara dan umara sebagai pelaksananya.

Tak hanya menangani masalah distribusi dokter jiwa umat Islam, umara juga mengambil alih sebagian dari komponen umat Islam yang tidak bisa disembuhkan. Layaknya buah, tak semua mulus dan berharga. Ada beberapa buah yang busuk, dimakan ulat dan tak berguna. Pada tahap ini, umara harus berfungsi sebagai pengambil keputusan, apakah membuang buah, memotong bagian yang busuk atau mengolahnya menjadi sesuatu yang lain.

Untuk melakukan perannya, menurut Imam al Ghazali ulama terlebih dulu membekali dirinya dengan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat ini diperlukan agar dalam perjalanan, ulama tak menjadi terkooptasi atau bahkan tergoda untuk menjilat kekuasaan.

Syarat pertama, seorang ulama tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan dari ilmu yang dimilikinya. Seorang dokter tak bisa mempelajari ilmu kedokteran dengan tujuan untuk mendapatkan materi dan mengeruk keuntungan. Jika hal itu yang menjadi tujuan, maka penyakit yang sesungguhnya harus disembuhkan, tak akan pernah sembuh bahkan semakin membahayakan. Demikian juga ulama, ilmu yang dimiliki tak boleh digunakan untuk kepentingan dan tujuan materi. Syarat kedua, ulama harus menfokuskan diri untuk mempelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk akhirat dan mendorong ketaatan kepada Allah dalam kehidupan dunia. Jangan sampai seorang ulama terjebak mempelajari dan berkutat dengan ilmu-ilmu yang tidak fardhu, menghabiskan umur dan waktu namun manfaat ilmu tidak kunjung dirasakan oleh umat Islam. Umat sedang menunggu uluran tangan para ulama dan ilmuwan, jawablah pertanyaan umat dan berikanlah penerang.

Syarat ketiga, seorang ulama sejati harus terus menerus mengusir kecenderungan dunia dari dalam hatinya. Mereka senantiasa menjaga diri tak tergoda kemewahan baik dalam bentuk makanan dan minuman, pakaian dan peralatan. Ketika seorang ulama memiliki ketergantungan yang sangat tinggi pada dunia akibat kemewahan gaya hidupnya, maka ketergantungannya pada manusia juga semakin tinggi. Sebaliknya, ketergantungan seorang ulama yang seperti ini akan sangat rendah pada Allah Ta’ala. Syarat keempat, menjaga jarak dari penguasa harus juga menjadi perhatian para ulama. Bersikap hati-hati ketika bergaul dengan para penguasa dan memberikan batasan-batasan yang jelas dengan kekuasaan.

Syarat kelima, seorang ulama harus senantiasa berhati-hati dalam segala bentuk fatwa yang akan dikeluarkannya. Tak boleh seorang ulama memberi fatwa seperti membuang ludah. Mudah dan tak demikian ringan. Ingatlah wahai ulama, fatwa tak hanya untuk umat Islam, tapi juga untuk dipertanggungjawabkan di depan Rabbul Izzati, Tuhan Penguasa Alam.

Jika seorang ulama telah mampu memenuhi lima syarat ini, maka dua syarat terakhir harus pula menjadi perbekalan. Syarat keenam, seorang ulama harus terus menerus memelihara keinginan untuk bertaubat dalam hatinya. Setiap tarikan napas, setiap detak hati dan setiap desir pikiran harus mengandung semangat taubat al yaqin atau proses taubat yang benar. Dengan memelihara semangat taubat, insya Allah seorang ulama akan terpelihara pula kesehatan jiwa, hati dan juga jasmani.

Syarat ketujuh, ilmu-ilmu yang bermanfaat besar bagi umat Islam harus menjadi kajian dan perhatian para ulama yang akan menyembuhkan kaum Muslimin. Para ulama harus mencari tahu apa penyakit umat Islam dan mencari ilmu untuk menyembuhkannya. Para ulama harus menemukan apa yang menimbulkan keragu-raguan dalam diri kaum Muslimin, sekaligus mencari penawar yang mampu membangkitkan semangat umat Islam.

Jika ketujuh syarat yang diajukan oleh Imam al Ghazali di atas menjadi perhatian para ulama, insya Allah proses kebangkitan umat Islam telah menyelesaikan setengah dari perjalanannya. Meski masih banyak proses lain yang harus diteruskan, setidaknya ulama yang sehat, ulama yang kuat, ulama yang bersih dan ulama yang tidak cenderung pada duniawi telah dimiliki umat ini. Dan ulama yang seperti ini adalah ulama yang akan menjadi jangkar perahu besar umat Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ini Jadwal Liga Champions Dini Hari Nanti

Eropa, RasilNews - Matchday keempat liga Champions Rabu dini hari nanti salah satu laga serunya akan mempertumakan Paris Saint-Germain vs RB Leipzig.

Milad Sewindu YPSJ, Gub DKI Anies Baswedan Berharap Tercetak Generasi Yang Dapat Memajukan Bangsa dan Negara

Bekasi, Rasilnews – Sejarah suatu bangsa dapat dilihat dari perkembangan pendidikan yang dienyam oleh rakyatnya. Maju atau tidaknya suatu bangsa juga...

Tajuk Rasil “Sepetik Doa Kyai Dalhar untuk Indonesia”

“Tajuk Rasil”Jumat, 5 Rabiul Akhir 1442 H/ 20 November 2020 Pada 21 November 1945, suasana hampir di...

Tausyiah Rasil “Ciri-Ciri Umat Terbaik”

Oleh : Ustad Husein Alattas Firman Allah dalam surat Ali Imron ayat 110 :

Recent Comments